Beruntung jarak yang tidak begitu jauh membuat mereka kini sudah sampai di sekolah PAUD Permata Bunda bangunan berlantai 1 di depannya ini benar-benar terlihat sangat nyaman dan asri, area yang di hiasi dengan aneka pepohonan hampir di setiap sudut memberi kesan rindang dan adem apalagi bunga warna warni bertebaran dimana-mana menyejukkan mata, halamannya cukup luas, banyak arena permainan anak-anak di sekolah ini. Sontak membuat Raka yang sejak turun dari atas motor melangkah dengan wajah berbinar.
Kini keduanya sudah berdiri di depan guru pengawas yang menyambut keduanya di depan kelas.
“Selamat pagi Bu,” sapa Clarissa sopan.
Guru berhijab itu pun membalas dengan senyum tidak kalah ramah kepadanya, “Selamat pagi juga Bunda. Perkenalkan saya Ibu Nara." Sang guru mengulurkan tangannya.
“Saya Clarissa. Bunda Raka Bu." Sambutnya berjabat tangan.
Bocah berusia 4 tahun itu masih saja terfokus akan sekelilingnya, begitu banyak anak-anak seusianya.
Bu guru Nara tiba-tiba berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan bocah tampan itu.
“Halo Raka Sayang. Ayo kenalan. Nama Ibu, Ibu Nara." ujarnya membuat bocah 4 tahun itu akhirnya mengalihkan pandangannya kearah wanita berhijab tersebut.
Matanya mengerjap beberapa kali lucu tampak terkesima melihat guru cantik di depannya.
Nara terkekeh pelan. “Ayo kenalan.”
“Laka Bu,” seru Raka tidak lupa mencium punggung tangan wanita itu, Nara membalas dengan mengusap kepala bocah itu sayang.
“Nah. Sekarang Raka masuk kedalam kelas ya. Mau kan. Sudah ditunggu teman-teman yang lain loh. Ayo pamit dulu sama Bundanya.” Kepala bocah itu mengangguk-angguk semangat membuat dua wanita yang melihatnya terkekeh geli.
“Bunda Laka sekolah dulu ya,” pamitnya mendongak menatap kearah ibunya seraya mencium punggung tangan, Clarissa membawa tubuhnya setengah membungkuk kemudian mencium kedua pipi dan pucuk kepala putranya sayang.
“Iya. Belajar yang rajin ya Sayang.”
Setelah Raka masuk, Clarissa Pamit undur diri karena harus masuk kerja shift pagi.
“Kalau begitu saya pamit dulu Bu. Titip Raka ya Bu Nara. Assalamualaikum.”
Nara mengangguk. “Baik Bu. Hati-hati dijalan Bunda Raka. Waalaikumsalam.” balasnya.
Clarissa pun beranjak berjalan pergi dari sana, sebelum dirinya benar-benar keluar dari gerbang sekolah PAUD tersebut. Wanita itu menoleh sebentar menatap sedikit cemas ke tempat dimana putranya berada.
Semoga Raka baik-baik saja. Pikirnya.
****
Keadaan Cafe Coffee Theory tempat ia bekerja masih sepi karena memang belum jam beroperasi. Di dalam bangunan berlantai dua itu sudah ada beberapa pekerja yang mondar-mandir melakukan bersih-bersih.
Clarissa melangkah masuk, setelah meletakkan tas kecilnya wanita itu ikut membantu membersihkan area kafe.
“Hai. Pagi Cla," sapa Bella salah satu pegawai kafe, wanita dengan rambut sebahu itu tersenyum lebar kearahnya.
“Pagi Bel,” sahut Clarissa melambaikan tangan sekilas saat mendekati sahabatnya itu.
“Cie ceria banget. Ada apa nih. Kamu dapat bonus. Ah! ... atau ada yang ngajak kamu kencan ya,” lanjutnya dengan pertanyaan beruntun mencolek lengan Bella dengan senyum menggoda.
Wanita yang di panggil Bella tadi mendengus sebal ke arah Clarissa.
“Kamu ada-ada aja Cla. Ck. Kamu pasti lupa ya hari ini kan anak si Bos kita dateng loh.”
Deg.
Tubuh Clarissa menegang kaku, gerakan tangannya berhenti saat sedang mengelap meja. Jantungnya berdetak kencang sekarang, sinyal bahaya langsung menyala saat satu nama langsung terpatri di otaknya.
Andre Wijaya.
Astaga.
Hampir saja Clarissa lupa padahal ibu angkatnya sudah bercerita padanya. Ia memandang horor Bella sepintas. Sial. Clarissa belum siap jika harus bertemu lelaki itu sekarang. Tangan Clarissa mulai berkeringat dingin. Mengingat kesan terakhir yang ia berikan pada laki-laki yang pernah menyatakan perasaan cinta padanya itu saat usia Raka baru 1 tahun. Tunggu. Berarti sekarang sudah 3 tahun berlalu dan akhirnya sosok itu kembali.
“Be-beneran Bel?" tanyanya gugup, Bella menaikkan alisnya mendengar nada bicara Clarissa yang sudah menjadi sahabatnya selama 2 tahun terakhir ini.
“Iya Cla. Eh, kamu kenapa Cla. Kok kaya gugup gitu. Jangan bilang kamu--.” Tunjuk Bella menuding.
“Apaan sih Bel. Biasa aja cuma kaget tahu,” elaknya memotong.
Clarissa mengalihkan pandangan ia kembali mengelap meja, mengabaikan raut memicing sahabatnya dari meja seberang.
“Cla--” Lagi lagi ucapan Bella terpotong. Tapi, kali ini bukan karena Clarissa sahabatnya melainkan matanya menangkap objek yang mungkin bisa menjadi jawaban tadi.
“Cla beneran nih nggak gugup. Tapi tadi kamu gugup loh. Pas aku bilang anak si BOS dateng hari ini," lanjutnya menekankan kata BOS dengan maksud menggoda Clarissa.
Blush.
Yes. Lihat. Dalam hati Bella tertawa puas melihat semburat merah muncul di pipi sahabatnya itu.
“Cla." Panggilan suara berat dan dalam tiba-tiba terdengar dari arah belakang punggungnya.
Tubuh Clarissa meremang, ia membalikkan badannya cepat mulutnya terbuka sedikit melihat siapa yang baru saja memanggilnya. Sedangkan Bella sudah menahan tawanya agar tidak meledak melihat ekspresi kaget sahabatnya itu. Sosok tampan di depan wanita itu justru memberi senyum menawan melihat reaksi Clarissa yang tidak pernah berubah sama sekali sejak 3 tahun terakhir.
Andre Wijaya, kakak angkat laki-lakinya juga anak angkat dari Toni Wijaya dan Sari Maharani. Sepasang suami istri yang dulu menolongnya.
“Kak-- Andre.”
“Apa kabar Cla?” tanya lelaki itu seraya berjalan mendekati Clarissa yang masih terpaku didepannya. Hingga kini jarak keduanya hanya tinggal batas sejengkal, wanita itu pun tetap saja tidak berkutik.
“Hei.”
Clarissa terkesiap, ia mengerjap dan mendongak melihat laki-laki tampan yang berdiri menjulang tinggi dihadapannya.
“Kabar kamu bagaimana?”
“Ba--baik," singkatnya.
Clarissa buru-buru mengalihkan pandangannya. Tidak sanggup menatap tatapan dalam laki-laki itu.
“Apa hanya aku yang merindu ...," lirih sosok itu.
Jleb.
Atmosfer mulai berubah disekitar keduanya terasa hening dan mencekam.
Clarissa memberanikan diri menatap lelaki yang di depannya dengan keresahan hati yang menyerbu tanpa permisi. Benar saja mata itu kini menatap sendu kearahnya, disana terlihat jelas kerinduan mendalam sosok itu untuknya.
Kak Andre. Lirihnya dalam hati.
Bella yang merasa canggung berada di antara keduanya pun memilih pamit undur diri tanpa berkata apa-apa. Meninggalkan dua sejoli yang kini sedang saling bersitatap meresapi kekacauan hati mereka masing-masing.
“Maaf Kak ...," ucap lirih Clarissa merunduk dalam.
Dilema.
Clarissa tidak tahu harus bagaimana, ia sendiri belum bisa memastikan hatinya sampai saat ini. Apakah nama lelaki itu terpatri di hatinya atau tidak. Karena Clarissa tidak pernah memikirkan hal lain selain perkembangan putranya, baginya Raka adalah pusat hidupnya.
“Kenapa?”
Sepertinya Andre sendiri masih terlalu terbawa suasana sedih dan rindu di hatinya, sehingga lelaki itu tidak mempermasalahkan ketika keduanya menjadi pusat perhatian pegawai-pegawai kafe lainnya.
“Kak. Please,” bisiknya. Memohon agar kakak laki-lakinya itu tidak membahas hal ini sekarang. Ia tidak mau membuat masalah apalagi menjadi bahan gosip yang tidak-tidak. Terlebih saat ini mereka sudah menjadi pusat perhatian orang sekitar, belum lagi perasaan Andre Wijaya kakak angkatnya itu tidak di ketahui oleh kedua orangtua angkatnya.
“Andre!" Suara lantang terdengar membuat keduanya menoleh ke belakang, melihat sosok wanita paruh baya tengah tersenyum bahagia berjalan kearah keduanya di susul pria paruh baya yang tersenyum tipis.
"Mama ...," bisik keduanya.
“Astaga kamu kenapa nggak ada kasih kabar dulu. Bukannya pulang kerumah temui Mama. Eh, ini malah sudah nongkrong disini. Emang kamu nggak ada kangen sama Mama Papa hah!” Andre meringis bersalah menubruk dan memeluk beliau erat.
“Maaf Ma, Andre kira tadi Mama sudah di kafe. Makanya Andre langsung kesini dari Bandara,” ujarnya membuat sang ibu mendengus dalam pelukannya.
“Son.” Suara berat pria paruh baya yang masih terlihat gagah ikut bergabung. Andre tersenyum lebar melihat pria yang usianya sudah setengah abad tersebut. Beliau memeluk putranya seraya menepuk pelan punggung Andre.
“Hai sayang. Raka hari ini sekolah 'kan Nak?” tanya Sari ke Clarissa yang sejak tadi berdiam diri saja di tengah-tengah mereka.
Clarissa menarik napas lega tanpa sadar, karena berhasil terhindar dari atmosfer mencekam bersama Andre beberapa saat lalu.
Mengangguk. “Iya Ma. Raka hari ini sekolah.”
Sejak hari dimana Clarissa di tolong dan tinggal bersama dengan mereka, wanita cantik itu harus belajar memanggil sepasang suami istri tersebut dengan panggilan Mama dan Papa. Meski awalnya Clarissa segan dan terlihat anggung, hingga akhirnya ia pun terbiasa.
“Wah! Pa hari ini kita jemput Raka ya," seru Sari semangat kepada suaminya, di balas anggukan kepala dan deheman pelan.
“Asyik ... Mama sudah kangen sekali sama cucu Mama yang satu itu," lanjutnya penuh binar antusias.
“Ma tapi aku yang mau jemput Raka hari ini sama Clarissa.” Suara Andre membuat Sari menoleh dengan mata melotot menatapnya berang.
“TIDAK BOLEH.” bentaknya.
Andre mendengus pelan. “Ayolah Ma. Mama 'kan setiap hari ketemu cucu mama itu. Lah nasib aku gimana Ma," ucapnya memelas.
Sari menggedikkan bahu acuh. “Tidak, tidak, tidak. Tetap tidak boleh, kalau mau jemput cucu mama itu kapan-kapan saja oke,” titahnya telak.
Kemudian Sari mengajak Clarissa putrinya itu untuk beranjak menuju ruangan suaminya.
“Ayo sayang.”
Andre menekuk wajahnya murung, sedangkan Toni terkekeh pelan melihat tingkah istri dan anaknya. Ia pun hanya bisa menepuk pelan pundak putranya memberi semangat.
***
Sementara para wanita cantik mereka tadi pergi, dua lelaki berbeda generasi itu kini sudah duduk di salah satu meja kafe berhubung jam buka masih 1 jam lagi membuat mereka bisa bersantai sejenak ditemani secangkir coffee panas.
“Bagaimana pekerjaan kamu di Singapore Nak.” Suara Toni memecahkan keheningan mereka.
“Alhamdulillah. Lancar Pa,” jawabnya lalu menyecap pelan expresso coffee less sugar yang terlihat masih mengepul di depannya.
“Hmm Bagus. Kalo PACAR lancar juga.”
Uhuk.
Andre langsung tersedak minuman nya sendiri, sedangkan ayahnya hanya tersenyum jahil melihatnya.
“Pa--car," cicit Andre mengulang. Wajah lelaki itu merah padam akibat tersedak bercampur salah tingkah.
“Iya pacar. Gimana? Kenapa tidak kamu kenalkan sama Papa dan mama.”
“Aku belum punya pacar Pa.”
“Ohya, kamu yakin Son." Toni menaikkan alis matanya sebelah.
Andre sendiri terheran di kursinya. Mengapa ayahnya tiba-tiba membahas hal seperti ini. Kecuali ...
Tunggu apa jangan-jangan beliau tahu tentang ... TIDAK.
“Aku beneran belum punya pacar Pa. Disana aku sibuk mengembangkan bisnis," paparnya mengalihkan pembicaraan.
“Kamu yakin tidak mau jujur sama Papa.” Mimik raut wajah sang ayah sudah berubah serius, membuat Andre mulai khawatir dan gelisah di tempat duduknya.
“Kamu tidak perlu khawatir, Papa pasti merestui siapapun wanita pilihan kamu. Tidak memandang seperti apa dan bagaimana keluarga gadis itu. Kalau kamu suka dengannya Papa akan tetap mendukung. Kamu harus bisa berjuang untuk kebahagiaan kamu Son. Kita sebagai laki-laki harus berani mengambil keputusan meski kita sendiri tidak tahu bagaimana hasilnya," lanjut beliau.
“Tapi Pa aku bene--" Andre menelan kembali kata-kata yang ingin ia ucapkan, bahkan tangannya berkeringat dingin karena terserang sindrom gugup hanya mendengar pernyataan yang keluar dari mulut sang ayah. Toni Wijaya.
“CLARISSA.”
“KAMU MENCINTAINYA.”
___
Tbc>>>