Seringkali di dunia ini, terdapat hal-hal yang tak bisa diterima oleh sebagian orang. Misalnya seperti; dengan mudahnya melupakan suatu pembicaraan yang didengar ketika hendak tidur di malam hari.
Banyak yang mengatakan itu adalah sesuatu yang terdengar mustahil, sebab kita seharusnya bisa mengingat apa yang didengar oleh telinga sesaat sebelum kita menutup mata, tetapi sebenarnya itu adalah sesuatu yang bisa saja terjadi tanpa campur tangan manusia itu sendiri.
Menarik, bukan? Alasannya karena ada bagian yang ingin kita lupakan dari apa yang kita dengar itu.
Kalau dipikir-pikir, sepertinya itu ada benarnya. Aku ingat pernah mendengar satu kisah seram dari Nenek, sesaat kemudian aku terlelap di pangkuan Ayah. Dan keesokan harinya, aku tak bisa mengingat apa yang sudah diceritakan Nenek malam itu. Aku hanya tahu jika Nenek menceritakan kisah seram, tapi bagaimana kelanjutan kisahnya, aku tak tahu sama sekali.
Apa itu karena otakku tak ingin mengingat informasi baru itu sehingga begitu aku tidur, keesokan harinya aku sudah melupakan apa yang kudengar itu? Entahlah, bagiku itu sangat luar biasa, dan rasanya aneh.
Biasanya tak pernah seperti itu, pasti esok hari aku bisa mengingatnya dengan baik. Mungkin karena aku tak langsung tidur saat mendengarnya, jadi otakku keburu mencerna itu menjadi informasi dan akhirnya aku bisa mengingatnya sampai keesokan hari.
Aku jadi percaya bahwa apa yang kita dengarkan sebelum tidur itu akan lebih cepat terlupakan begitu bangun di esok harinya. Buktinya, sudah beberapa kali kejadian itu kualami langsung. Aku rasa pendapat orang-orang itu ada benarnya, karena aku tak ingat apa-apa lagi setelah bangun dari tidur dan aku hanya ingat sebagian kecil dari malam sebelumnya.
Rasanya kemarin malam, setelah kembali dari dapur untuk mengambil air minum, aku ingat bahwa aku melihat Ayah, Ibu dan Nenek sedang membicarakan sesuatu yang tampak serius dan aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Aku menduga jika saat itu mereka sedang bertengkar karena orang tuaku tampak menjelaskan sesuatu kepada Nenek yang sedang marah.
Nenek jarang sekali marah, jika dia sudah marah-marah berarti ada sesuatu yang bermasalah menurut pandangannya.
Kemarin malam, begitu naik ke lantai dua dan masuk ke kamar (aku tak ingat sudah mengunci pintu atau tidak) dengan terburu-buru aku langsung naik ke ranjang. Aku sampai lupa melepas sendal dan baru ingat melepasnya saat mencari selimut di atas nakas. Begitu menemukan selimut yang kucari, dengan cepat aku bersembunyi di dalamnya dengan tubuh yang gemetaran.
Aku menyembunyikan diri di bawah selimut yang nyaman dan hangat, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki tertutupi kain. Aku terbiasa tidur dengan posisi siaga seperti itu jika aku merasa perlu melakukannya, tapi kemarin aku tak ingat apa alasan yang membuatku melakukannya.
Mungkin ingatanku masih belum normal, mengingat aku tak bisa mengingat yang baru saja kudengar meski samar-samar.
Aku tak bisa menjelaskan sesuatu yang kudengar, hal yang membuatku sampai bersikap demikian. Begitu masuk kamar, aku langsung tidur dan begitu bangun keesokan harinya aku sudah tidak ingat apa-apa lagi mengenai pembahasan itu selain mereka yang kulihat terakhir kali sebelum pergi tidur.
Di dapur malam itu ada Ayah, Ibu dan Nenek. Ketiganya membicarakan sesuatu sambil berdebat dengan suara keras. Ah, aku tak ingat. Aku hanya lihat jika Ayah dan Ibu marah karena Nenek memarahi mereka.
Sudahlah, tak perlu kupikirkan. Lagipula sudah pagi. Cahaya matahari menembus sela-sela jendela dan gorden yang masih belum dibuka, aku bisa mendengar aktivitas orang-orang desa Birdben yang rutin mereka lakukan—menebang pohon dan memotong kayu bakar untuk persediaan musim dingin. Aku menyingkirkan selimut, lalu turun dari ranjang dengan hati-hati, udara beku yang masuk membuatku menggigil.
Kegiatan baik yang mulai kulakukan setelah sembuh dari sakit adalah melakukan peregangan otot selama dua menit setiap bangun tidur.
Aku akan memulai pagi dengan penuh semangat, perasaanku cukup bagus saat menyambut hari Senin setelah puas jalan-jalan kemarin sore, dan aku pun sudah mempersiapkan beberapa barang yang diperlukan untuk pelajaran tambahan nanti.
Aku sekarang sudah siap untuk belajar lagi di sekolah bersama teman-teman, aku akan mengejar beberapa mata pelajaran yang kulewatkan selama terbaring sakit—yah, kurasa aku menghilang selama lebih dari tiga bulan dan mereka pasti merindukanku. Pikiranku jauh lebih jernih dibandingkan beberapa waktu yang lalu, mungkin karena aku begitu bersemangat setelah jalan-jalan kemarin.
Memang, jalan-jalan sambil menikmati keindahan kota bersama keluarga adalah yang terbaik. Aku jadi tahu jika kota besar itu ternyata sangat luar biasa. Kelak aku akan menempuh pendidikan di ibukota.
Aku akan giat belajar, mengumpulkan uang yang banyak dan menabung dengan rajin, supaya aku bisa bersekolah di salah satu sekolah terbaik di Moskow. Pasti!
***
Hal yang paling ingin kuhindari setelah bangun tidur adalah menggosok gigi. Uh, duduk di toilet selama dua menit saja sudah membuat bokongku membeku. Dan rasa dari pasta gigi yang Ibu beli dua hari lalu juga sangat aneh.
Ini bahkan bukan rasa permen karet atau stroberi—atau rasa buah-buahan lain yang umum dipakai sebagai perasa di pasta gigi anak-anak.
Aku mengamati cermin yang digantung khusus menyesuaikan tinggi badanku yang hanya 145 cm. Sebagai satu-satunya anak kecil di rumah ini, aku sangat dimanja oleh keluargaku. Baik dulu atau setelah kejadian di mana aku mengalami amnesia. Justru mereka semakin memperlakukanku seperti anak perempuan yang harus selalu diawasi.
Bahkan, Nenek sampai memarahi Ayah dan Ibu karena sudah membuatku keluar dari desa dan pulang menjelang malam. Walau bersama dua orang dewasa, tapi Nenek tetap bersikeras mengatakan cucunya tak boleh lagi keluar atau jalan-jalan malam tanpa sepengetahuannya.
Nenek benar-benar tua dan menyeramkan.
Kalau aku sudah bisa bertemu dengan teman-teman, aku pasti akan menceritakan betapa posesifnya Nenek yang sekarang kepada mereka semua. Mereka pasti akan terkejut. Hihi!
Pweh! Pweh, aku menelan odol!
***
Aku ingin bertemu Ivan, Deinn dan juga Albert, aku rindu mereka. Walau aku sangat merindukan ketiga temanku itu, aku takut mereka tak ingin menemuiku lagi setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Elena saat malam bulan purnama yang selalu ditakuti gadis itu. Kejadian yang membuatku tak bisa ditemui oleh orang-orang yang kukenal selama beberapa bulan lamanya.
Aku meraih handuk dan masuk ke kamar mandi. Awalnya aku tak ingin menyentuh air karena udara sangat dingin, tapi urung setelah melihat ke dalam bak mandi. Air hangat sudah tersedia di dalamnya, beserta sabun cair yang selalu kugunakan untuk membuat gelembung sabun. Aku rasa Ibulah yang sudah menyiapkan ini semua sesuai anjuran dokter kemarin siang.
Sekarang aku bisa lebih rileks.
Semenjak kehilangan Elena malam itu, aku jadi mengambil satu pelajaran yang sangat berharga.
Aku ingin menghargai setiap kebersamaan yang kulalui bersama keluarga dan teman-teman. Aku tak ingin kehilangan siapapun lagi.
Sudah cukup malam itu aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong sahabatku yang dibawa paksa. Padahal aku sangat yakin, saat itu aku melihat Elena yang ditarik semakin dalam memasuki hutan Lakebark dan makhluk-makhluk kegelapan itu tak melakukan hal buruk kepadanya, tapi kuharap kebaikan serta keselamatan selalu bersamanya.
Elena gadis yang luar biasa, aku pasti akan menyelamatkannya, tak peduli dengan apa pun yang akan terjadi ke depannya.
Belum sampai lima belas menit setelah aku keluar dari kamar mandi dan berpakaian dengan rapi, aku mendengar bel depan berbunyi. Aku menoleh kepada Ibu yang sedang merapikan meja makan dan saat itu aku tahu jika ia tak ingin diganggu. Aku lagi-lagi dibuat bingung saat bel kembali berbunyi untuk kedua kalinya, disertai ketukan berulang pada pintu depan yang terbuat dari kayu jati.
Siapa yang bertamu ke rumah orang lain di pagi-pagi buta yang dingin pastilah orang yang hanya ingin menumpang makan. Aku jadi ingat dengan sosok wanita asing yang datang ke rumah ini dan dialah pemicu gelombang ingatan sehingga kini aku bisa mendapatkan ingatan dan memoriku kembali.
Aku sudah ingin mengucap terima kasih yang tulus kepadanya—itupun jika kami bisa bertemu lagi dan jika di depan itu adalah dirinya—saat aku memutuskan membuka pintu depan, tapi yang kutemui ternyata bukan sosok wanita gipsi berbadan gemuk itu, melainkan wajah-wajah yang sudah tak asing lagi di ingatan.
"Ka-kalian!" Aku membuka pintu lebar-lebar, sekadar memastikan apa yang kulihatm
Yang membuatku terkejut bukanlah kemunculan sosok bigfoot yang menawarkan kentang goreng McDonald versi jumbo, melainkan kedatangan tiga orang teman yang sudah lama tak kutemui karena sakit yang kualami. Padahal aku berencana untuk pergi ke rumah salah satunya setelah sarapan pagi itu.
"Hei, bisa-bisanya kau jadi lebih putih. Kau makan apa sampai menandingi warna kulitku?" Ivan mendekatkan wajahnya dan mengamatiku dari atas ke bawah, seperti alat pemeriksaan yang dipakai petugas bandara saat mengecek barang-barang penumpang.
Aku menahan napas dan berusaha mencegah air mata bahagia yang hendak tumpah. Di depanku saat ini berdiri Ivan, Deinn dan juga Albert. Ketiga sosok yang kurindukan ini masih setia berdiri di ambang pintu sambil membawa beberapa tas yang kupikir adalah hadiah untukku.
"Hei!" seru Deinn saat aku berusaha merebut tas yang ia bawa dengan tangan kanannya. Dengan sigap ia tarik lagi tasnya, sehingga aku gagal mendapatkan tas itu. Kami berempat langsung tertawa terbahak-bahak. Oh, betapa aku sangat merindukan momen berharga bersama ketiga orang ini. Aku bersyukur karena masih bisa menemui mereka.
"Hey, bagaimana kabarmu, sobat?" Albert menarikku keluar dari rumah, dia gemas melihat aku bersembunyi di balik pintu. "Sepertinya kau terlalu asyik bersenang-senang. Pasti enak tinggal di luar negeri selama beberapa waktu, sampai-sampai tak lagi menghubungi kami."
Aku terbelalak begitu mendengar ucapan Albert. Sejak kapan aku berbohong seperti itu?
"Tapi aku tidak—"
"Ya, ya, kami tahu. Kau tak mengatakan apa pun karena sudah harus pergi hari itu juga, jadi orang tuamulah yang datang dan memberitahukannya pada kami," jelas Deinn mewakili sang kakak.
Aku menatap ketiganya dengan ekspresi tak percaya secara bergantian. Apa maksudnya? Mereka bercanda, ya? Aku tak pernah keluar rumah atau pergi kemanapun selain ke rumah sakit! Itupun hanya sekali dan baru kemarin siang. Apa mereka sedang mengerjaiku karena ingin merayakan April Mop? Tapi ini 'kan bulan November!
"Ya, dan yang kudengar lagi, kau tinggal di Beijing selama 4 bulan. Kau sangat menikmati keindahan alam di sana, ya. Sampai-sampai kau tak ingat lagi mengirimkan surat ke desa dan memberi kami kabar."
Jantungku berdetak kencang, peluh membasahi telapak tanganku yang gemetaran. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Apa aku sedang bermimpi?
"Kau bagai menghilang." Ketiganya kompak mengatakan kalimat yang sama. Aku tak mengerti, aku tak bisa memahami keanehan ini. Aku ada di rumah, seharusnya saat mereka datang ke sini, aku mengetahui kedatangan mereka, tapi aku tak pernah melihat mereka datang.
Aku sampai memiliki pemikiran bahwa aku tak mempunyai teman, bahkan satu orang pun, karena tidak pernah ada yang datang ke rumah untuk menjengukku.
"Aku tidak kemana-mana, selama 4 bulan ini aku hanya diam di rumah. Justru kalian yang tidak pernah datang menemuiku!"
Keterangan yang kuberikan membuat ketiga temanku kebingungan.
"Tapi orang tuamu tak terlihat seperti sedang berbohong, Ron. Mereka tak pernah memberitahu kami jika kau ada di rumah, mereka mengatakan kau melakukan pertukaran pelajar ke Beijing karena mendapat beasiswa."
"Bohong, aku tak kemana-mana!" sanggahku setengah berteriak. "Beasiswa apa yang membuatku pergi ke luar negeri dan tak pernah mengirimkan surat kepada kalian? Jangan bercanda."
Ketika temanku saling melirik satu sama lain secara bergantian. Apa yang mereka alami tak sejalan dengan apa yang mereka dengar dariku, dan mungkin itulah yang menjadi tanda tanya di benak mereka. Raut kebingungan jelas terlihat di wajah ketiganya.
"Kalau kau berkata seperti itu, kami jadi tak tahu siapa yang benar. Tapi coba jelaskan; kenapa Mrs. Beatrix yang merupakan wali kelas kita juga ikut memberi keterangan bahwa kau pergi ke Beijing selama empat bulan?"
"Ya, apa Mrs. Beatrix Rikharnova juga berbohong? Tapi untuk apa dia melakukan hal itu?"
Nama belakang yang kuhafal di luar kepala ... dan sekelebat wajah seorang wanita dewasa berkacamata dengan rambut cokelat terang membuatku terbelalak di tempat. Aku ingat sosoknya yang persis seperti seseorang yang kukenal.
Mrs. Beatrix adalah seorang wanita Belanda bernama lengkap Beatrix van Der Beek yang menikah dengan Jimmy Rikharnova enam tahun silam, dan dia adalah ibu kandung sahabatku—Elena Rikharnova yang menghilang selama empat bulan terakhir.
Ini jelas semakin tidak masuk akal, kenapa bibi Beatrix juga ikut berbohong kepada teman-temanku? Apa yang terjadi di sini?