Rencana Apa Ini?

1452 Kata
Keesokan pagi di kamar hotel 408 dimulai dengan kebingungan yang lucu. Aku terbangun karena suara Maya tercekik. "Apa... apa ini?" katanya, mengibaskan tangan. Aku membuka mata. Ternyata, rambutku yang belum dicuci sejak kemarin telah melakukan ekspansi liar di atas bantal, dan beberapa helainya masuk ke mulut Maya. "Maaf. Itu rambutku sedang memberontak," gumamku sambil menarik rambutku kembali. Maya memandangiku dengan mata setengah terbuka, lalu tiba-tiba tersenyum lebar. "Pagi. Kamu seperti singa yang baru bangun." "Dan kamu seperti... bidadari yang terjebak di sarang singa." Kami tertawa, masih berpelukan. Keajaiban pagi itu: tidak ada yang salah, tidak ada yang macet, tidak ada yang menggangu. Hanya kami, sinar matahari yang menyelinap lewat gorden, dan kenyataan bahwa kami tidur semalaman dengan nyenyak—sesuatu yang belum pernah kami alami sejak petualangan kami dimulai. Tapi, seperti biasa, ketenangan tidak bertahan lama. BRRNG! BRRNG! Teleponku berbunyi. Aku mengangkatnya tanpa melihat. "Halo?" "RENDRA! DI MANA KAMU? JAM 9 ADA RAPAT DARURAT DENGAN KLIEN BARU! KAMU BUKANNYA HARUS SUDAH DI KANTOR JAM 8 UNTUK SET UP?!" teriak Bu Yetty dari seberang sana, suaranya memecah keheningan kamar hotel. Di sebelahku, telepon Maya juga berdering. Dia menjawab dengan suara serak. "Halo? Iya, Pak... Presentasi jam 10? Tapi... (mendengus) iya, Pak. Saya akan ada di sana." Kami saling memandang. Dunia nyata datang menjemput dengan brutal. "Kostumku!" geram Maya, melompat dari tempat tidur. Dress birunya tergantung di kursi, masih agak kusut. "Aku harus ke apartemen dulu ganti baju!" "Aku juga! Baju kerjaku masih di kosan!" balasku, mulai panik. Lima belas menit kemudian, kami sudah berdiri di lobi hotel, terlihat seperti dua orang yang baru melakukan hal terlarang (yang secara teknis, tidak sepenuhnya salah). Resepsionis yang sama dari semalam melirik kami dengan senyum tipis yang membuatku ingin menjelaskan, "Kami hanya tidur! Benar-benar hanya tidur!" Kami berpisah di depan hotel dengan janji akan saling SMS nanti. Tapi alam semesta, seperti biasa, punya selera humor yang aneh. Adegan 1: Perjalanan Pulang yang Kacau Aku naik taksi online kembali ke kosan. Saat taksi berhenti di depan kos, siapa yang lagi-lagi sedang nongkrong di warung rokok? Dua preman receh itu! Salah satunya sedang memegang foto blur yang jelas-jelas adalah fotoku dari CCTV kafe kemarin! Mereka belum melihatku. Aku merunduk di jok belakang. "Bang, jangan berhenti. Terus aja." "Lho, katanya di sini, Bang?" tanya supaya bingung. "Ada... ada mantan. Aku takut. Tolong jalan saja." Supir itu mengangguk penuh pengertian. "Oh, paham, Bang. Saya juga punya mantan yang galak. Saya antar ke halte bus aja ya." Sementara itu, dari chat w******p yang tiba-tiba aktif: Maya (08.17): Aku sampai apartemen. Tapi bodyguard alpukat itu lagi jagain lobby! Aku masuk lewat parkiran basement. Rendra (08.18): Preman ada di depan kosku! Aku lagi muter2. Maya (08.19): Kita kayak agen rahasia yang payah. Rendra (08.20): Tapi yang cantik/ganteng. Maya (08.21): Fokus, Rendra! Kita harus sampe kantor! Adegan 2: Rapat Darurat dengan Pakaian Dalam Salah Aku akhirnya berhasil menyusup ke kosan lewat pintu belakang (setelah menyogok anak tetangga dengan uang 50 ribu untuk memancing perhatian para preman). Aku buru-buru mandi dan ganti baju. Karena terburu-buru, aku tidak menyadari sesuatu yang fatal. Rapat darurat dengan klien baru berjalan dengan intens. Bu Yetty sedang presentasi dengan garang. Aku duduk di sampingnya, bertugas mencatat dan memberikan data pendukung. Saat aku berdiri untuk mengambil proyektor, celanaku agak melorot. Dan di situlah tragedi terjadi. Celana dalamku hari ini bergambar karakter kartun anak-anak—Popo the Clown—pemberian keponakanku yang tanpa sengaja tercampur dengan milikku. Dan celana kerja formal yang agak rendah itu memperlihatkan sekitar 2 cm pinggiran Popo the Clown yang tersenyum lebar di pinggangku. Klien, seorang bapak-bapak serius, memandangiku aneh. Bu Yetty melihat arah pandang klien, lalu matanya turun ke pinggangku. Wajahnya berubah pucat, lalu merah padam. "Rendra," bisiknya dengan nada beracun. "Tolong... atur pakaianmu." Aku cepat-cepat menarik celanaku ke atas, muka terbakar. Sepanjang rapat, aku bisa merasakan tataman panas Bu Yetty di sisi kepalaku. Di sisi lain, teleponku bergetar. Maya (10.05): Presentasi gw kacau. Bos terus nanya kenapa bau parfumku berubah. Katanya aroma "kayu dan donat". Itu parfummu, kan? Aku pake baju yang kemarin sempet dipake kamu. Rendra (10.06): Aku baru aja mempermalukan perusahaan dengan celana dalam kartun. Kita imbang. Adegan 3: Makan Siang yang Tidak Direncanakan Jam 12 siang, kami memutuskan ketemu cepat untuk makan siang—sekalian koordinasi bagaimana mengatasi "masalah sampingan" kita (para preman dan bodyguard). Tempatnya: food court di basement mall yang ramai. Kami duduk di sudut, Maya dengan bowl saladnya, aku dengan nasi padang ekstra pedas. "Jadi, gini rencananya," kata Maya, sibuk memotong daun selada dengan ganas. "Kita harus menyelesaikan ini sekali untuk selamanya. Aku tidak bisa terus-terusan masuk lewat basement. Kamu juga tidak bisa terus bayar anak kecil untuk jadi umpan." "Aku setuju. Tapi gimana?" tanyaku, sambil mengipasi mulutku yang terbakar sambal. "Kita bikin pertemuan. Kita undang mereka semua." Aku nyaris tersedak. "Kamu gila? Itu seperti mengundang singa dan harimau ke kandang yang sama!" "Tepat! Dan biarkan mereka saling menerkam!" matanya berbinar. "Pikirkan: preman itu cuma mau uang. Bodyguard cuma mau flashdisk dan pastikan aku tidak bocorkan rahasia. Kalau kita kumpulkan mereka di tempat umum, beri mereka yang mereka mau, mungkin mereka berhenti mengganggu." "Atau mereka justru bersatu dan menghancurkan kita," tambahku pesimis. Tapi Maya sudah tidak bisa dihentikan. "Tempatnya: taman kota yang ramai. Waktu: besok sore. Kita bawa 'barang tebusan': uang mainan yang lebih bagus untuk preman, flashdisk kosong berisi foto alpukat palsu untuk bodyguard." "Dan kalau mereka tetap marah?" "Kita punya senjata rahasia," ucap Maya, tersenyum misterius. "Apa?" "Dua hal yang selalu berhasil: donat dan panda." Adegan 4: Persiapan yang Lebih Kacau dari Eksekusi Sore itu, kami berbelanja "barang tebusan". Di toko mainan, aku berdebat dengan Maya tentang uang monopoli mana yang lebih meyakinkan. "Yang ini nominalnya satu juta, Mir! Lebih realistis!" kataku. "Tapi warnanya pink, Rendra! Uang beneran nggak pink! Mending yang cokelat ini, nominal lima ratus ribu!" balasnya. Kami akhirnya membeli keduanya, plus satu set uang mainan dari game "Catur Uang" yang malah berbentuk koin emas plastik. Untuk flashdisk palsu, kami membeli flashdisk panda baru (masih ada diskon), dan dengan serius memotret alpukat di dapur Maya, lalu mengeditnya dengan filter hingga mirip foto rahasia itu. Hasilnya: foto alpukat dengan efek glowing seperti alien. "Mereka pasti tahu ini palsu," gumamku pesimis. "Yang penting simbolis. Dan kita punya ini." Maya mengeluarkan kardus berisi donat premium (pengganti Donat Dewa) dan boneka panda raksasa (hadiah dari acara kantornya dulu). "Strateginya?" "Jika preman marah, kita kasih donat. Jika bodyguard marah, kita kasih panda. Siapa yang bisa marah pada donat dan panda?" "Aku punya daftarnya," jawabku. "Tapi oke, kita coba." Adegan 5: Malam Sebelum Pertempuran Kami menghabiskan malam di apartemen Maya, menyusun rencana detail. Atau yang seharusnya detail. Kenyataannya: · Peta yang kami gambar di whiteboard lebih mirik doodle daripada strategi perang. · Skrip yang kami susun penuh dengan coretan dan catatan seperti "jangan lupa tersenyum" dan "jangan terpeleset". · Simulasi percakapan kami berakhir dengan tawa karena kami terus menyela satu sama lain dengan "tapi kalau dia bilang gini?" dan "lalu aku harus loncat ke mana?" Saat larut malam, kami duduk di sofa, lelah tapi gugup. "Kamu takut?" tanyaku. "Ya. Tapi lebih takut kalau harus terus hidup seperti ini, dikejar-kejar," jawab Maya, bersandar di bahuku. "Dan... aku seneng kita melakukan ini bersama. Meski rencananya bodoh." "Aku juga," kataku. "Bodoh, tapi our bodoh plan." Dia menatapku. "Apapun yang terjadi besok, aku senang ketemu kamu, Rendra. Bahkan dengan semua kekacauan, preman, celana dalam kartun, dan resleting macet." "Buatku, justru karena semua itulah aku senang," aku jujur. "Hidupku sebelum kamu itu... datar. Teratur. Membosankan. Sekarang... sekarang aku punya cerita. Dan partner untuk tertawa menghadapi kekacauan." Kami berciuman—lembut, tanpa tergesa-gesa. Tidak ada resleting yang macet, tidak ada telepon berdering, tidak ada bumbu mie yang tumpah. Hanya kami, di sofa, di tengah kota besar yang terus berdenyut. Saat aku akan pulang (karena besok pagi masih harus kerja), Maya menghentikanku di depan pintu. "Bawa ini," katanya, memberikan sebuah totem kecil: gantungan kunci berbentuk donat dengan mata panda. "Jimat?" "Pengingat. Apapun yang terjadi besok, kita punya ini. Donat dan panda. Krim dan... apa sih simbol panda?" "Kegemukan yang menggemaskan?" tebaku. Dia memukul lenganku. "Kebersamaan yang konyol. Itu simbol kita." Aku tersenyum, menggenggam gantungan kunci itu erat. "Sampai besok, partner dalam krim." "Sampai besok, partner dalam panda." Perjalanan pulang malam itu terasa berbeda. Aku masih gugup tentang besok, tapi juga merasa anehnya tenang. Mungkin karena untuk pertama kalinya, aku tidak sendirian menghadapi kekacauan. Ada seseorang yang sama konyolnya, sama cerobohnya, dan sama beraninya (atau sama bodohnya) untuk percaya bahwa donat dan boneka panda bisa menyelesaikan masalah dengan preman dan bodyguard. Besok akan jadi hari yang gila. Tapi setidaknya, kami akan tertawa. Dan mungkin, hanya mungkin, rencana bodoh kami akan bekerja. Atau jika tidak, setidaknya akan jadi cerita lucu lain yang bisa kami ceritakan nanti—sambil lari dari sesuatu lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN