Clarissa termenung di dapur seorang diri, Sari ibu angkatnya sudah kembali masuk ke dalam kamar untuk istirahat. Wajah binar beliau masih terekam jelas di ingatannya sebelum meninggalkan seorang diri seperti orang bodoh. Katakan dirinya bodoh. Merelakan lelaki yang baru saja berhasil mengisi hatinya untuk wanita lain. Tapi, hutang budi kepada keluarga Wijaya lebih ia prioritaskan. Kebahagian mereka lebih dulu ia utamakan. Mengabaikan rasa sakit yang mungkin akan ia terima kedepannya. Tenang saja Cla, kamu punya Raka. Benar. Ada putranya. Jadi, Clarissa tidak akan sendirian. Ada malaikat kecil penuntun arah dan pemberi semangat untuknya. Dirinya tidak boleh sedih. Banyak hal yang harus ia lakukan untuk membantu ibu angkatnya tersebut. Helaan napas pelan terdengar. Claris

