Sial! Tadi itu benar-benar mengerikan!
Kini aku percaya apa yang nenekku katakan! Semua! Semua yang dia katakan, mulai sekarang aku akan selalu mempercayainya! Tak peduli jika yang dikatakannya itu terdengar mustahil, aku akan tetap percaya terhadap apa yang nenekku yakini!
Ya, anggaplah aku ini pengecut! Karena aku memang seorang penakut, pecundang yang memalukan, tapi aku benar-benar ketakutan! Sangat. Ini saja aku sudah berlari tak tentu arah, tak tahu ke mana kaki ini membawa. Aku hanya ingin berlari melarikan diri, menghindar dari mereka yang mungkin saja akan menargetkanku setelah mendapatkan sahabatku.
Ah, Elena, maafkan aku yang lemah dan penakut ini. Seharusnya aku tadi melawan mereka dan menyelamatkanmu. Andai saja aku berani dan meraih tanganmu tanpa rasa takut, mungkin kau masih ada di sisiku dan berlari menuju tempat yang sama denganku saat ini.
Rasa-rasanya aku seperti seorang iblis berwajah malaikat. Maksudku seperti Samael, dia adalah salah seorang dari 7 archangel dalam mitologi yang tersebar di daerah Palestina kuno. Archangel itu adalah Malaikat Agung atau Penghulu Malaikat yang berpangkat tinggi. Banyak agama meyakini keberadaan makhluk-makluk gaib dengan penggambaran yang mirip sekali dengan Malaikat Agung, tetapi istilah "Malaikat Agung" lazimnya berkaitan dengan agama-agama Abrahamik.
Samael diceritakan sebagai malaikat yang baik sekaligus jahat. Nama Samael berarti “Poison of God”. Terkadang Samael juga mendapat sebutan sebagai Angel of Death.
Samael merupakan penguasa dari surga tingkat ke 5 dan mengepalai 2 juta malaikat lainnya. Samael tinggal di surga tingkat ke 7. Samael disebutkan sebagai figur yang berkelahi dengan Yakub, selain itu juga sebagai figur yang menahan tangan Abraham waktu akan mengorbankan anaknya.
Pada mitologi di daerah Palestina kuno, sebelum Eve (Hawa), Adam memiliki istri lain yaitu Lilith. Karena perseteruannya dengan Adam, Lilith dibuang dari Taman Eden. Kemudian Lilith menjadi menjadi istri Samael dan melahirkan para pasukan setan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Samael adalah nama asli Lucifer sebelum dia jatuh ke bumi. Ular yang muncul di Taman Eden juga merupakan penjelmaan dari Samael, karena itu selain digambarkan sebagai malaikat, dia juga seringkali digambarkan sebagai ular yang bersayap.
Jika tampan sepertinya, mungkin tak masalah jika jahat. Tapi aku hanya perlu kekuatannya saat terbang saja! Ah, aku harus bagaimana lagi ini?
Sebenarnya, aku sedang berlari tak tentu arah sekarang. Aku pikir dengan berlari menelusuri jalan yang aku dan keluargaku lewati sebelumnya, maka aku akan berada di jalan yang benar dan tiba lebih cepat, tapi sayangnya, aku lupa di sebelah mana jalan itu?! Benar-benar ceroboh ....
Terpaksa aku harus menyeberangi sungai kecil yang cukup dangkal dan airnya tidak bisa dikatakan deras, aku terpaksa menyeberang karena aku merasa dikejar oleh makhluk-makhluk yang sejak tadi terus mengincarku. Rasanya sangat mengerikan, seperti menjadi pemeran utama dalam film thriller. Kau tahu? Film yang berisi tentang sang tokoh utama yang dikejar-kejar oleh seorang psikopat dan alurnya sangat menegangkan. Uh, tidak yang ini, tidak yang itu, semua sama-sama menakutkan!
Yah, namun ketika melewati air sungai di tengah hutan yang lebat seperti ini, aku jadi ingin bertemu dengannya. Bertemu dengan Nymph yang cantik mempesona, sang Ratu Rawa.
Dalam mitologi Yunani, Nymph adalah salah satu kaum dari makhluk legendaris yang berwujud wanita, tinggal di tempat-tempat tertentu dan menyatu dengan alam. Mereka diidentikkan dengan peri, atau bidadari yang tinggal di alam bebas. Mereka sangat cantik.
Nymph merupakan personifikasi dari alam, dan spirit dari tempat-tempat tertentu yang dapat ditemukan di alam liar, seperti sungai, pepohonan, air terjun, mata air, gunung, dan sebagainya. Mereka terbagi menjadi beberapa golongan sesuai dengan tempat di mana mereka bisa ditemukan.
Karena aku ada di di tengah hutan, akankah aku bertemu dengan Dryad dan Hamadryad? Yaitu Nymph yang tinggal di pepohonan.
Atau karena aku di air, aku bisa bertemu dengan Naiad atau si Nymph air?
Sepertinya akan susah jika ingin bertemu dengan Oread atau si Nymph yang ada di pegunungan, sebab gunung dan hutan Lakebark sedikit berjauhan. Dan tidak mudah untuk ke sana—terutama di malam hari dan kau hanya seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun.
"Hhh ... hhahh. Aduh ... hhhha ... capek." Aku terus mengeluh tanpa kenal waktu dan tempat. Rasa-rasanya aku bisa saja pingsan di atas tanah yang tertutupi dedaunan pohon maple ini karena kelelahan. Atau bagian terburuknya adalah—ditangkap oleh sang goblin. Uh, itu mimpi buruk yang sangat mengerikan.
Aku berhasil melalui sungai meski aku tadi tak bisa membawa kedua kaki berlari dengan cepat menerjang arus. Napasku sedikit memburu dan belum beraturan, tapi aku masih yakin mereka ada di belakangku, mengawasi dirilu. Lihat saja, untuk kali ini aku tidak akan pernah berhenti berlari meski aku benci olahraga yang melibatkan kaki! Tidak untuk selamanya, tentu saja.
Aku mempercepat langkah, sambil sesekali melihat ke belakang.
Di sana, sekilas aku dapat melihat makhluk-makhluk bertubuh kecil dan hijau sedang berlari mengejarku sambil mengeluarkan suara geraman dan tawa yang mengerikan. Tawanya seperti makhluk yang tidak ingin kulihat seumur hidupku, hantu.
Badannya dipenuhi oleh warna hijau lumut—bahkan aku sempat berpikir hal lain saat melihat ada sesuatu yang berjalan cepat di tengah kegelapan, dan aku menanyakan hal itu kepada diriku sendiri. Makhluk apa itu dan di mana aku sekarang? Aku masih tak percaya jika aku berada di hutan Lakebark, seorang diri, di malam hari yang sepi dan hanya berteman dengan cahaya bulan purnama.
Makhluk hijau itu tertawa.
Bukan sebuah tawa bahagia, melainkan tawa dengan nada yang tinggi dan kecil, sebuah tanda dari sang pengantar kematian. Bulu kudukku berdiri seketika, tubuhku semakin merasakan dingin dan aku menggigil meski tak berada di cuaca dingin yang membeku. Suara makhluk yang bernama Goblin itu seperti mengantarkan sebuah perasaan takut tak terkira ke sekujur tubuh.
Oh, tuhan, tolonglah aku! Mulai hari ini aku akan jadi anak baik yang tidak akan lagi mencuri daging asap dari dalam kulkas!
Sudah tiga kali aku hampir jatuh tersandung oleh batu, dan aku juga hanya bisa berharap tak ada sesuatu yang akan terjadi padaku setelah ini. Aku masih berharap keajaiban terjadi pada kedua kakinya, aku berharap masih bisa berlari dan bersembunyi di desa. Aku juga harus menyampaikan berita tentang Elena yang diculik oleh para Goblin kepada para penduduk tersisa di sana, dan hanya aku sajalah yang tahu letak terakhir dari keberadaan Elena. Tempat di mana makhluk-makhluk hijau itu mulai menarik dan membawanya pergi.
Waktu telah berlalu, sekitar 10 menit sejak aku terjatuh bersama-sama dengan Elena dan aku tak kunjung tiba di tanah kelahiranku. Aku tidak mungkin membiarkan Elena dibawa makhluk-makhluk itu lebih lama lagi dari ini, aku tidak ingin kehilangan sahabat terbaikku. Elena selalu ada dalam setiap keadaanku, baik susah maupun senang. Definisi malaikat itu memang benar adanya dan dialah orangnya.
Elena adalah seseorang yang sangat berharga untukku.
***
Aku terus berlari dengan kaki-kaki yang tak memakai alas kaki ataupun kaos kaki. Aku tak peduli dengan luka lecet yang akan kudapat setelah berlari menginjak bebatuan yang sudah pasti akan membuatnya luka dan rasanya sakit sekali.
Beruntung sungai yang kulalui tadi tidak dalam. Hanya saja jaraknya jauh dan aku cemas jika ada makhluk yang menghuni dasarnya, tapi ternyata airnya tadi benar-benar surut. Kau tahu? Aku khawatir jika tiba-tiba disergap buaya ketika melewati sungai, kenyataanya malah aku sampai ke seberang dengan selamat.
Yang aneh adalah aku malah menerobos aliran sungai yang tidak deras itu daripada berlarian di pinggirnya. Yah, kupikir daripada memilih sesuatu yang mudah, kenapa tidak mengambil yang susah saja sekalian? Toh, sama saja, sama-sama memiliki tujuan agar segera tiba di rumah.
Awalnya aku juga bingung harus berbuat apa. Antara menyebrangi sungai atau lewat jalur lain yang rutenya tidak terlalu berat. Namun, jika jalur lain yang dipakai oleh kami waktu itu dijaga oleh para goblin, maka aku akan memutuskan jalan yang sedikit lebih jauh dan sulit saja.
Mana sudi aku mau bertemu lagi dengan makhluk-makhluk jelek itu!
Yah, setelah berbagai pertimbangan yang memakan waktu tak lama, akhirnya aku bisa mengambil sebuah keputusan yaitu berlari di bantaran sungai sambil masih terus memacu kecepatan kaki ini agar aku dapat melarikan diri dari kejaran para goblin yang ada di belakang sana.
Sebenarnya aku tidak tahu apakah para goblin itu akan tetap mengikutiku atau tidak setelah banyak rute yang kulalui. Sebab, aku sudah begitu jauh dari tempat di mana hampir semua warga desa terjebak di sana demi menghadiri sebuah acara yang sangat berbahaya—tempat yang akan kupercayai sebagai pengalamanku di masa depan nanti.
Omong-omong, bulu di tengkukku lagi-lagi berdiri, kulitku meremang. Ini sudah terjadi ke sekian kalinya dan aku telah mengabaikan rasa sakit di telapak kakiku yang tertusuk kerikil-kerikil tajam yang terhampar di sepanjang bantaran sungai. Sudah tak ada waktu lagi, langit semakin terang dari sebelumnya, sepertinya telah masuk dini hari dan aku masih berada di hutan Lakebark—sendirian, dan dengan napas yang terengah-engah.
Pasti bisa! Sebentar lagi aku pulang ke rumah.
Ah, aku benar-benar kewalahan. Berlari bukanlah hobiku sebab aku tidak suka olahraga. Aku benci berlari dan berada jauh dari rumah. Rasa-rasanya seperti aku akan menjadi anak telantar.
"Eh, apa itu?" gumamku kebingungan saat melihat sesuatu di depan sana. Aku yang masih melanjutkan lariku pun semakin dekat dengan sesuatu yang kulihat itu, ternyata ada cahaya terang berwarna kuning dan biru yang terbang melayang-layang di udara. Jumlahnya sangat banyak, mungkin puluhan atau bahkan ratusan? Mendadak aku dikelilingi cahaya biru dan kucing keemasan yang terlihat cantik.
Sebersit hewan kecil yang mempunyai bagian tubuh yang bisa mengeluarkan cahaya melintas di benakku. "Apa ini yang namanya kunang-kunang?" tanyaku kepada diri sendiri. Aku masih belum mengurangi kecepatan lariku. "Pasti ada makhluk merayap di pohon setelah ini."
Dan benar saja, setelah dekat dengan sesuatu yang mengeluarkan cahaya itu, aku melihat berpuluh-puluh hewan yang sering dipanggil oleh orang-orang sebagai peri malam, kunang-kunang. Tak jauh dari sekumpulan makhluk itu, aku melihat ada hewan melata yang menempel di pepohonan, sepertinya itu kadal karena ekornya panjang. Aku pun berdecak lidah kesal. Semakin ngerilah suasana malam ini karena kehadiran hewan-hewan bercahaya itu. Apalagi jika makhluk yang menyerupai kadal—atau cicak—itu mulai bersuara.
Bukannya merasa senang saat menyaksikan ada pemandangan yang bagi orang awam menakjubkan, aku malah memalingkan wajahku dan berusaha mengusir makhluk-makhluk mungil yang sekarang malah mengitari kepalaku. Memang cahaya yang dihasilkan olehnya sangat indah, tapi seharusnya jangan mendatangiku malam-malam!
Benar-benar membuatku risih! Padahal saat ini aku sedang tergesa-gesa ingin segera tiba di rumah dan mengunci diri di kamar.
Aku terlalu 'bersemangat' dalam melarikan diri, sampai-sampai aku tidak memperhatikan sekitar. Kunang-kunang tersebut mengiringi setiap derap langkah kakiku dan mengganggu jarak pandangku dengan cara mengitari kepalaku berulangkali meski telah diusir tiga kali. Padahal aku sudah mengusir mereka, tapi tampaknya mereka makhluk yang jail.
Aku kembali mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah dengan maksud mengusir mereka sejauh mungkin dariku. Ini meresahkan.
"Hus, hus, pergilah!" gertakku kesal pada kunang-kunang, namun mereka tetap tidak menjauh dariku. Justru mereka mulai hinggap di kepala dan kedua tangan. Argh! Makhluk-makhluk yang keras kepala sekali! Tapi, sepertinya akulah yang aneh di sini karena mendadak memarahi hewan yang sama sekali tak bisa mengerti apa yang kuucapkan sebagai manusia. Mereka tidak punya akal pikiran 'kan, ya?
Bisa-bisanya aku bertingkah seperti orang bodoh di saat seperti ini.
Aku mendengkus sebal. Gara-gara berada di hutan Lakebark yang terlarang selama dua jam lebih, kemampuan otakku dalam berpikir malah melambat sedikit. Ya, hanya sedikit, mungkin hanya beberapa persen. Aku masih pintar kok.
Aku masih ingat jalan kembali ke desa, hanya saja aku masih risih dengan makhluk-makhluk kecil yang terus saja mengitari kepalaku.
Aku terlalu sibuk mengusir kunang-kunang yang terus mengganggu konsentrasiku saat masih berlari. Padahal aku sedang berlari kencang, tapi aku harus menyingkirkan semua gangguan agar aku tidak kehilangan laju kecepatan. Jika prediksiku benar, sebentar lagi aku akan tiba di desa. Ini kukatakan karena aku sempat menyentuh sebuah pohon dan aku mengenal lokasinya walau di tengah hutan yang penuh pepohonan ini.
"Argh! Berhentilah menggangguku!" Kunang-kunang itu masih terus mengacau, bahkan aku sampai tidak bisa melihat bahwa ada sebuah batang kayu cukup besar di depan sana yang melintang menghalangi jalan menuju arah kupulang.
Alhasil, saat makhluk-makhluk yang mengeluarkan cahaya terang itu sudah menjauh dariku, karena aku tadi mengibas-ngibaskan tanganku kepada mereka dengan kuat dan cepat, aku langsung tersandung batang kayu yang menghalangi jalan. Aku pun jatuh terpelanting ke depan karena kecepatan berlariku yang tidak bisa diremlah penyebabnya.
Bisa-bisanya aku tak melihat benda sebesar itu dan menghindarinya tadi. Ini semua karena kunang-kunang itu!
Bagaikan adegan slow motion dalam sebuah film, aku pun berteriak kencang, "AAAAAAKHH!"
Ingin seperti tokoh utama di film aksi, aku mencoba memutar tubuhku di udara, sayangnya aku gagal dan malah membenturkan kepalaku di batu. Kepalaku seketika berdenyut-denyut nyeri setelah membentur sebuah batu sungai berukuran besar dengan cukup kuat. Bahkan suaranya tadi terdengar kencang hingga menimbulkan bunyi seperti suara tinjuan seseorang.
Aku pikir ada bagian kulit kepalaku yang sobek dan terluka, sebab rasanya sangat pedih dan menyakitkan. Di lain waktu, ketika sedang berlari aku akan fokus dengan jalanan saja. Tak peduli gangguan apa yang ada di sekitar, aku hanya perlu berlari terus ke depan. Hanya jalanan yang ada. Anggap saja ini janjiku kelak di masa mendatang.
"Uh, kepalaku ...." Rasa sakit yang tiba-tiba saja menghantam kepalaku dengan kuat membuat pandangan mataku mulai memburam, disertai pandangan berkunang-kunang yang tidak mengenakkan.
Rasanya penderitaanku kali ini sangat lengkap.
Rasa sakit di kepala ini tak lagi bisa kubendung. Ini tak jadi masalah jika hanya sebuah luka lecet karena tergores, tapi sepertinya aku terlalu keras menghantam batu tadi sehingga darahnya terus mengalir keluar dan membasahi tenguk leher. Ini semua karena makhluk-makhluk kecil yang terbang mengangguku itu! Jika mereka tak menganggu, mungkin aku sudah sampai di depan gerbang desa. Dasar kunang-kunang jelek! Awas saja jika bertemu lagi denganku!
"Aduh ... sakit." Aku meringis sambil menahan isak tangis yang sebentar lagi akan meluap keluar. "Sakit sekali ... rasanya mau pecah ...."
Ini sungguh sakit, Kawan. Aku tidak bercanda.
Rasa-rasanya itu seperti ada sebuah palu berukuran besar yang terus memukul dan meniban bagian luka di kepalaku ini hingga membuatnya terus berdenyut-denyut dengan kuat. "Ah."
Aku pegangi puncak kepala belakangku yang tadi menabrak batu ketika mencoba berputar di udara, rasanya seperti ada sesuatu yang mengalir di kulit kepala dan aku tidak tahu apa itu. Cairan itu terus mengalir pelan dan kemudian menggenangi kerah baju tidurku.
Rasanya begitu aneh saat ada likuid asing yang kau tak mengetahui apa-apa tentangnya, tiba-tiba saja mengalir di kepalamu malam-malam. Seolah mimpi buruk yang sering digambarkan oleh sang tokoh utama di film romansa yang biasa ditonton oleh Madam Mel—tetanggaku—menjadi nyata.
Dengan perlahan, aku kembali mencoba untuk merabanya sendiri dengan menggunakan jari-jemari tangan panjang dan kurus ini. Setelahnya, aku pun langsung melihat ke jari-jemari tangan yang tadi kusentuhkan ke kepalaku yang terbentur. Di bawah temaramnya sinar rembulan, aku melihat cairan bersifat kental yang membasahi telapak tanganku. Aromanya agak amis dan tidak seperti urin binatang.
Hening sesaat, kupadangi dengan teliti cairan yang kutemukan di atas kepalaku yang terluka. Tidak mungkin itu air biasa, ataupun sirup merah yang biasa dituangkan di atas es. Sontak saja tangisku pecah saat menyadari cairan kental berwarna hitam kemerah-merahan itu, sebab berada di tempat yang minim cahaya, mengeluarkan bau amis yang aromanya sangat tidak sedap
Cairan kental itu darah. Pantas saja kepalaku yang terluka ini rasanya sakit sekali.
Pandangan mataku semakin kabur, aku menghirup napas sebanyak yang aku mampu sampai rasa sakit di kepalaku ini berhasil mengalahkan daya tahanku selama menahan ironi ini. Aku akhirnya terbaring beralaskan lantai hutan yang dingin, penuh dengan kerikil kecil dan juga dedaunan basah yang menempel di punggung.
Nyamuk mulai menggigit tubuhku dengan ramai, dan aku merasa ngantuk. Setelahnya, aku tidak mengingat apa-apa lagi selain riuhnya suara binatang malam di hutan Lakebark yang gelap.
Oh, Tuhan ... apakah aku yang dermawan ini akan mati di sini?