Alena berusaha keras mengembalikan kendali dirinya pada situasinya saat ini. Dirinya tidak memiliki pilihan lain. Ia telah kembali ke tempat kisahnya berawal untuk kedua kalinya. Alena menarik napas dengan begitu dalam seakan membutuhkan banyak oksigen untuk paru-parunya. Alena tertunduk begitu dalam sampai Dr. Anderson perlu memberikannya beberapa helai tisu. Alena masih enggan mengangkat wajahnya. Ia berusaha mengeringkan basah di wajahnya. Alena yang terluka. “Aku mengerti perasaanmu. Katakan apa yang terjadi. Dari hasil pembicaraan terakhir kita, tidak ada kemungkinan untuk hal ini, Alena.” Alena mengangkat wajah cantiknya yang muram pada akhirnya, menatap Dr. Anderson dengan mata berkaca-kaca. Wajah Alena berubah pucat, seakan darahnya telah menyusut dengan cepat. Alena menelan lud

