Laura sebenarnya bingung dengan dirinya sendiri yang menyetujui taruhan dari Dominus. Meski dirinya memang jago bermain basket di sekolahnya dulu, tapi seharusnya juga Laura berpikir bahwa tinggi badannya dengan Gama jelas berbeda jauh. Bisa saja Laura kalah karena lemparan jarak jauh yang dilakukan Gama. Tangan laki-laki itu panjang, kakinya juga, pasti larinya jauh lebih cepat daripada Laura.
Ah, tapi Laura tidak boleh menyerah. Ini demi kebebasan! Apalagi kalau dirinya menang, Dominus akan mengikuti semua maunya selama seminggu.
Gadis itu mulai memasukan peralatan sekolahnya ke dalam tas. Bel pulang berbunyi beberapa detik lalu, dan taruhan akan dimulai sebentar lagi.
Anak-anak kelasnya juga sudah tahu. Ini semua karena Dominus dengan sombongnya mengumumkan itu di depan kelas. Mereka bilang untuk saksi mata.
Laura menoleh menatap Liam yang masih sibuk dengan buku-buku miliknya. Dia sedikit kecewa karena Liam, alasannya taruhan, malah terlihat biasa saja bahkan tidak peduli. Memang laki-laki itu tidak takut kehilangan Laura yang super perhatian?
"Woy, ayo lo keluar!"
Laura mengangguk menjawab Frans. Sepertinya diantara Dominus, Frans adalah laki-laki paling kalem karena meski menatapnya tidak suka, nada suara laki-laki itu terkesan biasa saja.
Dia pun berdiri membawa tasnya. Sebelum benar-benar keluar, Laura memilih menghampiri Liam terlebih dahulu. Dengan tidak sopannya, Laura melepas earphone dari telinga Liam, membuat Liam mendongak menatapnya yang sedikit membungkuk.
"Gue mau taruhan, jadi nggak bisa nebeng deh!" ucapnya.
Liam mendengus, respons manusiawi yang menambah semangat Laura.
"Nggak usah khawatir gitu..." Laura menepuk-nepuk rambut Liam yang lumayan lebat. "Gue pasti memang kok!"
"Pokoknya, lo hati-hati pulangnya! Semangat buat gue!" ucap Laura lagi, lalu meninggalkan Liam sendirian di kelas.
Laki-laki itu menatap punggung Laura yang kini sudah hilang karena ke luar kelas.
*•*•*•*•*•*
Ternyata tidak hanyalah kelasnya saja yang menonton taruhan antara dirinya dan Gama. Anak kelas lain juga! Bahkan adik kelas dan kakak kelas mereka juga ada! Apalagi yang perempuan, beuhhh mereka memenuhi lapangan dan memandang Laura sinis. Benar-benar spesies manusia unik yang baru Laura temui di Hario's High School.
Laura sebenarnya sempat diseret Selly untuk membatalkan taruhan ini. Namun, dirinya jelas tidak setuju. Harga dirinya sudah dipertaruhkan sejak awal.
Kini gadis setinggi 155 cm itu berdiri berhadapan dengan Gama. Dia sudah berganti dengan baju olah raga yang hari ini dia bawa karena antisipasi terkena guyur anak-anak Dominus lagi. Rambutnya diikat menjadi satu agar tidak mengganggu.
"Lo nggak mau batalin aja? Tapi seminggu tetep jadi babu kita sih."
"Nggak kebalik? Gue pasti yang menang!" Laura percaya diri sekali. Dia mendongak dengan sombong.
Gama tertawa. "Bocil kaya lo, lawan gue bisa menang?" Tawanya disusul oleh anak-anak Dominus juga beberapa siswa.
"Mulai aja!" geram Laura.
Dharma pun mendekat membawa bola basket. Laki-laki itu pun berdiri di tengah-tengah Laura dan Gama.
"Jangan nangis kalau kalah," ucapnya sebelum akhirnya melambungkan bola. Jelas Gama yang mendapatkan bolanya lebih dulu.
Laura pun menyusul, berlari mencoba merebut bola yang di-dribble oleh Gama.
Sorak heboh terdengar begitu Gama melompat memasukan bola ke dalam ring.
Laura mengumpat. Dia kalah satu poin. Dalam hati dia merapalkan kalimat penenang karena pertandingan akan diadakan selama setengah jam. Harus tenang, Laura pasti menang!
"Wah, gampang banget tuh! Lo yakin menang? Kesempatan nyerah masih terbuka lebar!" ucap Gama sambil mendribble bolanya. Ketua OSIS itu masih berseragam putih biru dan baju yang sudah keluar dari celana. Dasinya masih ada, tapi sedikit mengendur.
"Gue bisa kok!" Laura menjawab. Gadis itu menatap wajah Gama dengan senyum lebarnya, lebih tepatnya sok tebar pesona, dirinya 'kan pede mampus, cantik lagi!
"Pendek, mana bisa!"
"Bisa! Nih, contohnya!" Hap. Laura merebut bolanya, dia berlari dengan lincah mendribble bola itu, dan yap, dia melompat memasukkan bola ke dalam ring.
Gadis itu menatap Gama dengan senyum lebar, sedangkan yang ditatap tersenyum miring.
Dharma yang menonton di pinggir lapangan tidak lepas mengamati Laura. Gadis yang memeluknya kemarin. Meski bajunya basah, namun bukan dingin yang Dharma rasakan, melainkan hangat. Pelukan seorang wanita dengan rasa hangat pertama yang dia dapatkan.
Matanya mengamati gadis itu yang kini lagi-lagi tertawa karena berhasil memasukan bola untuk kedua kalinya. Dia akui, Laura pandai bermain basket. Meski pendek, dia sangat lincah bergerak ke sana dan ke sini membuat Gama kewalahan.
Gama berlari mendekati Dharma, waktu istirahat selama dua menit mereka dapatkan.
"Anj, dia jago juga," ucap Gama.
Dharma mengangguk setuju, sedangkan anggota Dominus lainnya duduk di belakang bersama dengan para gadis yang menonton.
"Ketinggalan dua poin gue. Tu anak lincah banget!"
Dharma hanya bergumam, dia masih memperhatikan gadis itu yang meneguk minumannya dengan tenang.
Entah sekuat apa gadis itu sampai-sampai dia tahan dengan apa yang mereka lakukan. Bahkan dia masih dengan senyumannya mendekati Liam pagi tadi.
"Jangan kasih dia menang," ucap Dharma tiba-tiba. "Tapi dia bakalan habisin waktu lebih banyak sama gue."
"Kenapa? Ini gue yang by one sama dia padahal," ucap Gama tidak terima.
Dharma berdecak. "Dia berani peluk gue kemarin, perlu dikasih pelajaran!"
*•*•*•*•*•*
Senyum Laura meluntur saat lemparan Gama dari tengah lapangan berhasil mencetak poin. Dia kalah. Dia kalah! Hanya kalah satu poin.
Tawa Dominus memenuhi lapangan, sedangkan anak-anak lain sudah heboh berbisik-bisik karena dia akan kena hukuman. Menjadi babu Dominus selama seminggu.
Dharma, Frans, Felix, Matt, dan Haidar mendekati Gama dan Laura. Mereka tersenyum puas.
"Tugas lo dimulai hari ini," kata Dharma. "Sama gue, pulang sama gue."
Tangan Laura pun ditarik, Dharma tidak memberi gadis itu kesempatan untuk berbicara. Langkah mereka pun hampir menerobos para siswa yang menonton sebelum akhirnya pekikan juga cekalan lain Laura rasakan.
Gadis itu menoleh, mendapati Liam yang menatapnya dengan tajam dan datar.
"Waw, Liam?" Dharma terkekeh. Tangannya memberi kode mencegah anak Dominus mendekat. "Jadi, beneran cemburu hm? Jadian lo sama dia?"
Bugh. Dharma terkapar seketika dan cekalannya pada tangan Laura terlepas. Liam menyeret tubuh Laura keluar dari barisan itu, membawanya ke dekat gudang sekolah.
"Beg*," ejeknya sambil melepas cekalan tangannya.
Laura yang diejek malah memekik senang. Gadis itu kegirangan karena Liam membelanya dan mengatakan satu kata.
"Keren banget lo! Ampun, lo beneran nyelamatin gue?!"
"Lo ngapain sok begitu?! Cari muka lo di depan anak-anak? Lo tahu, lo bakalan diincer sama Dominus dan abis!"
Liam mengucapkan dengan nada dingin.
"Lo tahu nggak sih, gue lakuin demi lo?" tanya Laura dengan senyum. Sekuat-kuatnya dia menahan diri untuk bersabar, dia paham kok kalau Liam itu memang dingin-dingin begitu. Makanya, dia punya misi untuk meluluhkan Liam.
"Tapi gue nggak minta."
"Lo tahu nggak, ini pertama kalinya lo ngomong panjang lebar?"
Liam mendengus, laki-laki itu pun meninggalkan Laura sendirian. Laura? Dia tertawa kecil menatap punggung Liam yang semakin menjauh.
*•*•*•*•*•*