“Ainun!” Sarah menyentuh pundak Ainun karena Ainun sedari tadi tidak merespon pertanyaannya. Ainun mendongak menatap wajah Sarah yang kini terlihat khawatir. Ainun menghela nafas pelan. “Sarah, aku lupa tadi aku beli ubi cilembu.” “Hadeuh kok jadi ubi cilembu sih? Nun, lo nyembunyiin apa dari gue?” “Enggak ada kok.” Elak Ainun kini sibuk mengambil bungkusan di meja makan dan menata ubi cilembu yang masih hangat di atas piring. Sarah menghampiri Ainun dengan wajah jengkel. “Aku tahu kok lo nyembunyiin sesuatu dari gue! Ainun, kita ini sahabat kan?” Ainun membalikkan tubuhnya, ekspresinya sangat datar bahkan Sarah yang tadi masih ingin mengomel mendadak terdiam. “Rezky… teman sekelasku,”

