I Want It I Want You

2015 Kata
Sasya 22 November 2018 "Yogi! Kamana wae sia*!" Aku langsung menoleh ke arah sumber suara. Itu Mas Ari memanggil Yogi. Entah setiap Yogi pulang liputan dari luar kota, orang-orang jurnalis selalu mencarinya. Dia punya pesona yang membuat orang ceria dengan kemunculannya. Aku langsung kaku, jaim, merapikan rambutku, berpura-pura tidak terjadi apa-apa minggu lalu bersama Yogi dengan harapan dia sudah melupakan hal itu. Selama seminggu Yogi ke Surabaya, aku hanya liputan di Jakarta. Selama itu pun aku terus memikirkan kejadian malam itu. Hah! Tidak akan hilang dari ingatanku seumur hidup dan aku sedikit menyesal. Oh ya ... Soal tawarannya, sepertinya aku ingin menyetujuinya untuk melakukan hal itu, tapi aku gengsi, bagaimana cara ngomongnya. Aku malah tidak sanggup melihat kehadirannya. "Hey, Sya, bengong aja." Yogi yang sedari tadi menyapa orang-orang yang mencarinya tiba-tiba sudah duduk disebelahku, memperhatikanku dengan seksama. Aku hanya membalasnya dengan senyum salting. Ya Tuhan cepat beri aku tugas liputan lagi biar aku bisa menghindar dari Yogi atau apapun. "Haduh ini OB kemana saya keburu telat kerja. Saya butuh kopi di cafe lantai dasar." Pak Chandra kepusingan sendiri memperhatikan sekitar. "Kenapa, Pak? Mau beli kopi? Saya bisa beliin ke bawah, mumpung saya agak free." Aku menawarkan bantuanku untuk sebentar menghindar dari Yogi. "Oh boleh, boleh, makasih. Anak baru ruapnya, siapa nama kamu? Sasya ya? Oke saya akan inget terus." Lumayan kan dapat sedikit perhatian dari Pak Chandra. Untung hari ini tidak ada geng julid, kalau mereka ada, aku pasti dituduh penjilat. Padahal maksudku bukan seperti itu. Yogi hanya menatapku kebingungan saat aku bersiap membeli kopi. --- Sekembalinya dari membeli kopi untuk Pak Chandra. Aku menatap Yogi dari depan pintu ruangan Pak Chandra, sedang sok sibuk mengetik laporannya. Membayangkan dirinya menyentuh setiap inci tubuhku dengan tangan besarnya itu, mencumbunya dengan bulu-bulu halus di wajahnya, dan--- Plakk! Aku menampar pelan wajahku. Refleks Yogi menoleh padaku. "Kenapa lo?" Aku hanya menggeleng sambil tersenyum kemudian kembali ke kubikelku. Yogi mencondongkan tubuhnya ke arahku."Di Surabaya gue ketemu Bu Risma, beliau memang mantap djiwa, Sya, kaya yang diberitain orang-orang." Yogi terus mengajakku bicara. Santai sekali seperti tidak ada kejadian apa-apa seminggu lalu disaat aku sedang tidak enak hati. Terpaksa aku menjawab untuk membungkam mulutnya, "oh, ibukota Surabaya? Well that's great." Dia tersenyum. "Gue diajarin bahasa Jawa di sana, coba ngobrol sama gue pake bahasa Jawa." Aku yang makin risih dengannya tingkahnya mencoba tegas. "Yogi, sekarang jam kerja, please jangan ajakin gue ngobrol, kerjain dulu sana laporan lo." Wajahnya langsung berubah masam sambil memonyongkan bibirnya. Aku mencoba memalingkan wajah untuk sedikit tertawa agar tidak terlihat olehnya. Seru juga membuatnya jengkel, wajahnya jadi menggemaskan. "Ketawa ... Ketawa ... Nggak apa-apa gue dimarahin, yang penting lo seneng." Yogi melirikku. "Jih apaan, nggak ketawa kok." Aku kembali pasang muka jutek. Sekarang dia yang tertawa sedikit kencang. "Ciee yang ketauan." Kucubit saja lengannya itu sampai dia kesakitan, untung lah setelah itu dia bisa fokus dengan kerjaannya. --- Kulihat Angga dan Lula sudah menunggu di depan ruangan jurnalis. Aku melirik jam dinding, oh sudah jam makan siang. Yogi langsung berdiri menyapa mereka berdua. "Wey lengkap juga nih berempat, lo udah balik, Gi?" tanya Lula yang diiyakan Yogi. "Ayo yuk makan di luar Berindo aja, jangan di kantin terus, bosen." Angga angkat bicara. Aku menolak ajakan mereka dengan pura-pura masih ada kerjaan dan memilih gofood. Bukan karena makan di luar kantin. Ya, untuk menghindari Yogi, aku butuh ketenangan hati. Tapi sebenarnya aku juga tidak enak dengan Angga dan Lula karena kita jarang makan berempat dengan formasi lengkap, entah aku atau Yogi yang pergi liputan. "Ayo lah Sya, kapan kita lengkap begini? Oh kalau gak mau di luar ya udah di kantin aja. Tanggal tua jadi gue paham kok," ujar Angga. "Bukan gitu, Ga. Gue masih ada kerjaan---" "Nanti gue bantuin. Serius. Yang penting lo ikut sama kita." Tiba-tiba Yogi memotong omonganku sambil menahan tubuhnya di mejaku dengan lengannya. Aku diam tak berkutik, apalagi Angga dan Lula terlihat seperti memohon. Akhirnya aku mengalah. Selama makan siang di f(x) ---tidak jadi di kantin, aku sendiri pun bosan dengan makanan kantin di kantor--- Selama makan aku lebih banyak diam yang biasanya ceria. Memperhatikan Yogi yang duduk di hadapanku sedang heboh menceritakan liputannya di Surabaya "Yogi, lo lagi cerita kok liriknya ke Sasya mulu sih," ujar Lula seraya tertawa, dia duduk di sampingku mungkin bisa jelas melihat lirikan mata Yogi yang sedari tadi memang mengarah ke arahku. "Abisnya dia diem aja daritadi. Gue jadi kepo, kenapa nih anak," jawabnya santai. Aku hanya memutar bola mataku. Baiklah, sepertinya gelagatku sudah mulai terlihat jelas, aku harus lebih chill. Dan ... Sepertinya aku harus bicara jujur soal kejadian dan tawaran Yogi seminggu lalu. Siapkan hatimu, Sya. --- Sekembalinya kami ke kantor, Angga dan Lula turun di lantai 42. Aku dan Yogi di lantai 44. Setiba di lantai 44 aku langsung menarik tangan Yogi yang masih melahap french fries ke tangga darurat. "Ngapain di sini?" Yogi bertanya lalu menunjuk wajahku. "Lo mau cium gue ya? Mau menyatakan cinta?" Aku menghela napas. "Lo masih inget kan kejadian di apartemen gue seminggu lalu?" Dia menyeringai kemudian menaruh kembali french fries ke dalam mulutnya. "Iya dong. Nggak bakal gue lupain seumur hidup gue. Oh, jangan bilang lo judesin gue hari ini karna itu? Sya, gue bilang nggagak usah dibawa hati, nggak usah dibawa pikiran, gue nggak maksa." Aku terdiam menunduk. Aku pun, bagaimana aku bisa melupakan malam itu? Kita hampir melakukannya. Dan dia bisa dengan santainya seperti tidak terjadi apa-apa sampai detik ini. Yogi mendekatkan wajahnya padaku. "Gue minta maaf lagi ya, Sya. Gue tarik lagi tawaran gue itu." Kalau kalian sobat Netflix mungkin mengenal sosok Lucifer, seperti itu lah Yogi. Dia bicara ucapannya tadi, tapi matanya seakan memancarkan hipnotis agar aku ingin jatuh ke dekapannya, ingin mengutarakan keinginan terbesarku untuk having s*x dengannya, sosok yang selalu ada dalam fantasi seksualku ketika traumaku muncul. "Nggak gitu, Gi!" cetusku membuatnya sedikit terbelalak. "Jangan tarik lagi tawaran lo." Aku menarik napas dalam-dalam. "Gue terima tawaran lo buat bantu gue puasin trauma gue. Kita fwb-an" Ekspresinya terkejut, mata terbelalak, mulut menganga, dan ini yang membuatku menahan tawa, french fries-nya jatuh tumpah ke lantai dan aku mengambilnya "Sya." Dia tertawa tak bersuara sambil memegang kepalanya. "Serius lo? Anjrit apa-apaan fwb." "Iya, kenapa? Ya udah, nggak jadi." Aku pura-pura pergi menuruni tangga dan ... Apa yang kudapat? Mas Ari dan Mbak Sarah sedang berciuman sambil meraba-raba tubuh masing-masing, di kantor! Aku menahan teriakan dengan mulutku. Yogi ikut menoleh dan segera menarik lenganku agar tidak kelihatan oleh mereka. "Apa yang barusan gue liat?!" ujarku sedikit berbisik pada Yogi. "Udah, pokoknya kita nggak usah urusin mereka. Bener kata Mbak Ajeng. Kita urusin hubungan kita aja, oke?" Aku mengusap wajahku dengan kedua tanganku. "Kita jangan kaya mereka di kantor gini ya, Gi. Bisa gawat." "Iya sayang, tapi buat soft opening boleh dong." "Hah?" Yogi mengecup bibirku dengan cepat. Aku langsung marah-marah sambil memukul d**a Yogi untuk kedua kalinya. Apa pula dia panggil sayang? Hubungan kita fwb bukan pacaran. "Yogi sialan!" teriakku sampai lupa kalau di bawah masih ada Mas Ari dan Mbak Sarah. "Loh, katanya lo terima tawaran gue. Kenapa lo sewot gue cium?" ujar Yogi sambil tertawa mengejek. Terdengar suara dari bawah. "Woy siapa di atas!!" Itu suara Mas Ari yang hendak menghampiri kami. Aku dan Yogi terkejut lalu berlari kabur dari tangga darurat. --- Malamnya, Yogi langsung ingin menginap di apartemenku. Semangat sekali astaga. Aku sudah bilang kalau aku sedang haid dan ... Kita tidak akan langsung having s*x bukan? Apalagi penetrasi. Bel pintu apartemenku bunyi. Kubuka pintu, siapa lagi kalau bukan Yogi. Dia mengangkat kantung plastik berisi bungkus martabak keju Mang Oleh dengan senyum lebar di wajahnya. Oh dan membawa tas ransel berisi ... Apa itu ranselnya kelihatan berat sekali. "Yogi gue udah bilang gue lagi dapet!" "Tapi bibir lo nggak sariawan kan?" Dia pun masuk ke kamarku dan melihat Netflix-ku menyala, "Netflix? Lucifer, gue juga nonton ini, Sya. Udah kelar season 2, ini lo masih yang season 1 ya?" Aku menghampirinya yang sudah duduk di tempat tidur sambil membawa martabaknya. "Gi, lo sadar gak sih lo tuh kaya Lucifer," kataku sambil duduk di sampingnya. "Lah berarti gue raja iblis dong?? Wah asemmm ...." Aku hanya tertawa menanggapinya. Kemudian Yogi menyandarkan kepalanya ke bahuku. Aku pun menepisnya. "Kenapa?" tanyanya. "Sorry, gue belum terbiasa, Gi. Semenjak putus sama Janu gue gak pernah berhubungan apalagi bersentuhan sama cowok." "Oke pelan-pelan aja," tukasnya seraya memegang tanganku agar lebih rileks. "Sya." Aku menoleh ke arahnya. "Boleh tau kenapa lo nerima tawaran gue ini? Selain fantasi lo adalah gue," sambungnya sambil sedikit tertawa. Jujur aku pun masih agak bingung. Pasti kalian berpikir kami terlalu cepat melakukan hubungan fwb ini. Kami baru bertemu hanya dalam waktu hampir tiga bulan. Dan entah aku sudah menaruh trust kepada Yogi seperti kawan lama.Tapi hey, kalau kalian melihat kebanyakan orang lain fwb, beberapa dari mereka langsung having s*x ketika pertama kali bertemu lalu melanjutkannya ke jenjang fwb. Lagipula jika aku tidak memiliki trauma seksual ini, aku tidak akan mau melakukannya dengan siapapun bahkan dengan Yogi sekalipun. "Maybe I put my trust on you? I don't know. Still confusing me," jawabku pada Yogi. "Thank you, Sya." Tak lama bibirnya menyentuh bibirku kemudian saling bertautan. Oh Tuhan, jadi ini rasanya yang aku rasakan ketika tidak sadar karena mabuk parah. Rasanya seperti ada kembang api keluar dari kepalaku saking aku menikmatinya. Sudah lama sekali tidak merasakan ini. Lidah Yogi mulai memainkan lidahku. Sh*t, dia sudah mahir rupanya. Namun ada sesuatu terlintas dalam kepalaku. Aku pun melepas tautan bibir kami, Yogi langsung membersihkan bibirku yang basah. "Yogi, orang di rumah gak nyariin lo? Itu ransel isinya apaan berat banget?" tanyaku sambil mendelikkan daguku ke ranselnya. "Ya baju sama laporan kerjaan gue. Rumah? Lagian nggak ada siapa-siapa di rumah." Aku menaikkan satu alisku."Oke abang lo lagi di Perancis. Ortu lo? Adek lo?" Dia hanya menjawab kalau adiknya sudah memilih kost di Depok. Untuk orang tuanya, dia belum mau menceritakannya. Wajahnya langsung masam saat kutanya hal itu. Yang pasti mereka berdua tidak akan mencari Yogi. Aku tidak enak kalau bertanya lebih jauh. "Abis ransel lo kaya orang mau pindahan." Aku mencoba mengalihkan pertanyaanku dari orang tua ke ranselnya. "Emang gue mau pindahan ke sini, gue bakal lebih sering numpang di apartemen lo, Sya. Itu belum semua gue bawa barang gue." "Hah? Gimana, gimana?" Yogi menghela napas panjang. "Kalau mau lebih gampang gue sentuh, kita harus satu atap dong, cantik." Aku menelan air liurku. Tinggal satu atap bersama Yogi? Di sini hanya ada satu tempat tidur. Berarti akan ada dirinya setiap aku terbangun dari tidur? Melihat dirinya di kantor saja sudah membuat hatiku tak karuan. Lalu? Bagaimana dengan tetangga sebelah unit studioku? Apa mereka tidak curiga dengan keberadaan Yogi? "Ya ampun mikirin amat, Sya. Tetangga sebelah lo ada berapa orang? Kayaknya dari lima unit termasuk unit lo nggak semua keisi tuh." Aku mencoba mengingat tetangga-tetanggaku. Harusnya aku ingat karena baru saja dua bulan aku pindah dan berkenalan dengan mereka. "Unit sebelah kanan ada mas-mas single yang hobi traveling jadi jarang pulang, unit depan ada kakek-nenek yang tiap weekend dijenguk sama anak-anaknya, unit kiri kosong, terakhir unit paling pojok itu apa ya? Kayaknya pasutri baru yang sama-sama sibuk ngantor." "Nah!" teriak Yogi membuatku jantungan, "kalau gitu nggak masalah. Kita tinggal urus kakek-nenek unit depan aja. Karena mereka yang sering ada di apartemen." Aku bersedekap. "Apa rencana lo?" Dia membisikkan padaku bahwa kita berdua akan mengaku sebagai suami istri sah yang sama-sama bekerja di Berindo. Aku memicingkan mataku, bisa-bisanya Yogi berencana membohongi jompo. "Ya itu sih kalau kita ke-gep aja. Kalau nggak ya nggak usah ngaku-ngaku. Toh gue juga sering ngeliput ke luar kota. Nggak setiap hari balik ke sini," ujar Yogi yang diangguki olehku. "Lo nggak bakal balik ke rumah lagi, Gi" Yogi mendengus sambil menggeleng. Aku hanya bisa diam. "Shall we do it now?" tanya Yogi santai sembari merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Aku memelototinya. Gila, aku belum siap. "Errm nanti dulu, jangan malem ini. Gue istilahnya masih panasin mesin buat beradaptasi sama lo yang bakal tinggal satu atap sama gue." Aku pun ikut berbaring di sampingnya. Kami saling menatap. "Mau gue bantu panasin?" ucapnya sambil mengelus pinggangku dan mengecup dahiku. "Nanti, Yogi. Nanti!" Aku menyingkirkan tangannya. Dia hanya tertawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN