Dua minggu setelah mereka kembali bersama, Maya dan Rendra membangun kembali hubungan mereka dengan hati-hati. Seperti orang yang baru sembuh dari luka, setiap langkah terasa rapuh. Tapi mereka berusaha. Rendra lebih sering mengirim pesan, memastikan Maya baik-baik saja. Maya berusaha percaya, meskip kadang bayangan Cici masih menghantui. Mereka kembali ke rutinitas—sarapan Minggu, nonton film, tidur di sofa. Tapi luka butuh waktu. Dan waktu tidak selalu cukup. --- Jumat malam, apartemen Maya. Maya sedang bersiap tidur ketika ponselnya berdering. Nomor asing. Biasanya dia tidak menjawab, tapi sesuatu membuatnya menggeser layar. "Halo?" "Halo, Maya." Suara itu. Maya langsung tegang. "Cici?" "Iya. Maaf ganggu malam-malam." Maya duduk di tepi tempat tidur. Tangannya gemetar. "Ada

