Vano tidak dapat memejamkan matanya barang sedetikpun, bahkan senyuman di bibirnya tidak kunjung memudar sejak ia berbaring menatap kosong pada langit-langit kamarnya dalam kegelapan. Vano tidak sabar untuk hari esok. Ia selalu menantikannya. Waktu di mana lelaki itu dapat melihat dunia ini kembali. Kedua matanya tersenyum mengikuti tarikan di kedua sudut bibirnya. Ia benar-benar sulit memercayai akan melihat berbagai warna indah dalam kehidupannya kembali. Bukan hanya warna hitam yang seakan terus mengikis ketidakmampuannya. Kegelapan yang menggerogoti kebahagiaannya, seolah akan berubah menjadi cahaya. Vano tahu, ia harus menunggu. Ya, seandainya saja Renza tidak sibuk dengan tugasnya sebagai dokter untuk pasiennya yang lain malam ini, mungkin saat ini ia sudah dapat menjalankan ope

