Bab 21 Kecurigaan Lain

1257 Kata
Lorong sekolah pada menit-menit terakhir menuju bel masuk usai jam istirahat masih ramai. Sebagian besar orang masih menghabiskan waktu di luar kelas. Beberapanya tertubruk bahu Sajaka ketika  berlari melewati lorong itu. Sajaka yang dikejar waktu hanya memikirkan supaya ia secepat mungkin tiba di perpustakaan. Ia ingin menemui seseorang yang beberapa hari ini mengganggu pikiran. Semenjak ada orang ini, kehidupannya menjadi aneh. Sulit dijelaskan bagaimana keanehan itu terjadi. Sajaka merasa seperti telah berbeda dengan dirinya yang dulu. Seakaan sesuatu dalam jiwanya terbangun kembali. Sebelum kedatangan Sadina dalam kehidupannya, tidak ada yang lebih menarik dari kegiatan sekolah dan lomba-lomba akademik. Sajaka banyak mengikuti perlombaan antar sekolah sampai lupa berapa jumlah piala yang ia dapatkan. Hari-hari berbau ambisi itu perlahan berubah sejak Selin membawa Sadina tinggal di rumah mereka. Sadina mengisi kamar di dekat kamar Sajaka pula. Langkah lebar Sajaka seperti tengah memutar arah di lampu merah. Pikirannya jadi hanya tertuju pada gadis itu. Jika dulu ia berpikiran bisa mengelilingi dunia lewat buku, ternyata buku saja tidak memberi pelajaran hidup secara keseluruhan. Masih ada dunia ini yang tidak terjamah dan tidak diajarkan lewat buku-buku itu. Perlu pengalaman agar bisa memahaminya. Sajaka baru mengetahui dunia ajaib itu berkat Sadina. Mungkin ini terdengar konyol. Jika teman-teman di The Lost Island Band mengetahui terombang-ambing perasaan Sajaka karena seorang gadis, sudah pasti ditertawakan. Terutama oleh Kevin, sahabatnya yang itu paling senang soal mengejek Sajaka. Namun bagaimana, ya? Memang dunia ajaib itu bukan hanya indah, tapi juga memberinya banyak pengalaman mengesankan. Terutama soal perasaan yang belum Sajaka pastikan namanya apa. Terkadang sangat sulit dijelaskan karena terlalu berubah-ubah. Terkadang juga ia menikmati perasaannya itu karena menyenangkan. Dari kejauhan perpustakaan tampak sepi. Memang biasanya juga menjadi tempat paling sepi di seluruh penjuru Deltaepsilon. Jarang ada yang berkunjung ke sana kalau bukan karena ditugaskan guru mencari buku referensi. Sajaka heran bagaimana bisa seseorang betah berdiam diri menghabiskan jam istirahat di tempat sepi seperti itu. Dan orang itu malah sangat dikenal Sajaka. Semakin dekatnya bangunan perpustakaan, senyuman Sajaka sedikit melengkung kala menemukan gadis berambut panjang itu duduk di meja baca paling belakang perpustakaan. Sadina tidak menyadari sedang diperhatikan dari jendela di luar. Segera saja Sajaka menyimpan sepatu di lemari penyimpanan sebelum masuk perpustakaan. Lumayan lama dari terakhir kali ia berkunjung ke tempat dominan beraroma buku itu. Tempatnya tidak banyak berubah sejak terakhir kali, masih seperti kuburan bagi ribuan buku. "Ketua OSIS?" Seseorang tiba-tiba muncul dari balik meja panjang dekat pintu masuk. Sajaka sedikit tersentak kaget.  "Ngagetin aja, Pak Agus!" "Saya juga kaget sama kedatangan ketua OSIS ke sini. Isi dulu daftar kunjungan." Pak Agus menunjuk komputer di depan meja petugas lewat mata belonya. Sajaka menggelengkan kepala sembari melangkah maju ke depan komputer tempat mengisi daftar kehadiran. Ketika sedang menginput nama dan asal kelas, gerak-geriknya terus diperhatikan Pak Agus. Jadinya Sajaka risih sendiri. "Ada apa, Pak?" "Enggak, cuma tiba-tiba kepikiran, kalau aja siswa sepopuler Sajaka sering datang ke perpustakaan pasti banyak yang ngikutin masuk ke sini juga." "Pak Agus ada-ada aja. Apa hubungannya minat baca anak sekolah ini sama saya yang datang ke perpustakaan?" Sajaka terkekeh bersamaan dengan ditekannya tombol enter di papan ketik. Ia sudah selesai mengisi daftar kunjungan, tapi petugasnya sangat kelihatan masih ingin mengajaknya bicara. Sajaka berusaha agar tidak melesat ke bagian paling belakang ruang perpustakaan mendatangi Sadina. Ia mendengarkan petugas perpustakaan bicara walau fokusnya pada hal lain. Sesekali lewat sudut mata ia melirik barisan buku di belakang. "Ya ada hubungannya. Siapa yang nggak kenal Nak Sajaka di Deltaepsilon ini? Kamu bisa memengaruhi orang lain supaya mau ke perpustakaan dengan kepopuleran kamu itu. Gimana mau nggak jadi brand ambassador perpustakaan kita?" Dalam hati Sajaka mengeluh. Kenapa orang-orang begitu mudahnya memberi ia beban? "Duh, Pak. Berat banget ya jadi brand ambassador. Sedangkan saya ke perpustakaan aja dalam satu semester cuma waktu pembaruan kartu perpustakaan sama pengambilan bahan ajar." Sajaka mengusap telinga. "Maaf nih, Pak. Bukannya saya nggak sopan, tapi untuk sekarang ini minat baca saya juga kurang. Kayaknya saya kurang cocok jadi brand ambassador perpustakaan. Kalau misalnya orang-orang ke perpustakaan karena saya, bukannya mereka mau baca buku malah karena ingin ketemu saya lagi? Kan tujuan perpustakaannya jadi nggak tercapai."  Selain itu ya ... karena tugas-tugas di organisasi masih banyak. Sajaka juga harus memikirkan persiapan lomba sampai akhir semester ini. Di saat yang sama ia sedang mempersiapkan masuk ke universitas. "Iya juga ya. Soalnya citra kamu sangat baik, jadi saya kepikiran sampai sana." Pak Agus menghela napas, seakan menyuarakan kegelisahan tentang sepinya tempat ini. "Kalau Pak Agus butuh bantuan biar perpustakaannya jadi banyak pengunjung, mungkin saya sama temen-temen di OSIS coba bantu cari cara. Gimanapun makin bagus minat baca di sekolah kita, makin bagus juga prestasinya." Sajaka tidak tega melihat keantusiasan Pak Agus redup. Begitu mendengar perkataan Sajaka ini, senyumannya langsung lebar lagi. "Nah, boleh tuh. Tolong ya Nak Sajaka dan anggota OSIS minta bantuannya." "Iya, Pak. Saya usahakan." "Ngomong-ngomong, mau pinjem buku atau baca aja? Eh tapi sebentar lagi bel masuk. Datang ke sininya mepet." "Ada yang perlu dicari aja, Pak. Nggak akan lama." Sajaka tersenyum, tertuju pada salah satu barisan rak buku.  *** Sajaka menyusuri rak-rak berisi buku perlahan. Ia berencana mengejutkan seseorang di ujung ruangan. Dari kejauhan punggungnya yang mungil membelakangi. Sadina menelungkupkan kepala di atas meja baca. Tidak menyadari kedatangan seseorang menuju dirinya. Saat jarak mereka semakin dekat, Sajaka berjalan mengendap-endap. Dari samping terlihat Sadina tengah memejamkan mata. Sebagian rambutnya sedikit menutupi wajah. Sajaka hendak menyentuh bahu Sadina, tetapi tangannya mengambang di udara ketika ponsel di atas meja layarnya menyala. Tanpa sengaja sebuah notifikasi pesan yang muncul di layar terkunci itu terbaca. Kening Sajaka mengernyit. Rasanya itu bukan notifikasi dari aplikasi pesan singkat yang biasa digunakan saat ini. Notifikasi pesan lain berdatangan membuat lambang dari aplikasi yang sangat asing bagi Sajaka semakin sering muncul. Sajaka merasa familiar dengan lambang aplikasi pesan itu. Sementara getaran ponsel pada akhirnya membangunkan Sadina. Gadis itu mengerjap begitu menyadari seseorang berdiri di sampingnya. "Sajaka?" Sadina mengucek mata sembari duduk tegak. "Ngapain kamu di sini?" Entah mengapa dari usaha Sajaka mengingat-ingat tentang lambang dalam pesan yang muncul di layar ponsel Sadina, yang terlintas dalam ingatannya malah perkataan Kevin tentang web misterius. Pantas saja terasa familiar, sebelum berlari ke tempat ini ia melihat dulu laporan tentang web misterius itu. Ada sebuah gambar yang sekilas mirip dengan lambang aplikasi pesan yang barusan muncul di ponsel Sadina. Mereka masih menyelidiki masalah ini. Namun, apa ada kemungkinan Sadina diam-diam ikut ke dalam lingkaran web itu? Sajaka menatap gadis di hadapannya dengan tajam. "Udah bel masuk?" Sadina bingung Sajaka diam saja. Ia menoleh ke arah jendela mendengar musik bernada riang tanda jam istirahat telah berakhir. "Sadina." Sajaka lagi-lagi mengabaikan pertanyaan Sadina. Ia memegang bahu Sadina dengan sedikit memaksa agar mereka saling bersitatap. Sadina mengerjap kaget. Menanti ucapan yang menggantung di mulut Sajaka. "Kalau ada apa-apa jangan sungkan buat cerita. Kamu nggak perlu nyari hal lain selagi ada aku yang bisa dengar masalah kamu." Sesaat Sadina dibuat tertegun. Apa lagi kesalahannya sehingga Sajaka mengatakan ini? "Aku cuma agak sensitif akhir-akhir ini. Maaf sempat marah sama kamu kemarin. Aku kecewa aja belum bisa bikin kamu terbuka. Untuk perkataan barusan itu beneran aku ingin jadi orang yang kamu cari di saat senang dan sedih. Nggak ada rahasia lagi, Din." Seakan sengaja tidak membiarkan lawan bicaranya mengatakan kalimat balasan, Sajaka tanpa kata menggenggam tangan Sadina dan menariknya. Sadina harus menyeimbangi langkah cowok menyusuri rak-rak buku. Sajaka menoleh ke belakang ke sekilas. Kemudian genggaman tangannya semakin erat, tetapi tidak menyakiti. Sadina malah merasa terlindungi. "Bel udah lama, kita ke kelas sekarang, ya?" Sadina hanya menurut saja, tidak banyak bicara. Tanpa ia ketahui cowok yang berjalan di depannya tengah memikirkan banyak hal. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN