"Kamu bisa bangunin aku dengan satu ciuman." Raffa berucap dengan mata yang masih memejam. "Daripada cuma liatin doang." Snow yang sedari tadi diam-diam mengamati wajah Raffa, kini refleks membuang muka. Wajahnya sedikit merona dengan batin yang berkecamuk menahan malu. Masih dalam posisi tidur, bibir Raffa terlihat melengkung lebar. Setelahnya, perlahan matanya mulai terbuka. Masih tampak sedikit sipit. Namun, sepertinya Raffa sudah bangun sejak beberapa menit yang lalu. "Abis mimpiin aku?" tanya Raffa. "Apa kamu selalu tau semuanya?" "Why? Kamu ngerasa terganggu?" balas Raffa balik bertanya. Snow hanya mengendikkan bahu. Setelahnya, dia menyibak selimut lalu segera turun dari ranjang. "Nggak semuanya bisa aku tau. Aku bukan Tuhan," terang Raffa. Mulut Snow masih bungkam. Tanganny

