16. Dirundung duka

1505 Kata

"Nak, Dimana suamimu?" Deg! Jantungku berdetak dengan cepat. Firasat seorang ibu memang tak pernah salah. Apakah harus kukatakan semua tentang Mas Haikal? Tapi aku takut badan ibu makin drop. Aku memandang ke arah bapak. "Ibu, ibu coba ibu lihat, ini anak-anak Mila, cucu kita. Lucu-lucu kan mereka?" Bapak mendekat sembari menggandeng si kembar. "Nah, Daffa-Daffi ini nenek. Beri salam pada nenek," sergah bapak. Si kembarku mencium punggung tangan neneknya. "Assalamualaikum, Nek." Ibu tersenyum sembari mengangguk lemah. "Waalaikum salam." "Ini yang digendongan Wulan juga cucu dan ibu lho!" "Boleh ibu menggendongnya?" tanya ibu dengan lirih. Ibu bangkit dari tidurnya dan duduk. Wulan mendekat, dia menyerahkan Alina pada ibu. Ibu tersenyum. Meskipun tangannya gemetaran, ibu tampak an

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN