Pernikahan Kedua

1025 Kata
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Deandra Mikaela Mora dengan seperangkat alat salat dibayar tunai!" Akad yang baru saja diucapkan oleh Bagas dalam satu tarikan napas itu membuat air mata Dea seketika luruh. Kini, ia harus melepaskan masa lajangnya di umur yang sangat muda, 19 tahun. "Bagaimana para saksi, sah?" Seorang pria paruh baya yang menjadi penghulu dalam pernikahan ini menoleh kepada beberapa saksi yang datang. Tentu saja saksi tersebut adalah orang terdekat mereka saja. Calya dan Bagas tak seceroboh itu dengan mengundang banyak orang, dan membuat pesta besar-besaran. "Sah!" Hati Dea rasanya tak bisa lagi diukirkan dengan kata-kata. Dea mengambil tangan Bagas yang terulur dan menciumnya dengan khidmat. Rasanya seperti mimpi bagi Dea, baru saja ia merasakan mendapatkan KTP. Kini ia harus berganti status menjadi seorang istri. Dan yang lebih membuat hati Dea sakit, statusnya hanya sebagai istri siri. Seusai Dea mencium dengan lembut telapak tangannya, berganti Bagas yang mencium dahi Istrinya tersebut sesaat. "Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri. Semoga kalian bisa menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah," nasihat Pak Penghulu tersebut, sesaat sebelum ia beranjak dari duduknya dan berpamitan pergi. Bagi Dea, pernikahan ini hanyalah petaka baginya. Ia menjadi madu dari Kakak kandungnya sendiri. "Selamat, ya. Kalian berdua sekarang sudah sah menjadi suami istri, dan artinya...." Calya membalikkan kepalanya dan melirik Dea. "Kamu sudah harus menjalankan tugasmu." Sebuah map berwarna merah ia taruh di atas meja yang masih berhiaskan mas kawin yang Bagas berikan kepada Dea. "Itu adalah map berisikan perjanjian yang harus kamu tanda tangani, Dea. Bacalah," pinta Calya. Tangan Dea terulur mengambil map tersebut, ia membukanya dan membaca satu demi satu deretan kalimat yang tertulis di sana. Isi dari perjanjian yang akan dijalani oleh kedua belah pihak di antaranya: 1. Tuan Bagas dan Nyonya Dea akan bercerai jika masa nifas Nyonya Dea telah selesai. 2. Jika dalam kurun waktu satu tahun Nyonya Dea belum bisa memberikan keturunan, maka Tuan Bagas berhak menceraikan Nyonya Dea. 3. Anak dari hasil hubungan Nyonya Dea dan Tuan Bagas secara otomatis akan menjadi anak dari Nyonya Calya dan Tuan Bagas yang sah secara hukum. 4. Setelah berpisah dengan Tuan Bagas, maka Nyonya Dea akan disekolahkan di luar negeri dan hidup di sana. 5. Suatu saat, Nyonya Dea tidak berhak menuntut untuk mengambil anaknya dari Nyonya Calya dan Tuan Bagas. Sekiranya, itulah isi dari perjanjian yang akan dijalani oleh Dea, Bagas dan Calya. Rasanya dunia Dea seketika runtuh ketika membacanya. Baru saja akan merintih hidup baru dalam bahtera rumah tangga, ia sudah disuguhkan dengan perjanjian yang menawarkan perpisahan. Rasanya ia ingin menangis dan mengamuk. Takdir yang ia jalani rasanya sangat rumit. Bahkan untuk seorang gadis belia sepertinya. "Kak... aku nanti masih boleh ketemu sama anak aku kan?" tanya Dea ragu. "Tentu saja, Kakak tidak sejahat itu dengan tidak mengizinkan kamu bertemu dengan anak kamu. Tapi, dengan satu syarat, kamu harus muncul sebagai tantenya, bukan ibunya," ucap Calya. Senyuman terukir di bibir berisi miliknya yang dibalut oleh lipstik berwarna merah mencolok. Hati Dea bagai tertusuk sebilah belati. Sudah akan diceraikan, akan dipisahkan dari anak pula. Ia merasa menjadi orang paling dungu saat ini karena menyetujui permintaan Kakak dan Kakak Iparnya. "Cepat tanda tangani, De. Kamu pasti sudah capek kan mau istirahat juga?" Kepala Dea mengangguk kecil, ia mengambil bolpoin yang berada di dalam map tersebut. Tangannya pun bergerak menorehkan tinta pulpen tersebut di atas kertas bermaterai. Senyum puas tampak di wajah putih bersih milik Calya. Ia mengambil kembali map berisi perjanjian tersebut dan berdiri. "Nah, kalian sekarang bisa ke kamar kalian. Selamat menikmati malam pertama kalian." Calya mengedipkan salah satu matanya ke arah Dea. Ia ingin beranjak dari sana, tetapi Bagas menahan tangannya. Membuat langkah Calya terhenti dan menatap suaminya dengan tatapan bingung. "Kamu ke kamar duluan ya, De. Saya mau ngomong sesuatu dengan Istri saya dulu," pinta Bagas seraya menatap kedua manik mata milik Istri keduanya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Dea pergi meninggalkan kedua pasangan tersebut dengan hati yang dongkol. Ia terus menyumpah serapahi Bagas dalam perjalanan ke kamarnya. "Gimana sih! Baru aja dinikahin beberapa menit yang lalu, udah dicampakin gitu aja. Dasar, ya!" gerutu Dea. Ia bahkan menghentakkan kakinya beberapa kali. Tangannya memutar kenop pintu dan memasuki kamar yang disiapkan. Tampak dekorasi di kamar tersebut cukup mewah; bunga mitigasi di beberapa sudut kamar, dan kasur pengantin yang ditaburi kelopak mawar. Sangat romantis untuk pasangan yang menikah hanya di atas kertas saja, pikir Dea. Tak ingin berpikir lebih panjang lagi, Dea memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur dan memejamkan matanya. Badannya yang masih berbalut kebaya putih itu, tak membuat Dea mengurungkan niatnya. Rasanya tubuh gadis itu ingin remuk, apalagi pikirannya. Ia merasakan kepalanya sangat berat karena terlalu banyak memikirkan tentang pernikahannya. *** Sementara itu, Calya saat ini menatap Suaminya dengan tatapan bingung. "Ada apa?" "Kamu itu bisa gak sih nunggu dulu? Dea itu masih terguncang! Dia baru saja menikah dengan orang yang dia tidak cintai, dan sekarang kamu malah menambah beban pikirannya dengan perjanjian konyol ini? Di mana hati nurani kamu, Calya!" Bukannya kata maaf yang keluar dari mulut Calya, Bagas hanya mendapatkan putaran mata malas yang dilakukan oleh Istri pertamanya tersebut. "Kamu itu kenapa sih belain Dea? Dia lebih penting dari aku? Aku lakuin semua ini juga buat kita, biar suatu saat Dea gak bisa nuntut apa-apa dari anak kita!" Nada suara Calya terdengar naik satu oktaf, membuat Bagas menatap tak percaya wanita tersebut. "Kamu yang kenapa Calya! Kamu bukan seperti Calya yang kukenal, kamu beda! Kamu seperti iblis yang tidak punya rasa terima kasih sama sekali," ucap Bagas, ada nada kecewa yang kental dari nada bicaranya. Tak ingin berlama-lama berbicara dengan Istrinya, yang hanya akan membuat emosinya kembali memuncak. Bagas pun memilih beranjak dari tempat tersebut dan menyusul Istri keduanya. Ketika ia membuka pintu kamarnya, senyumannya seketika terbit di bibirnya. Rasanya emosi yang sedari tadi bersarang di kepalanya meluap entah kemana. Ia menutup pintunya perlahan dan menghampiri gadisnya. Ia bahkan meredam suara langkah kakinya, agar tak membangunkan gadisnya. Dilepaskan jas putih yang ia kenakan dan ikut berbaring di sebelah Istri kecilnya. "Dasar, Bocah. Apa gak gerah tidur dengan kebaya yang lengkap begitu," gumam Bagas. Namun, ia tak memusingkan hal itu, ia memilih ikut tenggelam dalam dunia mimpi bersama Sang Istri. *** Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN