Ada-ada Saja

1128 Kata
Laura meletakan jaket milik Liam di atas meja belajarnya. Dia segera melepas tas punggungnya dan berjalan menuju ke lemari untuk mengambil baju. Gadis itu masuk ke kamar mandi dan berniat menyegarkan diri. Beberapa puluh menit kemudian Laura keluar sambil mengusap-usap rambutnya menggunakan handuk. Dia menatap ponsel yang tidak sengaja terbawa masuk ke kamar mandi. Ada pesan masuk dari Selly sejak pagi hingga beberapa menit lalu. Ati-ati kursinya di lem. Sori gue ga bisa bantu. Lo baik kan? Sori bgt, gue ga maksud ngejauh Tapi jujur gue takut sama Dominus Lo lagian kenapa sih deketin Liam? Gue udah bilang jauhin dia kan? Laura tersenyum tipis membaca pesan dari Selly. Dia tahu kok kalau Selly itu baik, hanya saja karena keenam laki-laki itu membuat seluruh anak sekolahnya takut. Setelah mengetik balasan untuk Selly, Laura pun meletakan ponselnya. Matanya terpaku begitu kembali menatap jaket milik Liam. Warna abu-abu yang begitu pasaran namun entah kenapa Laura menganggapnya istimewa. Apa karena pemiliknya itu Liam? "Dia tadi ngomong," ucap Laura sambil tersenyum. Pipinya bahkan memerah karena berhasil membuat Liam berbicara meski hanya dua kata. "Ah, gue masih kecewa tapi. Harusnya gue ajak ngobrol panjang lebar, bukan malah bengong kek orang beg*!" gerutunya. Laura pun membuka grup w******p, mencoba mencari nama Liam di sisi nomor teman-teman kelasnya. Dari 34 nomor yang tergabung, tidak ada satu pun yang bernama Liam. "Nomornya yang mana?" *•*•*•*•*•*•* "Gimana sekolah kamu? Enak?" tanya Anggara si papa dari gadis cantik bernama Laura. Ya, Laura memang hanya tinggal berdua dengan papa-nya karena kepergian sang mama dua tahun lalu. Tapi, untungnya Laura memiliki papa yang hebat, papa yang mampu mengurus dan membimbingnya selama dua tahun ini. Laura meletakan sendok dan garpunya, meminum sedikit air putih, kemudian meletakan gelas itu di sebelah piring. "Seru, Pa. Cuma kayanya agak aneh." "Kenapa?" "Abis waktu Laura masuk dilihatnya kaya artis gitu, Pa!" Anggara tertawa renyah. "Biasa di kota begini, Laura Sayang. Dulu di desa biasa aja ya?" Laura mengangguk. "Iya! Cuek dan lebih saling menghargai gitu, Pa. Saling sapa cuma nggak alay dan aneh kaya di Hario's High School." "Tapi betah?" "Betah." Laura tersenyum malu. Dia betahlah di Hario's High School, orang ada Liam yang ganteng dan dingin-dingin mirip di cerita yang dia baca. "Bagus, Papa harap kamu beneran betah ya." *•*•*•*•*•* Pagi-pagi sekali Laura turun dari ojek memasuki area sekolahnya. Dia akan menjadi siswa pertama yang datang sesuai dengan tekat yang dia punya. Alasannya tentu saja agar Dominus tidak mengganggu dirinya dengan lem dan hal gila lainnya. Kaki mungil berlapis sepatu putih itu melangkah memasuki ruang kelas yang benar-benar sepi. Selain itu, lorong-lorong dan semua kelas juga masih sepi. Dia berhasil. Laura pun meletakan jaket milik Liam yang sudah dia masukan ke totebag juga ada sedikit makanan sebagai tanda terima kasih. Ah, tentu saja dia memberikan kartu ucapan untuk Liam. Setelah itu, Laura melangkah ke mejanya sendiri. Meneliti setiap sisi meja sebelum duduk karena takut ada apa-apanya. Dirasa aman, Laura pun meletakan tasnya, lalu dia melangkah mulai membersihkan kelas. Ya, dia piket hari ini. Begitu Laura selesai menyapu lantai, satu persatu teman sekelasnya mulai datang. Mereka sempat menatap Laura dengan iba, namun ada juga yang menatapnya sinis dan benci. "Gue udah nyapu, kalian yang piket hari ini tinggal tata meja, kursi, papan tulis, sama jendela," ucapnya lantang di depan kelas. Sayangnya, teman sekelasnya memilih abai. Mereka malah mengeluarkan buku dan sibuk saling berbagi PR. Laura mendengus, gadis itu pun mengambil kemonceng dan mulai membersihkan setiap meja. Tepat di meja yang terisi buku, Laura sengaja menjatuhkan buku-buku itu dengan kesal. "Punya telinga sama mulut kok nggak dipake," gerutunya. "Argh!" Tiba-tiba seorang gadis yang bukunya dijatuhkan Laura menjambaknya. Gadis berambut ikal dan berkulit sedikit kecoklatan dengan mata yang melotot tajam. "Lo pikir lo siapa? Lo cuma anak baru, anak inceran Dominus! Gue aduin tingkah lo ke mereka, lo abis!" ucapnya. Sedangkan Laura justru terkekeh, dia tidak takut jika memang gadis di depannya ini mengadu kepada Dominus. Dia Laura, tentu saja dia tidak akan takut dengan masalah yang jelas sudah diprediksinya. "Laporin aja, gue nggak suka bikin ribut sama tukang ngadu." Laura pun sedikit berjinjit, dia menjambak balik rambut gadis ikal di depannya. "Sakit? Argh! Itu yang gue rasain." "Emang lo sok ya! Gue bakalan bikin lo abis!" Gea mulai mengerahkan kedua tangannya untuk menjambak Laura. Laura meringis, tangannya yang satunya ingin meraih kepala Gea, tapi tidak sampai. Geram karena kesakitan yang diterima, Laura menendang kaki Gea. "Anj!" Gea mengumpat, gadis itu melepaskan jambakannya dan sibuk mengelus-elus kakinya. Sedangkan Laura sibuk mengusap-usap rambutnya yang acak-acakan. Laura segera mundur begitu tahu Gea menatapnya dengan wajah berapi-api. Namun, begitu Gea mendekat, Selly sudah lebih dulu mencegatnya. "Lo mau apain dia hm? Mau gue laporin lo ganggu mangsa Dominus?" Selly menatapnya dengan senyum. Laura tersenyum tipis begitu sadar Selly membelanya. Gadis itu pun segera berlalu begitu mendapat kode dari Selly untuk pergi. Bug. Laura meringis mengusap jidatnya. Dia yang sibuk menatap Selly jadi tidak begitu memperhatikan depan. Cengiran lebar dia berikan begitu mendongak dan mendapati Liam menatapnya dengan datar. "Pagi, Liam!" sapanya. Meski manis, nyatanya hati Laura mengumpati penampilannya saat ini. "Gue berantakan, abis berantem," jelasnya tanpa diminta. Liam ternyata memilih tak acuh dan melewatinya begitu saja. Sialan sekali bukan? Laura pikir setelah kemarin mau berbicara dua kata, hari ini Liam akan menambah jumlah katanya. Dengan kesal Laura pun memilih keluar, gadis itu harus ke toilet untuk memperbaiki penampilannya. *•*•*•*•*•* Bugh. Laura berhasil terjatuh dengan mulus begitu melangkahkan kakinya di luar toilet. Anak-anak yang sedang lewat jelas menatapnya sambil tersenyum senang. Apalagi enam orang yang duduk di depannya dengan gaya sok keren. Meski malu setengah mati, Laura tetap berusaha berdiri dengan hati-hati. Dia hanya berdoa semoga saat dia jatuh tadi roknya tidak membuat masalah ataupun tersingkap dan memberikan pemandangan kepada orang lain. "Gimana? Sakit pantatnya?" Dharma tertawa keras begitu selesai bertanya. "Sakit sih dikit, malunya yang banyak!" Felix ikut bersuara diikuti tawa renyah dari mereka. Gama, si ketua OSIS yang harusnya menjadi panutan pun berdiri. Dia sengaja menundukkan diri agar sejajar dengan Laura yang hanya seukuran bahunya. "Kurang keras ya peringatan dari kita?" Laura mengepalkan tangannya kuat. "Oh, atau lo belum mau berhenti kalau baju lo belum basah kuyup sampe nyepak?" "Dia marah tuh!" Haidar tampak terkekeh senang. "Ini semua karena diri lo sendiri. Harusnya kalau mau tenang lo jangan deketin Liam." "Liam salah apa sih? Kalian dulu temennya juga!" Tawa Dominus meledak seketika. Gama mencengkeram lembut dagu Laura yang begitu lancar membicarakan kata teman di depan mereka. "Lo lihat apa dari seorang pembunuh, hm?" "Lo cuma bakalan berakhir mengenaskan, baik di tangan kita ataupun di tangan dia." *•*•*•*•*•*
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN