Beberapa lama, yang ada hanya diam. Aku beringsut naik ke atas petiduran, menelusupkan kepala di bawah bantal, meredam tangis yang semakin lama semakin tak bisa kukendalikan. Allah .... Aku lelah. Kapan luka ini bisa tertutup sempurna? “Astaghfirullahal’azim …," ucapnya terdengar penuh sesal. Sesaat kemudian dia menyusul naik ke atas ranjang, memegang pelan bahuku, menyingkirkan paksa bantal yang kugunakan untuk menutup wajah, kemudian mencium lembut kepalaku. Terdengar dia berulang kali menghela napas berat. "Maaf," ucapnya berulang, "Maaf, Anin. Maafkan saya." Aku tetap bergeming, berbaring membelakanginya. Kubiarkan tangis mengguncang tubuh. Rasa kecewa dan marah padanya berbaur dengan kemarahan pada takdir yang menimpa. Bertahun-tahun berlalu, bayangan yang telah coba kutepi

