56

1236 Kata

Lampu neon di ruang tamu kontrakan sempit itu berkedip sesekali, menciptakan bayangan panjang yang seolah menekan suasana di antara ayah dan anak itu. Pak Broto tertegun, tangannya yang sedang memegang cangkir teh tua berhenti di udara. Ia menatap Amindita yang duduk bersimpuh di depannya dengan kepala tertunduk, sementara tas kerjanya masih tergeletak begitu saja di lantai. "Kamu mau ikut Ayah pulang ke Malang, Nduk?" suara Pak Broto serak, sarat akan ketidakpercayaan. "Tapi... urusanmu di sini bagaimana? Pekerjaanmu, suamimu... Nak Pradi bagaimana?" Amindita mendongak sebentar, memaksakan sebuah senyum yang bahkan tidak mencapai matanya. "Dita cuma mau menemani Ayah. Malang udaranya lebih sehat buat Ayah, dan Dita rasa... Dita sudah cukup lama di Jakarta. Dita kangen rumah kita, Yah."

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN