06. Merindu

2526 Kata
Sudah hampir tiga bulan, sejak pertemuan terkahir Sekar dan Arya di kafe Dacha. Keadaan pun sudah berubah. Sekar tak lagi bersikap sinis terhadap Arya, ia mulai menunjukkan rasa lebih bersahabat kepada pria yang kini semakin dekat dengannya. Prosesnya pun tidak selama yang ia pikir. Sejak pertemuan terakhirnya dengan Arya, pemuda itu tekun berkomunikasi dengan Sekar. Lewat media jalur telepon nirkabel, aplikasi obrolan seperti WhatsUp dan tentu saja bertatapan muka langsung. Hampir setiap tiga hari sekali mereka bertemu. Entah itu di kafe Dacha, atau di pusat perbelanjaan dan tidak jarang Arya mampir ke kantor Sekar sekadar untuk mengantarkan makanan untuknya. Seperti yang Sekar alami pertama kali pada minggu ke dua setelah mereka akrab. Telepon berbentuk kotak kaku yang terletak di atas meja kerja Sekar tiba-tiba berbunyi, saat ia sedang berusaha memikirkan alur untuk program yang ia tulis. Ia tak mengacuhkan deringan yang memekik alat dengar teman-teman kantornya, yang juga sedang fokus pada pekerjaan masing-masing. Hingga, Roni yang jaraknya paling dekat dengan Sekar, , tak tahan dengan bunyi nyaring nan cempreng yang dihasilkan.   “Woy Dan! Kamu budek apa ya?” teriaknya sambil melempar satu batang penjepit kertas ke arah Sekar. Jarak tiga meter dari sebelah kanan Sekar, tak mampu baginya untuk menyentuh tubuh Sekar secara langsung. Seketika, Sekar menjawab mesin panggilan itu dengan tangan kirinya, karena posisi mesin tersebut berada di pojok sebelah kiri. Sedangkan tangan kanannya masih menaik-turunkan jari telunjuknya pada roda kecil yang mengapit di tetikus kecil nirkabel.   “Mbak Dani, ada yang cariin namanya Arya. Mbak Dani bisa ke sini?” suara wanita dengan nada enam oktaf, sedikit sumbang menambah derita pada telinga Sekar.   “Heh? Hmm... yaudah aku ke bawah. Makasih Rin!” ucapnya seraya menutup panggilan, lalu beranjak pergi dari ruang kerjanya. Roni yang penasaran hanya mampu menggerakkan lehernya seiring langkah Sekar sambil mengerutkan dahinya yang lebar. Sedangkan tiga orang lain yang berada di dalam ruangan itu hanya melirik Sekar sekilas. Kemudian kembali pada pekerjaan mereka masing-masing.   “Kamu kok bisa ke sini? Tau dari mana gedung kantorku yang ini?” ucap Sekar sedikit ketus saat melihat Arya sedang duduk di kursi yang dikhususkan bagi para tamu. Langkahnya menuruni tangga terhenti pada pintu kaca yang memisahkan ruang tunggu tamu, serta pintu masuk menuju lantai atas tempat kerja para karyawan. Kantornya yang hanya berjarak satu lantai, membuatnya berpikir lebih efisien berjalan kaki. Dibanding harus membuang waktu, menunggu kedatangan lif yang pasti mampir ke penjuru lantai. Belum lagi di saat jam sibuk seperti ini, tentu sulit memberikan ruang kosong bagi Sekar untuk menyempil di antara tumpukan manusia di dalam kotak besi kecil yang bisa naik-turun dengan kecepatan sedang. Sekar mengambil tanda pengenal yang tergantung di lehernya. Setelah itu reporter yang sudah bisa dibilang senior itu menempelkan objek kecil tipis datar berbentuk kotak ke hadapan mesin persegi panjang kecil berwarna hitam dengan setitik lampu merah kelap-kelip di tengahnya. Seketika lampu itu berganti menjadi hijau, setelah kartu tanda pengenal Sekar tertempel beberapa detik. Sekejap, kemudian Sekar sudah berdiri di hadapan Arya yang memamerkan bungkusan besar yang ia letakkan di atas pangkuannya.   “Ini apaan?” sambut Sekar sambil menatap Arya dengan tatapan kebingungan.   “Buka aja!” ucap Arya menahan rona kegembiaraan. Sekar langsung membuka bungkusan plastik besar hitam pekat, yang diikat erat oleh Arya. Setelah berhasil terbuka, Sekar justru terbelakak akan isi di dalamnya.   “Kok kamu bisa tahu aku suka sushi dari restoran ini?” Arya hanya tersenyum lebar dan mengajak Sekar untuk duduk di sampingnya.   “Waktu itu nggak sengaja lihat bungkusan sushi itu di motor kamu! Jadi aku menyimpulkan kamu suka sushi dari restoran ini!” ungkap Arya mengenai pertemuan terakhir mereka.   “Banyak banget kamu belinya... kirain ini bungkusan apaan!” Sekar takjub saat memeriksa isi keseluruan bungkusan plastik tersebut. Terlihat lebih dari dua puluh kotak berukuran sedan yang berisi dua belas potong sushi berbagai varian.   “Sengaja, soalnya aku nggak tau kamu suka yang mana! Jadinya, aku beli semua dua-dua. Kalo ada sisa, bisa kamu bawa pulang ato bisa kamu bagi-bagiin ke temen-temen kamu!” ucapan Arya tak dapat menutupi rasa bahagia Sekar. Pipinya sempat merona, ia langsung berpaling pada bungkusan plastik tersebut untuk menutupi kecanggungan.     “Kamu sengaja ya tukar plastiknya? Soalnya restonya tuh punya plastik sendiri!” ucap Sekar sambil menutup plastik itu dan mengikatnya kembali.   “Iya, biar suprise dong! Kok diplastikin lagi?”   “Belum waktunya istirahat, ini aku cuman bentaran doang bisa ketemu kamu, gapapa kan?”   “Gapapa, kebetulan tadi aku abis ketemu klien di sana. Yaudah sekalian beliin buat kamu terus anterin ke sini, kan kalo mau ke arah kantorku dari sana, pasti lewat sini!”   “Emang kamu kerjanya di mana si?” Arya hanya tertawa senang, hal yang ia tungu-tunggu akhirnya datang. Selama ini, Sekar hanya berfokus pada dirinya, atau hal-hal menarik dalam kehidupan saat mereka bercengkrama. Ia sama sekali tidak bertanya mengenai Arya, sekan tak peduli dan tak tertarik mengenai pemuda itu.   “Akhirnya ditanyain juga! Senang deh!” “Apaan sih, lebay deh!” membuat Sekar menyadari. Selama ini ia tidak begitu peduli akan asal-usul pemuda yang sering ia temui dalam tiga bulan ini. Arya hanya tersenyum lebar menganggapi sikap protes Sekar. “Aku udah pernah bilang, kan? Kalo aku punya bisnis sendiri? Kantornya di gedung Agung Jaya, bisnisku, bisnis start-up gitu. Bikin hardware proteksi buat perusahaan, biar anti hack, virus dan juga phising. Masih prototype sih!” jelas Arya sangsi Sekar mengerti ucapannya.   “Oooh... aaah kamu anak IT ternyata! Keren-keren... yaudah tengkyu ya sushinya! Lagi ngidam-ngidamnya eh malah dibawain!” ucap Sekar sambil bangkit dan mengisyaratkan Arya untuk segera pergi dari kantornya. Seakan tak ingin lagi berlama-lama mendengarkan kisah pemuda tersebut. Ia bahkan, tidak menemani Arya untuk berjalan menuju pintu keluar, atau bahkan area parkiran.   “Tengkyu ya! Aku duluan gapapa kan?” ucap Sekar tanpa bersalah, ia bahkan sudah melangkah mundur. Padahal, posisi Arya masih duduk di atas kursi tamu.   “Gapapa, kamu balik kerja gih! Jangan lupa bagi-bagiin ke temen kamu, jangan dimakan sendiri! Bisa pingsan kamu kebanyakan makan sushi, gak muat perutnya!” ledek Arya sambil menunjuk pertu datar Sekar sambil beranjak.   “Apaan sih, yaudah aku balik kerja ya!” ucapnya langsung berbalik meninggalkan Arya yang masih berdiri canggung. Kemudian berbalik meninggalkan kantor Sekar dengan perasaan yang sulit dilukiskan.   Itu bukan untuk terakhir kalinya, Arya datang ke kantor Sekar saat ia sedang bekerja. Pernah, saat harus berada di kantor pada dini hari, Arya lagi-lagi datang membawa beberapa makanan kesukaan Sekar. Kadang juga Sekar dikirimi makanan lewat jasa pemesanan makanan daring, saat Sekar berada di kantor maupun di kantor polisi, saat ia dapat giliran untuk berjaga di sana.   Hubungan mereka juga terlihat semakin dekat. Saat Sekar untuk pertama kalinya menyetujui permintaan Arya, yang memaksanya untuk mengantarkannya berangkat kerja. Tawaran pertama langsung di tolak mentah-mentah oleh Sekar, dengan tegas dan sedikit ketus. Arya yang sebelumnya berbicara pada Sekar lewat sambungan telepon, memaksa Sekar untuk mengantarkannya. Saat ia mengetahui, bahwa Sekar harus megakhiri percakapan mereka karena Sekar harus bersiap-siap untuk berangkat kerja. Sekar langsung menolak tawaran Arya mentah-mentah dengan tegas dan sedikit judes. Kejadian tersebut hanya berselang dua hari setelah Arya mendatangi kantor Sekar untuk petama kalinya. “Apaan sih, aku bukan anak kecil. Jadi nggak usah ngatur-ngatur! Udah ya! Aku mau berangkat!” Saat itu, Sekar mendapatkan giliran tugas pada jam terakhir. Yaitu, pada pukul sebelas malam hingga tujuh pagi esok harinya. Pada jam tersebut, kebanyakan kegiatan kerja diisi dengan menulis naskah serta mengisi narasi suara pada berita tersebut yang akan ditayangkan pada program pagi hari. Berita tersebut, telah diambil sebelumnya oleh seluruh rekan kerja. Selama satu hari penuh dari pagi hingga malam hari,t sebelum jam sebelas malam. Bila ada kejadian setelah jam sebelas malam, maka berita tersebut tetap akan diliput, namun penayangannya di tayangkan esok hari. Kecuali, bila berita tersebut merupakan berita teraktual. Sehingga, bisa saja akan disiarkan secara langsung.     Tawaran menjemput Sekar bekejar oleh Arya kali kedua pun, masih mendapatkan penolakan. Walau begitu, intensitas ketegasan Sekar lebih halus. Hal itu terjadi dua hari, setelah tawaran pertama ditolak. Kali ini yang keluar dari mulut Sekar adalah,   “Nggak usah, aku udah biasa! Kamu siap-siap tidur aja, bye!”   Untuk kali ketiga masih mendapatkan penolakkan, hingga tawaran yang ke sembilan. Akhirnya, Sekar menyerah serta bersedia untuk diantarkan oleh Arya. Itu terjadi setelah dua bulan dua hari, setelah pertemuan mereka di kafe Dacha. Saat Arya berhasil mengetahui pekerjaan Sekar dan berhasil bertukar nomor Sekar. Kini, Arya sedang turun dari mobilnya. Begitu melihat Sekar keluar dari kamar kosnya dan berjalan menuju pagar. Ia memarkirkan mobilnya di seberang rumah kos Sekar, karena jalur yang akan mereka tuju searah. Dengan sigap, Arya menyeberangi jalan menghampiri pagar rumah kos Sekar untuk membantu Sekar membukakan pagar. Sekar berjalan santai, ketika melihat Arya membukakan pagar untuk dirinya. Ia sedikit tersenyum, di saat Arya sedikit kesusahan mendorong besi besar itu.   “Harus diangkat dikit dulu. Trus, rodanya dimasukin ke jalurnya, baru ditarik!” jelas Sekar begitu dirinya sudah berada tak jauh dari Arya. Atas instruksinya, Arya berhasil membuka gerbang pagar. Setelah itu, mereka berjalan bersama menyeberangi jalan menuju mobil Arya. Ini adalah pertama kalinya Sekar masuk ke dalam mobil Arya. Aroma bunga lavender bercampur vanili, menyeruak alat penciuman Sekar. Akhirnya ia menyadari dari mana asal aroma tubuh Arya, setiap kali ia berada di dekatnya.   “Jadi parfum kamu selama ini dari ini?” tanya Sekar sambil memegang botol kecil, yang menempel pada ventilasi alat pendingin ruangan di dalam mobil Arya.   “Ya nggak, aku emang suka wangi vanila dan lavender. Jadi, semua parfum badan, sabun, deodorant, parfum ruangan itu wanginya kaya gini” ucap Arya mula melajukan mobilnya.   “Pantes!”   “Pantes apa?”   “Kamu orangnya konsisten! Buktinya, kamu konsisten banget buat nganterin aku. Padahal udah aku tolak berkali-kali, ampe capek nolaknya!” keluh Sekar menyindir.   “Jadi ini terpaksa?”   “Ya... Mau gimana lagi...!” Arya hanya tertawa pelan menjawab pernyataan Sekar. Semenjak malam itu, Arya resmi menjadi supir pribadi Sekar, saat ia mendapatkan giliran untuk bekerja pada malam hari.   Kini, ikatan yang terjalin antara Sekar dan Arya sudah memasuki bulan ke lima. Tidak banyak perubahan yang terjadi padai diri Sekar, hingga satu kalimat yang keluar dari mulut Roni. Menyadarkan dirinya, bahwa Aryalah orang yang memang tepat baginya. Tatkala, Sekar lagi-lagi mendapatkan makan siang yang diantarkan langsung oleh Arya. Ia pun berbagi makanan tersebut pada Roni, yang kebetulan hanya dialah orang yang masih berada di ruang kerja mereka. Roni yang melihat kedatang Sekar langsung sumringah dan merampas bungkusan plastik bertuliskan Bebek Bakar Mewah, yang dibawa Sekar.   “Santai Pak!” ejek Sekar pada Roni yang tampak seperti orang kelaparan tiga bulan.   “Gila kamu ya! Enak banget, hampir tiap hari kita hemat makan siang gara-gara si Arya. Belum menyerah juga dia?” balas Roni, sambil mengambil bagian paha bawah bebek goreng, Arya ternyata mengirimkan Sekar bebek goreng utuh tiga ekor, lengkap dengan lalapan dan juga nasinya.   “Maksudnya?”   “Ya, selama ini kamu jutek sama dia. Cuekin dia, pas dia telpon kalo kamu lagi sibuk. Trus, belum juga kamu cuman kesannya nerima doang. Tapi nggak mau ngasih! Dia gak nyerah sama sifat egois kamu?” ungkap Roni santai sambil melahap makan siang mewahnya.   “Ya, itu kan hak ku dong! Kalo emang dia nyerah ya udah gapapa! Toh, aku gak minta dan maksa dia. Buat beliin ini itu!”   “Iya emang, biasanya juga kamu gitu! Cowok-cowok yang deketin kamu, ‘kan akhirnya pada kabur. Karena nggak mendapatkan hasil yang sesuai. Mereka nembak, kamu tolak mentah-mentah. Mana makin dicuekin lagi.  Ya, kabur lah! Tapi, ini Arya udah lima bulan lho! Dia giniin kamu. Dia belum ada nembak kamu, atau bilang suka gitu ke kamu?”   “Enggak tuh. Aku juga nggak punya perasaan apa-apa sama dia. Lagian, kalo emang dia tiba-tiba ngilang ya gapapa! Emangnya aku pikirin?” sesaat, Sekar seperti teriris atas kalimat yang ia keluarkan sendiri. Roni yang melihat perubahan raut muka Sekar langsung memojokkannya.   “Yakin?” Sekar hanya terdiam, sambil mengambil potongan bebek goreng yang kedua kalinya.   “Kok malah diem?” tambah Roni berusaha tak tersenyum atas kemenangannya.   “Ya, enggak tau lah! Ya… Pasti orang bakalan geer lah diginiin juga. Iya, aku mungkin udah ada rasa suka ama dia. Tapi, yaudah biarin ngalir aja gitu. Toh, kalo emang jodoh pasti juga bakalan jadian, ‘kan!” kalimat yang keluar dari mulut Sekar membuat Roni tertawa pecah.   “Lah, kok malah ketawa?”   “Akhirnya, seorang Sekar bisa suka sama seseorang! Nggak percaya aja. Bahkan, sama mantan-mantan kamu dulu, kamu nggak rasa suka, ‘kan?” Roni semakin memojokkan Sekar. “Kamu cuman….” Roni berhenti sesaat, menimbang. Apakah harus melanjutkan kalimatnya. “Yaaa… Kamu manfaatkan keberadaan mereka doang, ‘kan?”   “Kamu pikir aku cewek matre?!” sanggah Sekar tak terima tuduhan Roni. Ia langsung melemparkan paha bebek yang hanya bersisa tulang.   “Enggak... maksudnya, kamu memanfaatkan keberadaan mereka. Buat mengisi hari-hari kamu. Belum perhatian yang mereka berikan. Tapi, karena sifat egois dan selfish-nya kamu, mereka jadi menyerah juga. Apalagi, kalo kamu reject telpon mereka, trus ketus pas mereka nanya ini-itu. Belum lagi, kalau mereka minta kamu lakuin suatu hal buat mereka. Kamu langsung marah-marah ga jelas gitu. Ya, orang mana ada yang betah sama orang seperti itu, Dan!”   “Lho, mereka kok yang mau. Bukan aku! Toh, dari awal mereka yang ngejar-ngejar aku. Ya, aku hargai perasaan mereka. Justru, mereka harusnya berterima kasih. Pas mereka ngajakin aku pacaran, aku terima. Tapi, bukan berarti mereka mengatur hidupku dan minta aku buat mengurusi hidup mereka. Apalagi sampe nyentuh-nyentuh aku!”   “Nah! Itu juga. Namanya pacaran, ya pasti maulah meluk-meluk pacarnya. Pegangan tangan. Ciuman. Jangankan ciuman, sentuh dikit aja kamu langsung uring-uringan!” saat Sekar ingin membalas, Roni memotong omongannya terlebih dahulu.   “Iya, aku tau! kamu trauma sama kasus-kasus yang kita tanganin. Makanya, kamu semacam anti disentuh pria. Kamu bakalan mau disentuh setelah menikah. Aku ngerti Dan, tapi kan nggak harus bentak-bentak. Bisa kan jelasin pelan-pelan dan biarkan mereka ngerti alasamu.” diserang begitu, Sekar hanya mampu terdiam. “Selama ini, kamu gimana ke Arya? Dia nggak ada pegang-pegang kamu?”   “Dia nggak pernah nyetuh aku!”   “Swear!” ucap Sekar sambil menaikkan jari tengah dan telunjuk ke hadapan Roni, sedangkan sisanya tergepal.   “Wah, salut aku ama itu orang. Aku rasa, kamu harus mempertimbangkan untuk menjalin hidup sama Arya. Dia satu-satunya cowok yang betah sama kamu, Dan! Jangan sampe kamu menyesal menyia-nyiakan dia!” kalimat yang sangat tertancap di dalam hati Sekar. Hingga, membuat Sekar membuka hati pada Arya. Membuat Sekar menyadari, bahwa begitu indah saling memberi, saling memenuhi. Sejak saat itu, Sekar mulai berubah. Ia tidak hanya menerima dan memusatkan pada dirinya, ketika bersama Arya.  Sekar mulai bertanya mengenai kehidupan Arya. Juga, mulai mengirimkan balik, makanan ke kantor Arya. Serta, mulai berharap Arya menghubunginya terlebih dahulu, selalu. Bahkan, saat tak ada panggilan atau pesan dari Arya, Sekar mulai merasa cemas. Seakan ada yang kosong dalam hatinya. Sampai tak terasa, sudah memasuki bulan ketujuh perkenalannya dengan Arya. Namun sampai detik itupun, Arya belum mengucapkan kata cinta. Ataupun, ingin mengajaknya menjalani hubungan lebih serius. Sekar baru pertama kali mengalami hal seperti ini. Ia akhirnya paham, bahwa selama ini pria-pria yang mengharapkan kabar darinya, begitu tersiksa. Persis seperti dirinya kala ini, tersiksa akan merindu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN