Dongeon tower 8
Pahlawan, sosok yang menjadi sebuah legenda, konon satu orang saja berhasil melampaui kekuatan seribu orang dan berhasil naik kelantai atas dan menyelesaikan semuanya seorang diri.
Dia adalah master beast Dodrita, salah satu orang yang mempunyai satu juta kemampuan. Tidak heran kenapa ada buku kuno yang menceritakan kisah itu. Bahkan saat para pemburu masuk ke menara, merek mendapat sebuah buku kuno yang hanya di anggap sebagai cerita dongen saja. Nyatanya buku itu memiliki satu juta rahasia jika berhasil menterjemahkan beberapa kata kuno yang ada di dalamnya.
"Kita kemana sekarang?"
Alea bergumam sebentar menjawab pertanyaan Augus, dia tengah sibuk membaca buku itu kembali. Di waktu senggang seperti saat ini Alea sering membaca buku panduan itu.
Bahkan dengan Augus yang berupa pedang yang dia tenteng di tangannya. Ada satu hal yang mengganjal di kepalanya, dan hal itu terasa aneh di matanya.
Dia mengangkat Augus, menatap sebentar sisi Pedan hitam itu, lalu melarikan perhatiannya pada buku kuno yang kini memperlihatkan simbol kuno yang sama seperti yang ada di pedang Augus.
"Kau tau, aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan wujud pedang mu ini."
"Maksudmu?"
"Tidak. Aku hanya merasa aneh tiap melihat simbol yang hampir sama sepeti yang ada di buku ini, terlebih kekuatanmu itu, aku merasa ada yang aneh dengan kelebihan yang kau miliki ini."
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."
Ah iya, bodoh juga jika dia berpikir Augus ada kaitannya dengan buku kuno yang hanya dianggap sebagai di gen belaka.
"Lupakan." Ucap Alea sembari melangkah dan membaca beberapa baris lagi sebelum dirinya kembali menyimpan buku itu kembali.
"Kita akan segera pergi ke pelelangan dan menjual apa yang kita dapat, setelahnya kita akan membeli beberapa ini core untuk mengembangkan kemampuanmu dan kita akan pergi menyelesaikan lantai ini."
"Bagaimana kita bisa masuk ke pelelangan?"
"Aku memiliki tenang yang mungkin bisa membantu, kau tenang saja, cukup duduk diam dan nikmati hasilnya."
Karena Alea percaya, sosok ini tak akan pernah menolak dirinya, terlebih beberapa saat lalu dia sendiri yang menawarkan sesuatu yang mungkin bisa membantu dirinya.
Felix, ketua dari serikat flame red dragon, sosok yang akan membantunya setelah dirinya sampai di kota nanti.
Sebelum itu dia harus menghubungi brain dulu, atau malah dia lah yang sudah terlebih dulu di hubungi saat dirinya membuka koneksi panggilannya terbuka.
"Brain...."
"Alea? Apa itu sungguh kau?!"
"Aku bisa menjelaskannya nanti. Ada hal lain yang ingin aku mintai tolong dari mu dan ketua flame red dragon."
"Katakan saja, aku akan berusaha membantumu. Dan kau tahu? Bahkan Felix sedari tadi menunggu kau aktif."
"Aku masih berada di hutan larangan, aku mencari jalan memutar untuk menghindari mereka yang berusaha mendapatkan berita itu."
"Kau di hutan larangan?"
"Ya, dan sebentar lagi mungkin aku akan segera keluar dari tempat ini."
"Aku akan menjemputmu, kirim saja titip koordinasinya."
"Nanti saja setelah aku keluar dari hutan ini, aku masih mencari beberapa buruan di tempat ini."
"Kau serius?"
"Ya!"
"Berapa level mu sekarang?"
Alea terdiam, dia menyadari kekurangannya di bagian itu. Dan jika dia menyebutkan level yang masih sama seperti dulu, jelas Brain tidak akan percaya begitu saja. Sayangnya, Alea masih berada di level lima untuk saat ini.
"Lima."
"Apa?!" Teriak Brain yang seolah tak percaya dengan ucapan Alea. "Jangan bercanda Alea, bahkan dengan level itu bagaimana kau bisa menyelesaikan Raid yang tak mungkin di selesaikan oleh rank tingkat D yang jelas memiliki level tiga puluh ke atas."
"Aku akan jelaskan nanti, aku masih sedikit sibuk sekarang, nanti ku hubungi lagi."
"Baiklah, hati-hati saat berada di sana, hutan itu jelas bukan sembarang hutan dan di sebut dengan hutan larangan, ada rahasia yang tidak bisa di temukan oleh pemburu di dalam sana."
"Ya aku tahu. Aku hanya sekedar lewat di tempat ini."
"Tapi aku merasakan energi lain di sini, seperti sesuatu yang hampir sama dengan apa yang aku miliki." Ucap Agus tiba-tiba, hal itu membuat Alea terdiam sesaat.
"Aku hubungi lagi nanti." Alea mengakhiri panggilannya, dia langsung menatap Augus.
"Apa maksudmu?"
"Aku merasakan kekuatan yang hampir sama dengan kekuatanku, seperti saudara sedarah yang ada di tempat ini."
"Mungkinkah...?"
"Ego!" Ucap Augus seketika.
"Tunggu, bukankah Ego adalah salah satu skill yang di berikan oleh dewa sebagai berkat? Lalu kenapa kau merasa ada ego lain di tempat ini?"
"Entahlah, aku merasa seperti itu. Ada hak yang begitu tak asing aku rasakan di tempat ini."
Alea terdiam, dia mengedarkan pandangannya untuk menentukan apa yang di katakan Augus adalah kebenaran, jika memang ada ego di tempat ini, bukankah hal itu lebih jelas ke sebuah keberuntungan? Atau memang takdir yang membuat mereka bersatu saat ini.
"Tunjukkan jalannya."
"Kau saja yang berjalan mengikuti aba-aba dari ku."
Alea mengangguk. Dia berjalan seperti apa yang di katakan Augus, berjalan ke sisi kanan dan menerobos masuk semak yang ada, dia ingin melihat ada apakah sebenarnya di dalam hutan ini. Bahkan dia sendiri merasa ada sesuatu yang aneh di tempat ini. Seperti sesuatu yang sangat luar biasa. Kekuatan itu seolah melimpah dengan keadaan yang tak sama seperti saat dia mendapatkan Augus, ini lebih kuat biasa lagi.
"Aku semakin merasakannya."
"Sepertinya ini bukan kekuatan yang biasa saja."
"Kau cemas?"
"Tentu saja, apa yang akan terjadi jika yang ada di depan sana adalah Monster kelas A?"
"Bukankah sudah ku katakan jika ini adalah energi sebuah ego."
"Siapa yang tahu. Bisa saja kau salah mengira, lalu jika itu terjadi, apa yang akan ku lakukan?"
"Maka kau akan mati."
"Sialan, jika aku mati kau juga pasti akan lenyap?"
"Aku bisa mencari penggantimu."
"Semudah itu?"
"Tidak!"
"Hahaha, aku tahu kau sudah terikat dengan ku. Hanya urusan dewa yang jelas bisa memiliki kontrak dengan mu."
"Sialan."
Alea melangkah. Dia semakin penasaran saat energi itu begitu kuat dia rasakan, dia hanya cemas saat bertemu monster yang lebih kuat darinya. Apalagi saat ini dia belum sepenuhnya ve kembang. Apa jadinya jika dia harus mati, tidak, membahayakan hal itu saja sudah membuat dirinya takut. Dia akan meminimalkan kemungkinan untuk bertemu monster seperti itu. Dan dia akan lari jika nanti dia merasa tidak akan berhasil menghadapi monster itu.
"Aku rasa ini bukan energi dari monster, maupun ego, energi ini sangat tak asing tapi aku juga yakin, jika dia bukanlah sebuah Ego."
"Maksudmu?"
"Tidak. Aku hanya merasa jika energi ini adalah bagian dari ku, hanya saja aku tidak yakin."
"Apa menurutmu ini bukan sebuah ego?"
"Aku yakin bukan."
"Lebih baik kita pastikan saja." Ucap Alea, langkahnya semakin dekat, dan dia semakin merasakan energi itu, bahkan tekanan yang dia rasakan setiap langkah kakinya seolah sangat berat, energi sungguh luar biasa. Jika saja ini seekor monster maka berakhir sudah hidupnya, Alea tidak akan bisa lari dari kekuatan sehebat ini.
"Tunggu, jangan terlalu gegabah untuk melangkah!"
Alea terdiam seketika. Dia mengedarkan pandangannya, hutan dengan pepohonan kering tanpa daun. Dan tanah gersang serta udara yang tidak mendukung. Bahkan sangat sesak untuk bernapas di tempat ini. Sepertinya kekuatan dari energi ini yang membuat pepohonan dan udara sekitar menjadi sangat sulit.
"Setelah ini aku yakin keadaan akan lebih sulit."
Alea terdiam sejenak, dua tidak yakin untuk melanjutkan, tapi dia juga penasaran. Apa sebenarnya yang ada di depan sana, kenapa keadaan bisa seperti ini padahal sedari tadi dia tidak merasa monster yang ada di area ini. Bahkan goblin yang biasanya bersembunyi di hutan larangan saja seolah tidak nampak di tempat ini.
"Bagaimana menurutmu?"
"Aku terserah padamu?"
"Jika di depan nanti ada Monster yang menggila, apa kau siap?"
"Aku tergantung bagaimana kau menggunakan aku, aku hanya sebuah ego yang berusaha untuk mengikuti kemauan pemilik ku."
Alea kembali terdiam. Dia tidak yakin jika ini akan berhasil, tapi tidak ada salahnya mencoba, dia tidak akan berkembang jika hanya berdiam diri di tempat ini. Masalah akan terus datang dan dia akan kembali menjadi pemburu terlemah di antara semua pemburu yang ada di kota. Jika dia terus saja mempertahankan kebodohannya, dia hanya akan menjadi orang yang tertinggal lagi dan lagi.
Tidak, Alea tidak akan pernah melakukan itu lagi, cukup dulu dirinya diinjak-injak, sekarang dia bukanlah Alea yang dulu. Dia sudah memiliki kekuatan, dan Augus, dia akan berkembang seperti selayaknya pemburu. Tidak akan ada yang menghalanginya sekarang.
"Baiklah. Sudah aku putuskan, Kuta akan maju, jika ini akhir untuk kita maka itu lebih baik dari pada harus kembali dan menjadi bahan hinaan lagi. Aku aku maju, mengambil energi ini dan membuatmu berkembang."
"Bagus, seperti itulah seharusnya pemilik dari pedang hitam yang tangguh ini."
Yah, seperti itu lah seharusnya dia, tidak ada yang harus dia takuti lagi, sudah cukup sekian lama penderitaan itu dia rasakan, sekarang. Saatnya dia bergerak, menunjukkan potensi dalam dirinya, jika dia diam saja, maka dia hanya akan menjadi orang yang tidak berguna lagi.
Alea mengambil bentuk pedang Augus, laku dengan langkah pasti sembari menenteng pedang hitam itu, dia bergerak maju menerjang apapun yang menghalangi dirinya.
Hingga sampai di sebuah area luas, Alea tidak melihat apa-apa di tempat itu, yang dia lihat hanyalah satu tumbuhan dengan nyala api yang luar biasa, tunggu, apakah energi yang dia rasakan tadi dari tumbuhan itu.
Alea melangkah dengan hati-hati, dia berusaha untuk melihat wujud sesungguhnya tumbuhan itu, jika memang itu seperti apa yang dia pikirkan. Maka beruntungnya dirinya. Dengan tumbuhan itu, maka Alea bisa sedikit saja berkembang. Mungkin dia bisa menerobos batas dirinya saat ini dan bisa naik level lagi.
"Apa kah itu hanya sebuah tumbuhan?"
Augus tidak menjawab, dia terdiam sejenak sebelum akhirnya mendengkus kecil.
"Aku tidak yakin, jika itu tumbuhan kenapa ada di tempat ini tanpa ada sebuah perlindungan?"
"Kau benar, sebuah tumbuhan Snapdragon, api abadi tumbuh tanpa ada perlindungan di sini. Sepertinya tidak mungkin."
Karena setahu Alea, tumbuhan Snapdragon adalah tumbuhan yang sangat langka dan di cari oleh banyak pemburu. Satu ekstrak yang di hasilkan tumbuhan ini bisa menaikkan setidaknya pemburu level sepuluh langsung naik ke level enam belas, lalu belum lagi bonus yang bisa di dapat dari tumbuhan ini, statistik yang naik dengan pesat dan debuf yang di hasilkan setelah memakai ekstrak dari tumbuhan ini sangatlah luar biasa.
Alea bergerak memutar. Dia mencoba mempelajari sekitar dan tidak bergerak dengan tergesa-gesa, dia harus mempelajari lingkungan sekitar sebelum melakukan sebuah p*********n.
"Kau benar." Ucap Alea dengan pelan saat beberapa langkah dia berjalan.
"Apa yang kau katakan?"
"Kau benar tentang ada yang aneh dengan tumbuhan sekuat itu tumbuh tanpa ada yang melindunginya."
"Dari mana kau tahu?"
"Aku melihat beberapa bekas pertempuran di sini, coba kau perhatikan. Ada beberapa bekas pemakaian skill dan botol potion yang tergel tak di sudut sana." Ucap Alea menunjuk sebuah botol ramuan yang biasa di gunakan oleh pemburu, entah itu ramuan penyembuh, atau ramuan mana, energi kekuatan yang di gunakan untuk memakai skill.
"Lalu jika memang ada pertarungan, di mana mayat mereka semua, dan sisa armor atau item yang tertinggal."
"Entahlah, itu yang akan kita cari tahu sekarang."
"Aku tidak yakin jika ini ulah pemburu."
"tapi jika ini memang Monster, laku di mana monster itu?"
"Entahlah."
Alea mendesah pasrah, dia mencoba berjalan mendekat untuk memastikan lebih dekat lagi. Tapi saat merasa tanah di depannya mulai bergetar, Alea langsung melompat mundur, tak lama setelahnya dia melihat tanah di depannya amblas dan membentuk sebuah pusaran pasur tepat di sekitar tumbuhan api itu.
"Sudah ku tebak."
"Lizardman?"
"Sepertinya iya, buaya busuk selalu membuat jebakan semacam ini." Ucap Alea saat mengingat kejadian di mana dirinya harus terjebak oleh jebakan semacam ini tahun lalu, saat itu hanya lizardman yang membuat dirinya harus kerepotan saat menghadapi mereka, tapi sekarang. Sepertinya hal semacam itu tidak akan terjadi lagi.
"Bukan, aku yakin bukan lizardman." Ucap Augus tiba-tiba membuat Alea terdiam.
"Lalu?"
"Lizardman tidak akan membuat lingkaran seperti ini, aku yakin ini ulah monster pasir yang sering membuat jebakan untuk menangkap mangsanya.
"Monster pasir?"
"Iya, kau akan tahu setelah kau melempar sesuatu ke dalam sana."
Alea terdiam, bukankah Augus hampir tahu segala hal tentang monster, seolah dia memiliki pengalaman lebih banyak dari pada Alea dalam urusan hal ini.
"Tunggu, kenapa kau seolah tahu segalanya."
"Jangan protes, lakukan saja apa yang aku suruh."
"Ck, kau hanya bisa memerintah." Dengkus Alea lalu mengedarkan tatapannya dan saat dia menemukan sebatang ranting kayu di sana, dia langsung melompat dan meraih ranting itu. Alea hampir saja akan melempar benda itu. Tapi lagi-lagi Augus menahannya.
"Jangan langsung tempat, beri sedikit mana di ranting itu dulu."
"Untuk apa?"
"Lakukan saja apa yang aku katakan, kau terlalu banyak bertanya!"
"Aku hanya penasaran!" Ucap Alea mengelak, tak urung dia mengikuti perkataan Augus, lalu melempar benda yang sudah dialiri oleh mana ke dalam lubang pasir itu.
Dan benar saja, apa yang di katakan Augus bukankah omong kosong belaka, setelah ranting itu menyentuh ujung pasir dalam lingkaran itu, seekor monster yang hampir menyerupai kelabang keluar dari sana dan melahap ranting yang dia lemparkan tadi.