Ponsel Maya masih menempel di telinganya, ia menunggu dengan perasaan cemas agar Zevanya segera mengangkat teleponnya. Entah apa yang ada di fikiran Maya sampai dia merasa begitu takut terjadi sesuatu yang buruk kepada keponakannya. “ Ponsel Zevanya tidak aktif! “ seru Maya bicara pada Adam. Tiba – tiba saja pintu Apartemen terbuka dan ketika Maya menoleh ternyata yang baru saja datang adalah Zevanya. Dia senang keponakannya sudah kembali tetapi kini dia terheran – heran melihat bagian dahi Zevanya di perban. “ Ya ampun, Zee! “ Maya berjalan cepat mendekati Zevanya yang kini nampak kebingungan karena melihat ada Maya dan Adam di dalam Apartemennya. Padahal, tadi malam mereka berdua sudah datang kemari dan biasanya mereka akan kembali mengunjunginya minggu depan atau mungkin dal

