Up setiap hari masih kurangkah?
hehhe
eh enggak setiap hari juga deng, kalau weekend aku kadang suka lupa buat up.
maklum ya kalau dengar weekend pengennya selonjoran, nonton TV
mudah2an april bisa konsisten update tiap hari amin.. amin..
biar cerita ini tamat dan bersiap dengan yang baru2 yuhuuuu
...
selamat membaca kesayangan!!
Jian Li yang baru keluar kamarnya melihat Christian yang sedang menonton TV sambil berbaring di sofa. Merasa sedang bosan sendiri, Jian Li menghampiri Christian dan menepuk pundak pria itu agar menggeser posisinya untuk duduk.
“Belum tidur, Li?”
“Enggak bisa tidur, Ko.”
Christian melirik HP yang sedang dipegang Jian Li dan menyeringai. “Udah tidur kali Li jam segini mah.”
Jian Li menyimpan HPnya di atas meja dan setengah membaringkan tubuhnya di sofa, sementara Christian kembali mengambil selimut yang sempat terjatuh ke bawah.
“Koko kenapa enggak tidur di kamar?” tanya Jian Li, Christian memang menginap di rumahnya semalam dan biasanya pria itu akan tidur di kamar tamu yang letaknya di lantai atas.
“Lagi pengen nonton TV, di kamar TVnya rusak.”
“Hmmm… Lili ikut tidur di sini ya,”
Christian mendengus. “Sempit Li,” protes Christian namun gadis itu tidak mendengarkan dan dengan cuek mengambil selimutnya. Untung saja sofa yang berada di ruang tengah merupakan sofa bed sehingga tidur berdua tidak sempit.
“Lili enggak mau tidur sendiri Ko, kamar Mami biasanya dikunci.”
“Lo tuh ada masalah pasti aja bikin gue repot. Kenapa sih sama Kahfi?”
“Emangnya Lili bilang lagi ada masalah sama Kahfi apa?”
Christian tertawa kecil. “Enggak perlu bilang, di wajah lo udah tertulis kalau lo galau sama Kahfi kan?”
Jian Li menepuk pelan lengan Christian.
"Jadi, kamu sama Kahfi gimana rencana ke depannya?" tanya Christian
"Kita rencana mau daftar kuliah bareng sih,"
"Lalu?"
Jian Li menghela napas, ia melirik kembali HPnya yang masih tidak ada perubahan apa-apa dan menatap sepupunya dengan lesu. "Lili ingin bareng-bareng dengan Kahfi, tapi kami terhalang perbedaan..."
"Bukannya enggak apa-apa ya menikah dengan yang tidak seiman? gue suka lihat artis-artis laki muslim nikah sama yang non muslim, itu kayak siapa sih.. Dimas Anggara sama si nadine, mantan putri Indonesia."
Lili tertawa. "Ya ampun.. koko kok bisa hapal sih?"
"Jangan salah, si Dimas ini pernah ikut travelling bareng sama grup backpacker gue!"
"Hooo dikirain!” Jian Li menghela nafas dan kembali melanjutkan. “Lili ingin punya pasangan yang satu ajaran Tuhan Ko, yang sama-sama saling mendukung, bareng-bareng ibadah di Gereja, ngerayain natal bareng dan banyak banget mimpi Lili!"
"Yah kalau begitu, lo harus putus sama Kahfi. Kalian meyakini iman yang berbeda li, enggak usah di bawa pusing. atau antara lo dan Kahfi harus mau pindah."
"Lili mencintai Tuhan Yesus, Ko." ucap Lili tanpa sadar memegang gelang salibnya.
"Dan apakah Kahfi tidak mencintai Tuhannya?"
"Kahfi tidak pernah meninggalkan shalatnya walaupun dalam keadaan apapun, bukankah itu berarti dia mencintai Tuhannya?"
Christian merasa matanya mulai berat, namun pria itu masih merespon dengan suara parau "Mungkin ini hal sepele, tetapi dari sekarang lo harus obrolin ini sama Kahfi. Hidup itu terus berjalan, Li! lo cewe, jangan mau digantung."
"Lili takut hasil akhirnya enggak sesuai harapan Lili, Kak."
"Itu resiko. Sudah tau berbeda, tapi masih nekad juga walaupun lo enggak pacaran tapi tetap aja kalian ada sesuatu yang mengikat."
"Koko engga paham cinta sih?"
"Halahh.. cinta, apa itu cinta? cuma perasaan galau, sedih.. gitu aja terus bahagianya cuma seucret!"
Lili menepuk lengan sepupunya. "Sekarang aja Koko bilang gitu, tapi nanti.. hmm.."
"Haduh... Li, usia gue udah enggak cocok buat cinta-cintaan macam kamu ini. Gue udah mau 30 tahun,"
"Nikah dong Ko.."
"Susah cari jodoh yang cocok,"
"Koko mah dari dulu juga pemilih banget, malah sampai sekarang Lili enggak pernah lihat Koko bawa perempuan,"
"Yah... emang belum,"
"Lili doakan semoga Koko dipertemukan wanita pilihan Tuhan biar Koko merasakan yang namanya jatuh cinta."
"Gue harus mengaminkan enggak?"
"Harus dong, Ko.."
"Yah amin deh..."
Lili tersenyum senang. "Oh iya, Koko di sini sampai kapan?"
"Cuma dua bulan, soalnya gue harus ngerjain tesis."
"Yah enggak lihat Lili wisuda dong?"
"Nanti video call,"
“Ko,” panggil Jian Li namun kini yang terdengar suara dengkuran Christian dan Jian Li kini sadar jika Christian sudah tertidur di sampingnya.
…
“Makasih ya Kak udah anter Lili ke sekolah. Sering-sering ya anternya, lumayan bisa pakai mobil hehehe.”
“Lo kan ada mobil, sim juga udah jadi kan.”
Jian Li berdecak. “Malas ah, di sini macet.”
Christian terkikik, ia tahu macet bukanlah alasan utama. Jian Li sebenarnya hanya ingin pulang diantar sang pujaan hati. Cih, anak alay!
“Jian Li!”
Jian Li berbalik dan menemukan Ruth serta Deeva yang sedikit berlari menghampiri dirinya dan Christian.
“Jian Li, Mas ganteng itu siapa? Eh perasaan kemarin juga ke sini kan jemput kamu? Selingkuhan ya?” tanya Deeva terang-terangan.
“Ini Kakak sepupu gue, Koko Christian.”
“Aaahh ganteng pisan! Mirip actor drakor ya Deev,”
Jian Li menyeringai. “Hadeuh sipit dikit dibilang mirip artis korea. Dasar…!”
“Yah namanya juga resiko jadi ganteng, kalian cepatan masuk sebelum pintu gerbang di tutup. Lili, lo bisa pulang sendiri kan? Eh lupa, ada yang anter ya.”
Wajah Jian Li merona. “Apaan sih, kalau pun enggak ada yang anter Lili juga bisa kali pulang sendiri. Hati-hati di jalan Ko!”
Begitu Jian Li dan kedua temannya masuk ke dalam sekolah, Christian masuk ke dalam mobil. Ketika sedang mengecep map tujuannya di HP, matanya terpaku pada seorang gadis berjilbab yang baru saja datang terburu-buru.
Christian menatap intens gadis itu melalui kaca spion mobilnya dan membuka jendela mobil agar bisa melihat lebih jelas.
Walaupun hanya melihat dari pinggir, Christian tahu jika gadis itu memiliki paras yang cantik dan membuatnya merasa penasaran.
Sepertinya ia harus bertanya pada Jian Li, siapa tahu Jian Li mengenalnya.