22. Sosok Yang Diingat Kembali

1755 Kata
Aku ingat ... dengan siapa yang selalu ada untukku setiap keadaan yang bagiku terasa berat. Dialah teman yang menemaniku melewati hari-hari yang kurang menyenangkan. Sahabat yang melengkapiku dengan keceriaan polos yang ia miliki. Gadis yang selalu memberikanku semangat positif, gadis yang selalu ingin kulindungi karena terlihat rapuh bagaikan kaca, tapi meskipun begitu dia sangat hebat. Walaupun kami berdua sama-sama penakut, tapi itu tak menjadi alasan untuk kami lari dari kenyataan. Kami saling melengkapi, mendukung dengan kata dan berlari bersama. Dibandingkan aku, dia adalah gadis yang kuat, membuatku selalu ingin berada di dekatnya, untuk menjaga agar tak terjadi sesuatu yang buruk padanya. Rambut emas yang ia miliki, bagaikan benang sutra bercahaya yang ditenun khusus di negeri peri. Suaranya indah dan bergemerincing bagaikan lonceng yang dibunyikan ketika tiba waktunya pemberkatan sepasang pengantin baru di gereja. Aku selalu senang mendengarnya. Dan sekarang aku mendapatkan ingatanku yang hilang, sosok yang seharusnya tak kulupakan untuk selamanya. Aku ingat ... pada gadis kecil itu. Kepada Elena dan kenangan yang kami lalui bersama. *** "Aaron, Aaron. Apa kau mau mendengar ceritaku? Aku kemarin dibelikan buku baru loh sama Mama!" Suara riang gadis kecil menyapa gendang telingaku, menghadirkan perasaan campur aduk yang membuatku memikirkan hal tak penting lainnya. Seperti apakah ikan bernapas melalui mulut ketika tenggelam? Oke, aku tak waras. Aku melamunkan banyak hal yang jelas-jelas tak ada hubungannya dengan kehidupan masa depan. Aku memilih untuk mengabaikan gadis kecil yang masih setia berdiri di sebelahku, aku tahu dia di sana, gaun yang ia kenakan membuat lututnya terlihat. Sangat lucu ketika aku membayangkannya naik sepeda padahal gaunnya cukup pendek. Bisa-bisa celana dalamnya terlihat karena tersapu angin. "Aaron! Lihat aku!" Berulangkali pun dia memanggil, tetap aku abaikan. Aku akan tenggelam dalam hayalan. "Huh, awas, ya!" geramnya sambil mencubit lenganku. Aku tak peduli, aku tahu dia hanya main-main. Cubitannya bahkan tak terasa sakit, akan lebih sakit jika dia membantingku ke tanah, tapi itu lebih mustahil, karena Elena punya tubuh yang lebih kecil dariku. "Tadaaa! Judul bukunya 'Eros dan kekasihnya Psikhe!' Ini cerita cinta, loh!" Sebuah buku cerita dengan sampul merah muda dan terdapat ilustrasi sepasang kekasih di bagian depannya terpampang dengan jelas di hadapanku yang sedang tak fokus terhadap dunia. Aku sebelumnya tengah sibuk memikirkan hal yang jelas tak penting: seperti duluan ayam apa telur? Ini memang sudah kuketahui apa jawabannya, hanya saja aku bingung kenapa masih saja ada yang mendebatkan teori bumi datar dan bumi bulat? Padahal, bumi itu memang bulat seperti bola! "Aaron, ih! Lihat aku!" Aku yang sejak tadi duduk sambil memandang kosong ke depan sampai tak menyadari kehadiran Elena yang ternyata sudah duduk di sampingku sambil membawa sebuah buku cerita bergambar. Aku menatap lekat buku yang tadi ditunjukkannya padaku. "Buku apa itu?" tanyaku tanpa minat. Sampulnya terlalu mencolok dan ilustrasinya terlihat aneh di mataku. Sampul itu berilustrasikan epasang anak kecil; anak laki-laki berambut ikal warna emas yang memegang panah dan anak perempuan berambut kuning yang membawa keranjang bunga. Mereka melangkah bersama menuju cahaya dari langit. "Ini buku bergambar yang dibelikan Mama kemarin malam, bagus, 'kan?" Elena tersenyum, dari cara bicaranya ia terlihat begitu bahagia. Mau tak mau aku ikut tersenyum melihatnya. Tak ada salahnya jika aku mengikuti kebahagiaan gadis kecil itu. "Bagus, tapi kenapa bukunya tebal sekali?" tanyaku dengan mata yang berbinar takjub. Aku mengambil buku itu dan memperhatikan bukunya dengan cermat. Jumlah halamannya pasti lebih dari 40, lebih tipis dari sebuah novel yang sering dibaca Bibi Shelly, tapi lebih tebal dari buku catatan yang kumiliki di sekolah. Apa ini benar buku yang boleh dibaca anak-anak? Aku hanya bingung dengan sampul depan yang terlihat seperti sebuah buku keagamaan. Ditambah lagi, warnanya terlalu ... terang. "Bukan kok! Ini karena kertasnya tebal! Dan ilustrasinya banyak!" jelas Elena sambil menarik bukunya dari tanganku. "Aaron kan tidak suka membaca!" Aku mengedikkan bahu. "Terserah," balasku. Minatku pada buku di tangannya sudah menghilang. Lagipula, aku tak tertarik dengan buku yang mengandung cinta-cintaan. Aku menginginkan bacaan yang penuh petualangan, aksi dan misteri! Semangat masa muda yang diidamkan anak laki-laki! Ah, aku tak sabar tumbuh dewasa dan melalui banyak hal menyenangkan. Seperti menjelajah hutan sss atau naik ke gunung Everest. Buku yang dimiliki Elena itu, selain tebal juga berukuran besar. Ketika mengangkat buku itu, Elena bahkan harus menggunakan kedua tangannya yang mungil. Lucu sekali ketika dia terhuyung-huyung hanya karena mengangkat satu buku itu saja. Elena kemudian memangku buku itu di atas pahanya, agar memudahkannya membuka dan membolak-balikkan halaman di sana. "Aku akan memperlihatkan isinya padamu!" seru gadis itu setengah berteriak. Aku berpangku tangan dan menopang wajahku, menunjukkan ketertarikan ketika melihat sampul depan cerita di tangan Elena. Aku tak suka bacaan sejenis buku ini, tapi aku akan berpura-pura suka. Aku memperhatikan gerak-gerik Elena, dia sangat bersemangat membuka halaman demi halaman buku ceritanya sampai tak memikirkan jika kertas pada buku itu bisa saja sobek. Aku penasaran isi buku yang memiliki sampul berwarna cerah itu apakah mempunyai cerita yang menarik juga. "Sampulnya menarik, tapi tidak tahu isinya." Aku bergumam dan tak sengaja kedengaran oleh Elena. "Aaron! Kau tak tahu ya apa yang pepatah katakan? Yang don't blame book by its cover? Jangan nilai sampulnya!" Aku menahan tawa dan memalingkan muka. "Bukan blame, Len. Tapi judge, don't judge book by its cover," jelasku. "Terserahlah! Aku akan membacakan cerita ini untuk Aaron. Jadi, Aaron dengarkan baik-baik, ya!" Aku yang tak ingin menganggu Elena yang sedang bersemangat itu pun hanya mengangguk sekilas sambil berganti posisi, menopang tangan yang lain ke dagu. Aku akan memperhatikan Elena dengan konsentrasi penuh, bukankah itu diperlukan ketika mendengar seseorang bercerita? "Di suatu kerajaan, hiduplah seorang raja bahagia yang memiliki tiga orang putri. Putri bungsunya ini bernama Psikhe. Psikhe itu terkenal saaangat cantik! Sampai-sampai ada banyak orang di daerahnya yang menjadi berhenti menyembah Afrodit, dan mulai menyembah Psikhe sebagai dewi kecantikan." Penampilan Elena menjadi pusat perhatianku, selain aku yang masih setia mendengarkan gadis itu bercerita. Elena mengenakan gaun berwarna kuning cerah dengan bordiran warna putih yang mengelilingi kerah leher dan ujung tangannya. "Meskipun Psikhe tidak menghendaki semua perhatian ini, tetap saja Afrodit marah karena kecantikannya tersaingi oleh Psikhe. Afrodit lalu memanggil Eros, putranya untuk menjalankan sebuah misi. Afrodit kemudian menyuruh Eros untuk membuat Psikhe jatuh cinta kepada lelaki terjelek di dunia. Karena sudah terbiasa melakukan tugas seperti itu dari ibunya, Eros pun langsung saja terbang mencari Psikhe." Elena benar-benar cocok dengan gaya rambut barunya ini, dia mengubah gaya rambutnya menjadi pixie cut. Membuatnya lebih terlihat imut. Ditambah lagi, dia mengenakan topi dengan bundaran yang cukup besar berwarna senada. Sangat pas dengan gaun yang melekat di tubuh mungilnya. Diam-diam aku tersenyum saat melihat rambutnya bergoyang kesana kemari mengikuti gerak kepalanya yang sedang asyik bercerita. "Tapi ketika Eros melihat Psikhe, dia malah terpesona sampai tidak sengaja menusuk tangannya sendiri dengan anak panah cinta. Eros pun jatuh cinta kepada Psikhe dan tidak jadi melakukan perintah Afrodit, ibunya." Sepertinya Elena sangat antusias dengan cerita ini. "Lihat, Aaron. Ini dia Eros saat sedang memperhatikan Psikhe!" ucap Elena sambil memperlihatkan ilustrasi pada buku cerita itu. Alisku langsung menyatu begitu melihatnya, ini benar buku anak-anak? Gambarnya sedikit vulgar kurasa. "Mereka kekurangan bahan pakaian," komentarku sambil tertawa menunjuk pakaian Psikhe dalam buku itu. Elena dengan cepat menutupi gambarnya dan mengembungkan pipi. "Ini buku bagus, Aaron. Di Yunani sana juga seperti ini kok kata Mama ...." Aku tak tahu harus membalas apa, tapi Elena benar-benar polos. Aku akan menjaganya selamanya. "Lanjutkan saja ceritanya," kataku, yang langsung diiyakan oleh Elena. "Setelah beberapa lama, Afrodit yang terus memantau Psikhe menyadari adanya suatu keganjilan, kenapa Psikhe belum juga jatuh cinta pada siapapun? Akhirnya Afrodit langsung turun tangan. Ia mengutuk Psikhe sehingga tidak ada seorangpun yang mau melamarnya. Beberapa tahun berlalu, tidak ada seorang pun yang datang melamar Psikhe sementara usianya sudah cukup untuk dia menikah. Orangtua Psikhe cemas dan pergi ke orakel untuk meminta nasehat. Eros membuat Oracle berkata bahwa Psikhe tidak ditakdirkan untuk menikahi seorang manusia, melainkan Psikhe harus menikah dengan suatu makhluk yang tinggal di sebuah gunung. Psikhe dan Orangtuanya bersedih, karena menyangka Psikhe ditakdirkan untuk menikah dengan seekor monster. Setelah perdebatan yang cukup panjang, Psikhe akhirnya berhasil meyakinkan orangtuanya untuk merelakan putri bungsu mereka mengikuti jalan yang telah ditentukan oleh takdir. Psikhe meninggalkan tempat tinggalnya. Semua orang merasa sedih melepas kepergian Psikhe, karena entah disebabkan oleh kecantikan fisiknya atau juga kebaikan hatinya, Psikhe berhasil menjadi wanita yang dicintai oleh masyarakat sekitarnya. Psikhe berjalan menuju gunung yang dimaksud. Ia terus berjalan sambil memberanikan diri. namun karena ia tidak kuat menahan rasa takutnya, ia menitikkan air mata. Tiba-tiba datanglah Zefiros, dewa angin barat. Zefiros lalu membawa Psikhe dari gunung itu menuju seuatu tempat. Setelah diturunkan oleh Zefiros, Psikhe melihat sebuah hutan yang indah. Ia pun berjalan menembusnya, hingga ia sampai ke sebuah tanah lapang yang ditumbuhi rumput. Di tengah tanah lapang itu, terdapat sebuah rumah indah yang nampak seperti istana. Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang mengatakan bahwa tempat itu dibangun untuk tempat tinggal Psikhe dan disana ada banyak pelayan yang tidak terlihat untuk memenuhi kebutuhan Psikhe. Gadis cantik itu sangat gembira mendengarnya. Di malam hari, tempat itu sangat gelap dan tidak ada cahaya sama sekali. tiba-tiba Psikhe mendengar suara seorang laki-laki. Suara itu terdengar halus dan ramah. "Apa ini monster yang dibilang orakel?" pikir Psikhe ragu. Psikhe dan Eros lalu menghabiskan setiap malam dengan berhubungan seksual bersama. Namun Psikhe tidak bisa melihat wujud suaminya karena memang suasananya sangat gelap gulita. Psikhe pun memohon agar suaminya menampakkan diri di siang hari. Namun dengan sedih suaminya terus menolak dengan berkata, "Jika kau melihat wujudku, maka saat itu juga kebahagiaan kita akan berakhir." Lama-kelamaan Psikhe merindukan keluarganya, awalnya Eros menolak tetapi akhirnya mengizinkan saudari-saudari Psikhe datang ke istana mereka. Ketika tahu keadaan Psikhe, saudari-saudarinya jadi iri. Mereka lalu berusaha membuat Psikhe dan suaminya berpisah, dengan harapan sang suami tak dikenal nantinya akan menikahi mereka. Mereka memanas-manasi Psikhe. Menurut mereka, Psikhe harus tahu identitas suaminya, karena bisa saja suaminya adalah monster, seorang monster tentu tidak ingin wajahnya dilihat. Mereka juga menyuruh Psikhe membunuh suaminya itu jika memang monster. Malam itu, Psikhe benar-benar melakukan yang dikatakan oleh kakak-kakaknya. Ia membawa sebuah lentera dan sebuah belati. Awalnya ia ragu, namun kata-kata kakaknya terus terngiang dan ia pun menyalakan lentera. Ketika cahaya lentera menyinari wajah suaminya, Ia langsung menyadari siapa yang selama ini bersamanya. tidak lain adalah Eros sang dewa cinta. Psikhe pun makin mencintai Eros. Namun karena kaget melihat Eros, Psikhe tidak sengaja menumpahkan minyak dari lenteranya ke badan Eros. "Eros merasa sakit sekaligus marah akibat perbuatan Psikhe itu. Eros pun langsung terbang begitu saja dan meninggalkan Psikhe, yang hanya bisa menangis sendirian menyesali perbuatannya." *** "Bagaimana?!" Elena tiba-tiba mendekatkan wajah, aku tersentak dan tangan yang menopang wajahku tergelincir. Aku menatap Elena dengan wajah memerah. Wajahnya tadi dekat sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN