Hal yang pertama kali terasa pada tangannya adalah genggaman yang hangat dan rasa pusing dikepalanya yang begitu berat. Nafisah menoleh ke samping, Danish terlihat tertidur sambil menyembunyikan wajahnya pada lipatan tangannya. "M.. Mas.." panggil Nafisah serak. Tubuhnya tak berdaya, tak hanya itu. Rasanya iatidak sanggup hanya untuk berbicara. Nafisah mencoba untuk bangun, namun rasanya sulit. Sayup-sayup Danish membuka matanya, detik berikutnya tatapannya langsung sadar dengan jelas. "Alhamdulillah, Nafisah.. Ya Allah, akhirnya kamu sudah bangun." Nafisah tersenyum lemah. Sementara Danish langsung menegakkan tubuhnya bahkan mencium punggung tangannya. Tatapan Nafisah terlihat sayu, wajahnya pucat dengan bibir yang putih. "Tadi aku langsung kesini begitu kamu sudah sadar. Tapi ka

