71

1840 Kata

Pagi itu, tepatnya di dapur yang biasanya menjadi tempat paling menenangkan bagi Amindita, mendadak terasa begitu asing. Uap panas yang mengepul dari rice cooker saat Amindita membukanya justru mengirimkan gelombang aroma yang membuatnya tersentak. "Ayah... ini bau apa ya? Kok nggak enak. Neg ke aku," keluh Amindita sembari menutup hidungnya dengan punggung tangan. Wajahnya yang semula cerah setelah menjemur pakaian di halaman belakang, kini mendadak pucat pasi. Pak Brotoadmodjo yang sedang menata piring di meja makan menoleh dengan dahi berkerut heran. "Apa nduk? Ini cuma bau nasi matang aja. Memang kenapa? Wangi pandan begini kok dibilang nggak enak," sahutnya sembari mendekat untuk memastikan tidak ada yang salah dengan nasi mereka. Amindita tidak menjawab. Ia justru menjauh dari mej

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN