12. Ingatan yang Perlahan Kembali

2188 Kata
Hari-hari tanpa ingatan masa lalu, kulalui dengan sepi, ingatan yang masih belum kembali juga membuatku kesulitan merasakan emosi yang sering kurasakan dahulu. Untuk beberapa hal, aku hanya bisa mengingat hal-hal biasa, juga perasaan kecil yang tak mempengaruhi emosiku secara keseluruhan. Aku cukup bersyukur masih bisa merasa bahagia ketika sudah tiba waktunya makan, atau ketika orang tuaku memelukku dengan pelukan hangat yang menenangkan. Selain itu, perasaan lain datang dengan samar. "Kau ingin segera memulihkan ingatanmu, Aaron?" Setiap aku berpapasan dengan Nenek, beliau selalu menanyakan hal ini padaku, seolah tak pernah bosan mengingatkanku untuk mengembalikan ingatkan yang hilang. Tentu saja aku ingin mengembalikan ingatan ini, sangat ingin malah, tapi aku juga tahu batas yang tidak boleh aku langgar. Semestinya aku tak boleh memaksakan diri melebihi batas yang bisa kuraih lebih dari ini. Tidak hanya Nenek, paman dan bibi yang berpapasan denganku di dapur atau di lantai dua akan menanyakan hal serupa. Mereka pasti heran karena aku masih belum bisa mendapatkan ingatanku kembali, padahal obat dari dokter dan tabib desa sudah kuminum dengan teratur. Aku juga selalu membaca buku yang sering Ibu bacakan sebelum tidur, katanya buku-buku itu adalah buku-buku yang aku senangi. Jadi, dengan kembali membacanya, mereka berharap ingatanku bisa kembali lebih cepat dari yang seharusnya. Andai semudah itu, maka aku tak perlu membaca buku-buku tentang makhluk mitologi sebanyak 17 kali. Aku bisa saja berbohong bahwa ingatanku sudah kembali sepenuhnya, atau menceritakan yang sebenarnya kepada mereka semua, bahwa aku sudah mulai bisa mengingat-ingat sesuatu dari masa laluku, tetapo ketika aku semakin menyelami potongan demi potongan ingatan yang buram itu, kepalaku akan sakit. Pusingnya datang mendadak, seperti hendak memecahkan kepala. Pusing itu terjadi kadang-kadang apabila aku berusaha keras mengingat sesuatu sampai urat di kening dan leherku menonjol dan kencang. Jika sudah seperti itu, berarti aku melewati batas yang telah ditetapkan di tubuhku. Memaksakan diri itu tak baik, karena kemampuan seseorang itu berbeda-beda. Nenek selalu mengatakan kalimat itu padaku dengan ekspresi wajah yang serius. Tapi, aku membangkang dan mengabaikan larangannya. Kemudian Ibu berkata bahwa dalam keadaanku yang seperti ini pun, aku tetap menjadi seorang anak yang tak bisa mematuhi perkataan orang tua. Ibu bercerita, betapa aku sering mengabaikan perkataan Nenekku itu dan terus saja menghindar darinya. Kali ini berbeda, sebab aku memaksakan diri demi mengingat sesuatu. Demi memperoleh ingatanku kembali. Pernah selama seminggu aku membiarkan diriku tak mengingat apa-apa, aku membuat otakku tenang dan pikiranku damai. Rasanya menyenangkan, tak ada beban yang memberati punggungku. Aku tak lagi memikirkan apa-apa, tak tertekan oleh suatu apa pun. Akan tetapi, jika aku sudah mulai mengulik ingatanku yang hilang, maka aku akan melakukannya tanpa henti. Dua hari berturut-turut, setelahnya aku pun sering merasakan sakit yang teramat hebat di kepalaku setelah berusaha keras memaksa otakku untuk mengingat hal-hal remeh yang berguna bagi ingatan. Apa yang kulakukan ini memang menyiksa dan menyakitiku—sangat, tapi paling tidak itu bisa membuatku sadar jika hanya dengan itu saja ingatanku bisa muncul walau sepintas. Ingatan itu menghilang secepat seperti saat dia muncul. Aku hanya ingat bahwa aku pernah membaca sebuah cerita tentang Gorgon dan aku mengingatnya dengan jelas setelah sesi yang cukup menyakitkan. Gorgon adalah wanita jahat dengan gigi taring dan ular hidup sebagai pengganti rambutnya. Ketika aku membaca ulang, cerita Gorgon mirip dengan Medusa. Legenda mengatakan jika orang melihat wajah Gorgon maka mereka akan berubah menjadi batu. Kemungkinan Gorgon yang paling terkenal adalah Medusa yang merupakan satu-satunya wanita yang paling besar di antara 3 bersaudara. Dia memiliki dua orang saudara yang masing-masing bernama Stheno dan Euryale. Karena Medusa itu badannya besar sekali, Perseus hanya bisa membunuhnya dengan memotong kepalanya selagi ia melihat bayangannya sendiri di perisai Perseus. Gambaran Gorgon digunakan oleh bangsa Yunani untuk menggambarkan kejahatan. Jika bisa kugambarkan dengan sederhana, tiap kali ingatanku muncul di kepala kecil ini, maka yang kulihat pertama kali adalah kegelapan. Hanya ada gelap. Tidak, bukan berarti aku tak bisa melihat apa-apa. Aku jelas bisa melihatnya, juga bisa mengingatnya dengan mudah, berbagai rangkaian kejadian di ingatan itu sepertinya saling terkait antara satu sama lainnya. Tepatnya, mungkin itu adalah penggalan ingatan dari sebuah peristiwa yang telah mengguncangku dengan hebat. Ah, tapi ini hanya asumsi pribadiku saja. Aku tak bisa memastikannya dengan jelas jika aku saja masih belum bisa mengingat semuanya seperti sedia kala. Aku sendiri tak tahu persis dengan sesuatu yang mengguncang hebat jiwaku. Ibu bercerita bahwa aku sering kali terjebak dalam keadaan yang membahayakan, mungkin itu juga yang membuatku tak bisa mengingatnya lebih jauh. Tapi aku akan tetap berusaha untuk bisa mengingatnya, untuk bisa mengingat kembali apa yang hilang dariku. Beruntung, aku memiliki hunian yang mampu membuatku merasa tenteram di kala kesepian melandaku. Rumahku dikelilingi taman kecil yang dirawat langsung oleh Ayah dan Ibu. Terkadang aku akan ikut membantu, karena suasananya begitu menyenangkan. Aku pun jadi sering menghabiskan waktu di sana, di taman kecil samping rumah. Ada banyak bunga di sana, contohnya lavender, mawar merah, lili putih, lili biru, lili kuning, dan tanaman hias yang tak kuketahui namanya, tapi tak memiliki bunga, hanya daun saja yang dibiarkan tumbuh dalam sebuah pot tanah liat yang besar. Letaknya di sebelah taman kecil untuk bunga mawar merah kesukaanku. Nenek mengatakan menatap keindahan akan membawa kebahagiaan di hati, aku setuju dengan kata-katanya itu. Bukan berarti aku bukan laki-laki normal, hanya karena menyukai keindahan dan aroma yang terdapat pada bunga, tetapi aku hanya senang memperhatikan bunga-bunga yang tumbuh subur di atas tanah serta mengamati kupu-kupu liar yang sering kujumpai hinggap di kelopak bunganya, berusaha mengambil sari bunga yang manis. Ah, meski samar, aku bisa mengingat jika kupu-kupu itu tisak bisa membuat madu. Rasanya itu hanya berlaku untuk tawon. Eh, apa lebah, ya? "Kupu-kupu yang cantik, kau pasti merasa kesepian sepertiku, kan? Aku sangat kesepian saat ini ...." Aku memandang kupu-kupu hitam dengan pola warna putih dan ungu di sayapnya dengan tatapan sedih. Kupu-kupu itu hinggap di salah satu kelopak bunga mawar yang sedang kuamati. Kupikir kupu-kupu itu akan segera terbang menjauh, tapi nyatanya kupu-kupu cantik itu tetap diam di sana. "Tahukah kau, kupu-kupu? Aku masih belum diperbolehkan keluargaku untuk mengunjungi teman-temanku, Ibu bilang jika semua temanku datang ke sini lebih dulu dan mengajakku bermain, maka aku boleh pergi, tapi mereka tidak kunjung datang." Aku memandang kupu-kupu itu selama beberapa saat, antena di kepalanya begitu pendek dan melingkar seperti obat nyamuk yang sering dipakai Nenek untuk membasmi nyamuk di kamarnya. Memang warnanya hitam, tapi dia memiliki sayap yang memukau. "Apa aku tak pernah sekalipun memiliki seorang teman? Apakah tak ada yang peduli padaku?" Aku kembali berbicara dengan kupu-kupu yang kini sudah beranjak dari kelopak bunga. "Ah, jangan pergi!" Aku berteriak, mencegah kupu-kupu kecil itu meninggalkanku, tapi dia tetap terbang menjauh. Aku kembali sendirian. "Selamat jalan, kupu-kupu," ucapku memberi salam perpisahan. Rasanya sesak sekali, padahal aku hanya ingin mempunyai seseorang untuk diajak bicara. Aku kembali menatap bunga-bunga, kini tak ada lagi kupu-kupu cantik seperti sebelumnya. Aku kembali ke diriku yang sepi dan sendirian. Aku takut, aku takut sekali. Ketakutan itu akan terus kembali ketika matahari di pagi hari menyapa. Aku tak takut dengan makhluk atau kegelapan, aku hanya takut tak bisa mengingat apa pun lagi dengan keadaanku saat ini. Aku takut tak bisa mengingat masa laluku, masa kecil yang menyenangkan bersama keluarga dan teman-teman. Bukankah kehilangan ingatan sama saja dengan kehilangan jiwa? Aku sangat kesepian karenanya. Ketika aku sudah merasa bosan dengan keadaan sekitar, maka aku akan kembali masuk ke rumah. Besoknya, aku akan kembali ke luar dan menatap bunga-bunga. Yah, ini tak salah. Aku juga tak merasa keberatab, tapi dalam kegiatan yang monoton itu, aku merasa sangat kesepian. Aku hanya membutuhkan seseorang yang bisa menemaniku melalui rasa sakit dan membantuku mendapatkan ingatan yang hilang ini. Hanya itu yang kuinginkan. Seseorang yang bisa menyemangatiku melalui banyak hal. Seorang sahabat ... tapi siapa? *** Keesokan paginya, kupu-kupu yang sebelumnya kulihat terbang menjauh dariku itu datang kembali dan hinggap di salah satu bunga lili warna putih. Kupu-kupu cantik berwarna hitam, aku yakin itu adalah kupu-kupu yang kulihat sebelumnya. Aku berusaha mendekatinya secara perlahan, jantungku berdebar dan keringatku sedikit bercucuran. Entah kenapa aku gugup. Aku mencoba menangkap kupu-kupu yang sedang asyik menyesap sari pada bunga mawar merah yang sedikit basah karena terkena embun pagi. Tanganku berusaha mengurungnya, memenjarakan kupu-kupu itu dengan hati-hati di dalam kurungan tanganku. Belum sempat aku menangkap kedua sayap rapuhnya, kupu-kupu itu sudah melesat pergi dan meninggalkan aku sendiri. Lagi dan lagi, dia memilih pergi sesuai kehendaknya. "Ternyata kau lebih beruntung, ya? Kau bisa memilih sendiri jalan hidupmu." Aku mengamati kupu-kupu itu sampai dia menghilang di balik pohon besar di halaman belakang. Sekarang benar-benar sepi, aku pun menundukkan kepala dalam-dalam, bahkan mata ini hanya bisa melihat jari-jari kecil kedua kaki yang tak pandai menjaga keseimbangan dan jatuh ke tanah. Aku hanya seorang anak yang pengecut, tapi itu lebih baik karena aku masih hidup setelah sakit hebat yang menyerang tubuhku. Dari sekian hal yang mungkin kulupakan, anehnya ada beberapa hal yang tertinggal dan tak terlupakan di dalam sini. Seperti aku yang masih memiliki kemampuan berbicara dalam bahasa daerah, padahal bisa saja seseorang melupakan segalanya. Tapi ternyata aku tidak, maksudku aku masih menguasai bahasa yang sehari-hari digunakan oleh orang-orang dari desa ini. Kemampuan berhitung dan juga membaca, bahkan aku bisa mengingat jika aku itu tak pandai berenang karena minimnya pembelajaran renang di sekolah. Untuk hal-hal sepele seperti itu, aku takjub karena masih bisa mengingat semuanya, meski munculnya secara perlahan. Semua hal dasar masih bisa kurasakan, mengalir dalam tubuh dan otak ini, tapi yang hilang ternyata hanyalah "kenangannya". Seperti kenangan kapan terakhir kali aku belajar berhitung, siapa yang mengajariku sehingga aku bisa membaca, di manakah aku belajar berenang sedangkan tak ada kolam di desa ini dan masih banyak hal lain yang tak bisa kuingat. Aku pernah melakukan sesuatu, tapi detail tentangnya aku tak ingat. Membuat semakin banyak saja pertanyaan yang bermunculan di otakku, walau sudah kucoba menepis semuanya. Ada satu ingatan samar yang sering kudapatkan ketika sakit kepala menyerang. Aku tak bisa menggambarkan apa yang terjadi, karena yang muncul adalah bayangan yang merefleksikan suatu kejadian, walau apa yang kurasakan itu tak bisa memberikan efek yang mengejutkan seperti yang orang tuaku inginkan, karena mereka berkata aku akan mendapatkan ingatanku kembali ketika ingatanku terguncang hebat. Aku tak tahu pasti apakah kejadian yang kualami itu adalah hal nyata, ataukah sebuah ilusi sesaat sebelum jatuh pingsan. Tapi aku bisa mengingatnya, karena terpampang dengan jelas di kedua mataku bahwa ada banyak orang yang sedang duduk bersandar pada pohon dan terbaring di tanah dengan pipi yang dialiri air mata berwarna gelap dan aku yakin sekali itu bukan cairan biasa, warna merahnya agak tua dan sifatnya tidak terlalu cair, tapi kental. Mereka menangis darah, aku berpikir mereka bagian dari film yang mungkin pernah kutonton, tapi sekalipun aku tak memiliki hal seperti itu di rumah ini. Aku lalu mengabaikan ingatan sekilas itu dan menjalani hari sepiku seperti biasa. *** Seandainya itu hanya mimpi, pastilah aku akan melupakannya dalam sekejap, tapi sayangnya tidak semudah itu. Semakin kuberusaha melupakan, semakin kubisa mengingat detailnya. Semakin kuberusaha ingat, semakin pudar juga hal itu dalam ingatan. Aku ingat, apa yang kulihat di dalam mimpi atau mungkin kenyataan yang memang kualami ketika ada banyak orang yang menangis darah itu. Aku bisa mengingat semua anggota keluargaku mengalami hal yang sama seperti orang-orang asing itu. Baik Ayah, Ibu, Paman, Bibi juga Nenek, mereka semua mengeluarkan air mata darah. Meski ingatan itu kembali datang sekejap, tapi aku tetap bisa melihat wajah kedua orang tuaku yang terlihat begitu damai. Seolah mereka tak tahu apa yang mereka alami, terlihat roman muka yang sedih di saat bersamaan ketika kuingat sekali lagi wajah keduany. Air mata yang menuruni pipi mereka seakan menjadi tanda bahwa mereka menangis karena menahan sakit yang hebat. Hal apa yang membuat mereka sedemikian menderita seperti itu? Tak hanya satu dua orang saja, tapi semua orang di tempat minim penerangan itu mengalami hal yang sama seperti kedua orang tuaku. Aku tak ingin mengulik lebih jauh lagi ingatan itu, karena aku akan berakhir menyedihkan dengan tubuh terhuyung serta tangan yang memegangi kepala yang seperti ditusuk duri tak kasatmata. Aku tak boleh memaksakan diri mengingat sesuatu yang tak ingin kuingat. Apa pun itu, pasti rasanya sakit sekali. Pastilah pengalaman itu sangatlah menyakitkan, sehingga aku lebih memilih menghapus semuanya dari dalam ingatan. Kini aku tahu, ada hal yang seharusnya tak kuingat dan harus segera kuingat kembali, tapi apa itu? Menakutkan, menyedihkan. Apa yang mereka alami membuatku menjadi takut bahwa kemungkinan terburuk itu juga terjadi padaku. Bahkan, jika itu hanyalah kebetulan atau imajinasiku, bisa saja itu adalah rasa takutku yang berlebihan. Pasti hanya itu, tapi aku tak ingin menduga-duga. Rasa sakit itu seperti memberikanku sebuah peringatan, agar aku tak berusaha mengingatnya lebih jauh lagi. Karena itu pasti hanya akan membahayakan diriku sendiri dan aku tak mau mengambil risiko akan hal itu. *** Lebih dari dua bulan, dan aku mengalami banyak kemajuan. Aku bisa mengingat masa kecilku yang sangat pengecut dan pengalaman menakutkan yang aku alami, aku juga tahu jika sebenarnya aku itu sangat takut dengan cerita hantu. Aneh, ketika aku tahu aku dulu sangat takut dengan makhluk halus atau sejenisnya, kini aku tak merasakan apa-apa. Aku tak lagi merasa perlu bersembunyi di bawah selimut. Aku tak perlu lagi menangis mendengar cerita seram. Aku berubah menjadi sosok yang berbeda seiring berjalannya waktu, tapi yang kubingungkan adalah mengapa tak ada seorang pun yang mengunjungiku? Di mana keberadaan teman-temanku kini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN