Di ruang makan malam. Rita dan Rian, menatap penuh tanya ke arah Airin yang sedari tadi asik mengaduk makan malamnya yang masih terlihat utuh. Kebiasaan yang sering Airin lakukan, jika hatinya sedang tidak baik-baik saja. Sepanjang makan malam, tidak ada banyak kata yang ke luar dari bibirnya. Ia hanya menjawab singkat ketika ditanya. “Nggak enak, makanannya? Kok, dari tadi diaduk doank? Kenapa, huem?” tanya Rita, merasa putrinya sedang memiliki masalah. Rita sudah bisa menebak, saking hapalnya tabiat sang putri. Sepanjang kepulangannya tadi sore, dari apartemen Albima. Airin tidak bisa melupakan kata terakhir Albima. Kata terakhir yang seharusnya membuat dirinya senang, namun malah menjadi sebaliknya. Airin menggeleng lemah. Ingin berkata jujur, tapi masih ragu. Al hasil, ia hanya mem

