Kate mempercepat rekaman di hadapannya lagi, dan ketiganya menyimak dengan seksama. Tepat sepuluh menit kemudian suara telepon di apartemen Louisa berdering. Wanita itu sempat mengabaikannya, namun pada dering yang kesekian, Louisa menyambar pesawat telepon dan berjalan ke arah kamar. Wajah Louisa terlihat memerah, matanya berair dan napasnya kembang kempis, terlihat kepayahan lalu menangis sesenggukan. Kate, Nolan dan Rudolf terkejut. “Siapa yang menghubunginya?” desis Kate membuat Nolan dan Rudolf meliriknya. Kejadian yang cepat sampai Louisa bergerak dengan sembarang ke arah sebuah meja. Membuat mata ketiganya melebar menyaksikan Louisa bergerak cepat menuju ke kamar mandi dan menutup pintu di belakangnya. “Sial!” gerutu ketiganya nyaris berbarengan. “Siapa yang telah menghubungin

