47. Bukan bunganya tapi hatimu

1405 Kata

"Gimana kabarmu, Mil?" tanya lelaki itu dengan nada lembut. "Mas? Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Mas kok bisa ada disini?" Mila balik bertanya. Ia tak menyangka akan bertemu di tempat seperti ini. Sebuah pertemuan yang tak terduga. Denny tersenyum. "Iya, dua hari yang lalu aku pulang. Aku rindu Indonesia. Tapi aku lebih rindu padamu." Mendengar ucapannya sontak membuat pipi Mila merona merah. "Ehem ehem, cie cieeee ..." Tiba-tiba Wulan nimbrung, ia senang menggoda kakaknya. Ledekan Wulan membuat Mila makin salah tingkah. Bahkan ia meletakkan barang dalam posisi terbalik. "Mbak, itu kebalik, Mbak." "Eeh, i-iya," sahut Mila gugup, ia tersenyum kaku. "Oh ini--" "Dia Wulan, adikku, Mas," sahut Mila cepat. Denny tersenyum menyapa adik Mila dengan ramah. Wulan mengangguk. "Saya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN