Konflik Mereda

868 Kata

Seminggu setelah pertemuan di kosan, keadaan mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Pelan-pelan. Hati-hati. Seperti orang yang baru sembuh dari sakit, Maya dan Rendra belajar berjalan lagi. Tapi luka masih ada. Bekasnya masih terasa. Dan mereka tahu, penyembuhan butuh waktu. --- Senin pagi, apartemen Maya. Maya bangun dengan perasaan berbeda. Tidak ringan, tapi juga tidak berat. Seperti ada secercah harapan di ujung lorong. Ponselnya berdering. Rendra. "Pagi, sayang." Maya tersenyum mendengar suara itu. "Pagi." "Udah sarapan?" "Belum. Baru bangun." "Aku ke sana. Bawa donat." Maya diam. Donat. Janji 500 dari 1000. "Ren, nggak usah—" "Aku mau. Janji harus ditepati." Maya tersenyum. "Oke." --- Senin pagi, Rendra datang dengan donat. Satu kotak. Bukan dari Cici—dari toko lan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN