Detak jantung Sadina hampir berhenti ketika Tris yang sering disebut pangeran berhati dingin menyampirkan kemeja flanel ke bahunya. Habis itu Tris tanpa dosa melenggang lebih dulu. Sampai beberapa langkah kemudian berbalik menyadari Sadina tak bergerak di tempat yang sama, Tris berdecak, "Mau sampai kapan bengong di situ?"
Sadina tak pernah menyangka sikap dingin Tris bisa memberi efek kebalikannya. Perasaannya berubah hangat. Sedikit demi sedikit ketakutan selama terkurung di dalam gudang sekolah menghilang.
"Gue tinggal nih?" ancam Tris padahal tak sungguh-sungguh.
Perkataan singkat Tris menyadarkan Sadina dari ketertegunannya. Sadina berlari kecil mengikuti langkah Tris menuju lapangan sekolah. Tris membelah kerumunan penonton di lapangan. Sebentar lagi petang, tetapi suasana tak menampakkan tanda-tanda akan berakhir. Mereka berpesta seolah tiada lagi hari esok.
Ini sangat baru bagi Sadina. Dimana orang-orang di sekolahnya serempak menggila karena musik. Mereka meloncat-loncat sambil sesekali bernyanyi. Di tengah keramaian itu Sadina kehilangan Tris. Tubuh kecilnya terdorong mengikuti arus. Cowok yang memakai kaus hitam dan menggendong tas gitar jadi hilang dari pandangannya. Tris tenggelam dalam lautan putih abu.
"Tris?"
Sadina berputar, mencari keberadaan Tris. Hanya terlihat orang-orang berpakaian seragam putih abu saling berdesakan, riuh tepuk tangan, dan musik berdengung. Sepertinya ia yang tenggelam dalam lautan putih abu. Tak ditemukan celah untuk keluar dari keramaian itu. Ia bisa mati pelan-pelan karena kehabisan napas jika berdiri terus di sana.
Sadina menyerah.
Tak pernah bisa ia bernapas dalam keramaian meski itu di ruang terbuka dan udara bisa dengan leluasa dihirup. Lulutnya lemas sehingga tak mampu menopang berdiri. Sadina berjongkok. Beberapa orang di sekitarnya melirik iba, tetapi hanya sekilas sebab riuh penonton dari depan panggung merambat sampai ke pojok lapangan. Mereka menyambut penampilan band dari luar.
Ritme musik kali ini lebih cepat. Seirama dengan setiap tarikan napas Sadina yang semakin berat dan cepat.
Di ujung kepayahannya, Sadina merasa ada seseorang yang menyibak kerumunan dan sengaja berhenti di dekatnya. Sadina mendongak, detik itu Tris menangkap lengannya. Sadina hampir limbung di tengah kerumunan orang.
"Sadina!" bentak Tris tapi tersamarkan oleh volume keras musik.
Dengan kesal Tris menarik lengan Sadina hingga berdiri. Ia menyeret Sadina keluar dari lautan penonton tak peduli betapa kesusahan cewek itu mengikutinya. Sadina tersandung-sandung, menubruk banyak orang sampai tubuhnya sakit. Sadina berusaha melepaskan diri. Cengkeraman Tris malah semakin kuat.
Mereka berhasil keluar dari kerumunan. Di sana Tris langsung menepis genggaman tangannya. Sementara Sadina mengatur napas dan perasaan sakit hati. Barusan itu Tris keterlaluan. Menurutnya ada cara lebih baik tanpa harus menarik paksa. Sadina melihat pergelangan tangannya bekas cengkeraman Tris tadi. Sajaka saja yang selalu kepo kegiatan Sadina tidak pernah begini.
"Lain kali kalo ngilang kayak tadi lagi, gue nggak akan cari. Susah banget emangnya ngikutin doang?"
"Kamu yang ninggalin aku!" Sadina tak terima.
Kalau mereka lewat ke jalan tanpa hambatan pasti akan mudah mengejar.
"Sekarang dia nyalahin gue," gumam Tris masih bisa didengar.
"Kalau kamu jalannya pelan sedikit aku nggak akan ketinggalan."
Tris menggelengkan kepala samar, kiranya Sadina tak mendengar gumamannya.
Lampu mobil di samping mereka berkedip bersamaan bunyi alarm auto unlock. Tris membuka pintu tengah. Ditaruhnya tas gitar ke atas kursi. Di dalam sana terlihat juga beberapa peralatan musik. Waktu menutup pintu, mata mereka saling tersirobok tanpa sengaja.
"Masuk!" Tris memiringkan kepala. Pintu depan sudah terbuka. Menandakan tempat itu untuk Sadina.
Kalau dari cara Tris menggeser kacamata yang membingkai kedua bola mata tajamnya, Tris akan melakukan tindakan kekerasan lebih dari mencengkeram pergelangan tangan sampai keluar kerumunan seperti tadi. Makanya Sadina buru-buru masuk ke mobil sebelum Tris mengembuskan napas penuh kekesalan.
Dari Tris membanting pintu, menyalakan mesin, sampai sepanjang perjalanan Sadina dipeluk ketegangan. Saat itu--meski ia menyukai aroma pengharum dalam mobil Tris--napas pun rasanya harus dilakukan perlahan. Takut konsentrasi menyetir Tris terganggu.
Sadina bergidig ngeri, tiba-tiba teringat obrolan cewek-cewek di kelas tentang anggota The Lost Island. Banyak diantara mereka menyukai Tris. Apa mereka tahu Tris bukan hanya dingin kelihatannya, tapi aslinya juga dingin?
***
Masalah Sadina tidak berhenti setelah bebas dari mencekamnya diantar pulang Tris. Begitu Sadina membuka gerbang rumah, di teras telah berdiri Sajaka. Rasa-rasanya seperti Sajaka sudah lama menunggu kedatangan Sadina. Sebab begitu tatap mereka bertubrukan bersamaan dengan bangkitnya Sajaka dari tempat duduk.
Sajaka tak kelihatan ramah. Sorot matanya lebih tajam dari biasa. Sadina melangkah hati-hati sambil terus menunduk. Ia bisa merasakan sepanjang ia berjalan dari gerbang ke teras rumah, Sajaka terus mengamati.
"Baru pulang?" tanya Sajaka kemudian, tepat setelah Sadina hendak mendorong pintu. Suara cowok itu begitu dingin menghentikan langkah Sadina. Diam-diam membuat Sadina menelan salivanya kasar. Sebenarnya Sadina takut, tetapi ia harus menghadap pada Sajaka dulu kali ini.
Perlahan Sadina membalikan badan. Tali sepatu yang lepas masih menjadi pemandangan utama Sadina. Namun matanya menjelaskan semua kegugupan. Isi kepala terisi penuh, memikirkan kemungkinan perubahan emosi Sajaka saat ini. Sajaka pasti marah karena tak satu pun panggilannya dijawab tadi siang.
"I-iya."
Sumpah ya, Sadina ingin cepat-cepat masuk ke dalam rumah, beristirahat. Seharian ini ia mengalami banyak tekanan. Tubuhnya letih kalau boleh mengeluh.
Sajaka memerhatikan gerak-gerik Sadina. Berharap cewek di hadapannya balas menatap. "Gue tampil tadi. Lo berdiri di sebelah mana?"
Sesuai dugaan, pasti Sajaka akan membahas ini.
"Jaka ..., maaf. Tadi aku di perpustakaan--"
"Oh ..., iya nggak apa-apa," potong Sajaka sebelum ucapan dari mulut Sadina rampung. Mendengar nada kecewa itu Sadina mendongak, tetapi ia kembali mendengar kekecewaan tambahan dari Sajaka. "Ya udah, nggak penting juga kok. Kalau gitu mending lo buruan masuk sana. Mama dari tadi nanya kapan Sadina pulang."
Seketika ganjalan besar menghimpit rongga d**a. Sadina menggeleng, bukan begini seharusnya. Selama terkurung di dalam gudang itu, Sadina memikirkan bagaimana menjawab pertanyaan Sajaka tentang tidak hadirnya ia di acara pentas. Alih-alih bisa menjelaskan agar Sajaka mengerti, Sadina malah membuat cowok itu pura-pura tidak peduli. Padahal sangat jelas Sajaka sedang menahan kesal.
"Jaka."
Biasanya Sajakan akan langsung menyahut tiap dipanggil. Ini menoleh pun tidak.
"Aku memang nggak nonton di lapangan, tapi aku denger nyanyian kamu."
Gepalan tangan Sajaka perlahan mengendur. Wajahnya telah menghadap Sadina sepenuhnya.
"Aku berharap bisa nonton kamu."
"Terus kenapa nggak datang?" tagih Sajaka.
Sadina kembali memikirkan alasan supaya Sajaka tidak mengetahui apa yang terjadi padanya tadi. Gara-gara mengetahui Sadina di rundung saja persahabatan Sajaka dan Davia renggang hingga kini. Jika Sajaka tahu kejahilan Davia kali ini sampai menghancurkan ponsel Sadina, bukan hanya marah Sajaka mungkin akan mengamuk. Lalu tidak tahu akan bagaimana nantinya dengan persahabatan mereka.
"Kenapa juga teleponnya nggak dijawab? Kenapa semua chat nggak dibalas? Gue tahu di perpustakaan nggak boleh berisik, tapi bisa kan pake mode silent? Seenggaknya kasih kabar. Lo bikin gue nunggu di panggung. Dan kenapa--" lo diantar pulang cowok lain, Sadina...? Sajaka memalingkan muka. Pertanyaan itu tak bisa ia utarakan, hanya terdengar dalam hati.
"Maaf ...," lirih Sadina menunduk semakin dalam.
Sajaka mendengus, bosan mendengar permintaan maaf Sadina. Perasaannya sungguh sedang buruk. Jika dilanjutkan percakapan mereka akan menyakiti. Akhirnya Sajaka masuk ke dalam rumah lebih dulu meninggalkan Sadina yang bergeming di depan pintu.
Sadina menyaksikan punggung Sajaka menjauh dengan sedih. Ia telah membuat banyak masalah hari ini.
Sadina mengusap ponsel dari dalam saku rok abunya. Benda persegi itu mati total. Entah bisa diperbaiki atau tidak.