"Mama." pekik Dheera menghampiri Mamanya saat mereka tiba di restoran dimana pertemuan keluarga yang diadakan.
"Hai sayang," sapa Mama sembari memeluk dan mencium putrinya.
"Ma," sapa Ken juga.
Mama tersenyum pada Ken. "Iya Ken. Kalian baru sampai?" tanya Mama sembari menoleh ke belakang Ken dan Dheera.
"Iya ma."
"Clara ada ke rumah kalian?" tanya Mama lagi, dengan cepat Dheera menoleh pada Mamanya.
"Gak ma," jawab Ken jujur.
"Kemana coba itu anak?" tanya Mama khawatir, khawatir Clara kabur karna tak mau mengikuti perjodohan yang diatur oleh mamanya.
"Loh Clara gak bareng mama?" tanya Dheera.
"Enggak sayang."
"Hmm, Dheera telpon Clara ya Ma, tanya dia dimana," usul Dheera.
"Iya, makasih sayang."
Dheera tersenyum singkat. Dheera merogoh tasnya mencari ponselnya, dengan cepat Dheera mencari kontak Clara dan menghubunginya. Dheera takut jika Clara berubah pikiran dan memilih untuk kawin lari dengan Arga ketimang mengikuti perjodohan dari Mama.
"Halo Dhee, kenapa?" sapa Clara begitu dirinya mengangkat telpon dari Dheera.
"Clara di mana?"
"Dijalan, gak kabur gua tenang aja," ujar Clara paham kondisi apa yang tengah dialami Dheera dan Mamanya.
"Ihhh Dheera fikir Clara ke mana! Emang Clara habis dari mana? Kok gak bareng mama perginya?" tanya Dheera beruntun.
Clara diam tak menjawab.
"Clara? Halo? Cla?" panggil Dheera berkali-kali.
"Apartemen Arga," sahut Clara.
"Kok disitu?" tanya Dheera kaget.
Flashack....
Clara mendesah berat saat ponselnya tak henti-henti berdering, sudah belasan telpon yang diabaikan Clara. Namun orang tersebut tak gentar, dia masih terus berusaha menelpon Clara. Orang itu adalah Arga.
"Andai lo gak gentar memperjuangin gua Ga kayak lo gak gentar nelpon gua sampai gua angkat telpon dari lo."
Satu dering telpon kembali mati mengikuti deringan sebelumnya. Masih sama seperti yang sebelumnya, pria itu masih tak gentar, ponsel Clara kembali berdering. Dengan rasa malas, Clara mengangkat telpon tersebut.
"Apa lagi?" tanya Clara jutek.
"Cla, please kita ketemu ya," bujuk Arga tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Apaan sih lo, nelpon orang tiba-tiba ngajak ketemu. Gak jelas banget."
"Please Cla."
"Buat apa Ga?"
"Lo mau gua perjuangin kan?" tanya Arga.
Clara diam tak menjawab. Jika mengikuti kata hatinya, tentu saja iya adalah jawaban dari pertanyaan Arga. Namun logikanya memaksa untuk menjawab tidak, karna dia yakin jika Arga tidak akan melakukan hal tersebut.
"Kita ketemu ya Cla," ajak Arga lagi.
"Lo bilang lo gak akan perjuangin sesuatu yg lo tau gak mungakin," ujar Clara mengingatkan prinsip konyol Arga.
"Ketemu dulu ya. Mau gua jemput ke rumah atau lo yang ke apart?"
"Gua aja yang ke apart!"
"Ya udah, gua t Cla,"
Clara memutusan sambungan telpon diantaranya dan Arga. Clara menghela nafas berat, bertanya apa keputusannya ini benar atau salah.
"Ga lo beneran atau cuman bikin gua bingung aja?" tanya Clara menatap layar ponselnya yang menunjukkan wallpaper yang berisi dirnya dan Arga.
Clara kembali menghela nafas panjang, dalam hati ada secerca keraguan atas ucapan Arga. sedikit banyaknya, dia meragukan Arga akan memperjuangkannya, memperjuangkan hubungan mereka. Namun layaknya manusia bodoh, Clara berdiri dari duduknya dan mengganti bajunya dan ke luar dari rumahnya, Clara melajukan mobilnya ke apartement milik Arga.
Clara diam cukup lama di depan unit apartemen Arga, keraguannya semakin besar. Clara takut jika Arga hanya akan membuatnya bingung akan situasi yang dialaminya. Tangan Clara terangkat membuka pintu unit apartemen Arga, namun dengan cepat Clara membatalkannya.
"No Cla, lo gak ada hak buat langsung masuk." batin Clara keras.
Tangan Clara kembali terangkat untuk mengetuk pintu unit apartemen Arga, kali ini tangan Clara tergantung di udara disaat Clara kembali pada keraguannya. "Kalau dia bohong gmana? Kalau dia beneran jg gmana? Kan besok pertemuan keluarga dan gua udah jawab iya," batin Clara gundah gulana.
Disaat Clara sedang berpikir tentang semua kemungkinan, tangan Clara yang tergantung di udara tak segaja berbenturan dnegan pintu membuat suara ketuakan.
"Eeehhh, gua kan belum siap mikir!" panik Clara.
Ingin rasanya Clara menghilang saat ini juga, bisa-bisanya tangannya seceroboh itu. Namun apa mau dikata, pintu unit apartemen Arga terbuka, Arga muncul dari balik pintu dan menatap Clara yang menunduk dalam. Arga menghela nafas panjang dan menarik Clara masuk ke dalam pelukannya.
"Kenapa nunduk? Gak pengen liat gua? Gak kangen apa sama gua?" tanya Arga beruntun.
Clara diam dan menangis di dalam pelukan Arga. "Kamu jahat," ujar Clara seraya memukul punggung arga. Arga diam dan mengelus rambut Clara lembut, menenangkan Clara.
"Masuk dulu ya, gak enak nangis di depan gini," ajak Arga.
Clara mengangguk pelan, Arga melepaskan pelukannya dan menuntun Clara masuk ke dalam unit apartementnya.
"Udah jangan nangis," ujar Arga mengelus sisa air mata yang ada di pipi Clara. "Mau minum apa?" tanya Arga setelahnya.
Clara menggelengkan kepalanya.
"Jadi gak minum? Gak haus?" tanya Arga.
"Aku gak butuh minum, aku butuhnya kamu, aku butuh kepastian!"
Arga diam dan menatap Clara dalam. Melihat diamnya Arga, Clara menyeringai singkat. "Masih gak bisa ya?" tanya Clara.
"Cla ... "
"Kamu tau jawaban yg aku mau? Kalau kamu mau ngomong yg lain, gak usah Ga, karna percuma. Aku gak mau dengar," ujar Clara menatap Arga dengan tatapan dalam.
Arga diam sejenak sebelum kembali berbicara. "Gua takut Cla, gua takut kalau yang gua perjuangin ujung-ujungnya sia-sia. Makanya gua gak mau berjuang," ujar Arga menjelaskan.
"Ga, kamu tau aku. Aku tau kamu, tapi ... "
Clara kembali menangis, membuat Arga kembali terdiam. "Ga, aku ke sini bukan buat dengar ini," ujar Clara disela tangis nya.
"Cla, kalau gua jadi orang tua lo, gua juga gak mau anak gua makan dari hasil bar."
"Tapi kan kamu ... "
"Lebih parah itu kan? Gua yang punya bar nya."
"Jadi gunanya aku ke sini apa? Buat liat kamu biarin aku pergi gitu aja tanpa berjuang?"
"Pasti orang yang dijodohin sama lo lebih segalanya dibanding gua," ujar Arga merendah.
"Arga ... "
"Gua mau perjuangin lo, sangat. Tapi gua bimbang Cla, gua takut gak sebanding sama orang yang dipilih sama orang tua lo."
"Arga gua gak butuh materi," sahut Clara menatap Arga.
"Di mulut Cla, semua orang pengen hidup yg berkelebihan. Gak ada orang yang mau cuman berkecukupan apalagi kekurangan."
Clara diam menatap Arga. "Gitu gua di mata lo?" tanya Clara dengan nada terhatan.
"Enggak, bukan."
"Oke. Jadi intinya, kamu mau perjuangin hubungan kita apa enggak? Kamu mau perjuangin aku atau enggak?" tanya Clara.
Arga diam.
"Besok pertemuan keluarga, kata mama sekalian tunangan. Aku tunggu jawaban kamu sampai besok," ujar Clara lagi sembari berdiri dari duduknya.
"Mau kemana?" tanya Arga.
"Pulang lah!"
"Di sini aja ya," pinta Arga.
"Di sini juga buat apa? Buat makan hati ngeliat lo yang gak mau perjuangin gua" tanya Clara sarkas.
"Please Cla," mohon Arga dengan nada melas.
Clara menghela nafas panjang setelah menatap Arga lama lalu mengangguk mengiyakan permintaan Arga. Dengan ini Clara tau, jika dia ternyata masih sangat menyayangi pria yang tidak mau memperjuangkannya ini.
Clara tersentak kaget saat Arga menariknya dan memeluk tubuh Clara.
"Aku kangen, 2 minggu kita gak ketemu. Kamu bahkan gak mau ngangkat telpon aku," ujar Arga dengan nada lembut.
Clara hanya diam dan menatap Arga begitu juga dengan Arga yang menatapnya. Keduanya bertatapan cukup lama mereka saling bertatapan sampai akhirnya Arga mencium bibir Clara lembut. Clara membelalak lebar.
"Gua gak tau ini salah apa enggak, tapi Ga jujur. Gua kangen lo, gua kangen ini, gua kangen kita."
Arga masih melumat bibir Clara menunggu balasan.
"Ma, maaf. Clara benar-benar bimbang." batin Clara lagi.
"Gua gak mau ngelepas lo tapi gua gak bisa nahan lo disisi gua lebih lama," batin Arga.
Arga melepaskan ciumannya dengan Clara, ciuman lembut dengan segudang pikiran mereka masing-masing.
"Cla, gua ... "
"Apa?" tanya Clara cepat memotong ucapan Arga.
Arga diam sembari menunjuk bawah perut Clara, area sensitif Clara.
"Gila apa lo! Lo aja gak jelas mau perjuangin gua apa enggak!" cerca Clara kesal.
Arga diam dan menundukkan kepalanya, merasa bersalah. "Tapi kan, gua kangen lo," ujar Arga lagi.
"Kangen gua apa kangen hs?"
"Kangen hs sama lo," ujar Arga tersenyum lebar pada Clara.
Clara menghela nafas panjang. "Heran gua, kenpa gua mau sama cowok m***m kayak lo!" cerca Clara mendorong Arga menjauh dari dirinya.
Flashoff...
"Jadi Clara sama Arga perginya?" tanya Dheera setelah mendengar cerita Clara.
"Iya."
"Arga ikut masuk ke dalam?" tanya Dheera hati-hati.
"Ya enggak lah, nyari mati itu namanya. Gak gila gua Dhee,"
"Kalau gitu ngapain pergi bareng Arga?" tanya Dheera bingung.
"Ngantar doang."
"Oohh gitu, buruan kesini. Mama udah ngomel-ngomel," desak Dheera.
"Mama atau elo?"
"Mama Cla."
"Yayaya, bentar lagi nyampek kok. Udah deket ini," ujar Clara setelah memastikan posisinya yang sudah tidak jauh.
"Okedeh, Udah ya. Bye!" pamit Dheera sembari memutuskan sambungan telponnya.
"Belum juga gua jawab iya, udah dimatiin aja!" kesal Clara menatap ponselnya.
"Siapa? Dheera ya?" tanya Arga memastikan.
"Iya," ujar Clara menganggukkan kepalanya.
"Gak heran sih, bumil sebijik itu aneh."
"Bilang Dheera ah," ujar Clara menggoda Arga.
"Jangan lah, bisa diamuk aku nanti."
"Biarin jaa."
"Kok?"
"Habis lo gak jelas! Gua minta di perjuangin, malah ngajak backstreet lagi."
"Pelan-pelan Cla."
"Keburu dipaksa nikah iya!"
"Jangan mau lah."
"Kan dipaksa mana bisa nolak!"
"Gimana kalau kita kabur aja?"
Clara meloto tajam pada Arga, tak habis pikir dengan ide Arga yang tidak masuk akal.
"Bercanda Cla," ujar Arga mengelus wajah Clara lembut.
"Tau ahh! Awas aja lo beneran ngajak gua kabur!"
Clara kembali melotot tajam saat Arga menggedikkan bahunya dan berkata tidak akan janji untuk melupakan ide buruknya barusan.