"Apa gue punya anak?" "Hah." Arthur memandang cengo sahabat SMA nya itu, sedetik kemudian lelaki itu tertawa keras, hingga terpingkal-pingkal, sudut matanya berair, bahkan perutnya yang belum terisi makanan sejak siang tadi pun kram di buat oleh seorang Arkan Pramudya Angkasa. Lain halnya dengan Arkan, lelaki gagah itu menatap sengit Arthur yang tidak sadar jika dirinya sedang di tatap mematikan. Lelaki di sebelahnya itu seperti terlalu asyik menertawakan ucapannya barusan. See. Bahkan hingga 1 menit berlalu sahabatnya itu tidak kunjung berhenti tertawa. Melihat Arthur yang merangsek dengan tangan yang memegangi perutnya duduk di ujung sofa pun membuat Arkan kesal dan geram kepadanya. Brak. "Anjir sakit." pekik Arthur terkejut. Ia meringis kesakitan lalu melihat siapa yang baru

