Pekanbaru, Riau.
Jet pribadi Rafael baru saja mendarat di bandara dengan area khusus pendaratan jet pribadi. Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II menjadi lokasi Rafael saat ini. Sebuah mobil mewah berwarna hitam menjemput Rafael.
"Kak!"
Suara berat dari dalam mobil membuat Rafael menengok, memutar kepalanya ke belakang.
"Felix!"
Felix tertawa kemudian keluar dari mobil dan memeluk Rafael.
"Aku kira kau lupa jalan pulang kak!" sindir Felix.
Felix Benzema. Merupakan adik laki-laki Rafael. Felix anak kedua dari tiga bersaudara. Saat ini berumur 24 tahun. Dan hanya selisih lima tahun dengan Rafael. Felix baru saja menyelesaikan S2 nya di Inggris. Cerdas, pintar, dan cekatan Felix dipercaya dengan cepat oleh orang tuanya untuk memegang perusahaan Benzema Tower.
Rafael terkekeh kemudian melepaskan pelukannya. "Kau apa kabar?"
"Baik kak, bagaimana dengan kau?"
"Selalu baik," ucap Rafael.
"Maafkan aku yang telat menjemputmu."
"No problem."
"Dimana kak Jelena?"
"Dia tidak ikut," ucap Rafael.
"Ayo kak masuk!" Felix mengajak Rafael memasuki mobil mewah itu.
"Kenapa kak Jelena tidak ikut?" tanya Felix setelah mengendarai mobilnya.
"Sedang di Dubai."
"Liburan?"
"Fashion show katanya."
Felix hanya mengangguk-anggukkan kepala.
"Bagaimana kabar papa dan mama?" tanya Rafael.
"Mereka baik."
"Mama pasti akan sangat bawel jika bertemu denganmu kak," ucap Felix menahan kekehannya.
"Ya aku tahu."
"Kau kan anak kesayangan mama," goda Felix.
Rafael mencebikkan bibirnya. "Bagaimana dengan Chelsea?"
"Kemarin skripsinya ditolak," bisik Felix.
Rafael terbahak mendengar info dari Felix. Adiknya yang satu itu memang pemalas. Mungkin karena anak bungsu dan dimanja oleh orang tua serta kakak-kakaknya.
"Aku tidak bisa membayangkan wajah masamnya."
"Kau tahu kak, setelah skripsi ditolak. Seluruh penghuni rumah kena omel sama dia."
"Dia harus belajar denganku bagaimana cara merayu dosen supaya tidak ditolak skripsinya."
Rafael tertawa keras, kemudian Felix pun ikut tertawa menceritakan adik perempuannya yang sangat bar-bar.
Tiga puluh menit kemudian mobil Felix memasuki kawasan rumah orang tuanya. Kediaman Benzema di Pekanbaru sangat megah. Parkirannya sangat luas, di depan ada air mancur dan taman bunganya.
Berlokasi di sebuah kawasan elit Pekanbaru, rumah tiga lantai ini berlapis emas. Hampir seluruh rumah dihiasi ukiran pada dinding, tiang, hingga ke langit-langit. Beberapa ukiran juga dilapisi bubuk emas asli. Dinding serta pintu dihiasi ratusan kristal Swarovski yang digunakan mempercantik rumahnya.
Tangga yang menghubungkan lantai satu, dua, dan tiga semuanya terbuat dari marmer berkualitas tinggi yang di pesan khusus.
Rafael keluar dari mobilnya, Kenny sudah berdiri di ambang pintu menunggu Rafael pulang.
Kenny Benzema. Merupakan Mama Rafael, dari kejauhan Rafael sudah melihat Kenny menahan air matanya.
"Ma ...." Rafael mendekat kemudian memeluk erat Kenny.
Kenny membalas pelukan Rafael dengan erat seerat-eratnya. Felix yang berdiri di belakangnya hanya tersenyum haru.
"Kau sudah lupa dengan Mamamu ini?" Satu kata yang keluar dari bibir Kenny setelah beberapa bulan ini tidak bertemu.
Rafael tertawa kecil kemudian melepaskan pelukannya.
"Mana mungkin aku melupakan Mama cantikku ini," goda Rafael.
Rafael mengusap pipi Kenny yang basah karena air mata. Rafael memandang wajah Mamanya, walaupun sudah tua tetapi aura kecantikannya tidak luntur.
"Dimana Jelena?" tanya Kenny.
"Dia tidak ikut, sedang di Dubai."
"Sedang apa dia disana?"
"Ada hal penting yang tidak bisa ditinggalkan."
"Kakak!" Suara cempreng dari dalam membuat Rafael tersenyum.
"Aku merindukanmu," ucap Chelsea kemudian memeluk erat Rafael.
Rafael membalas pelukan Chelsea. "Tapi aku tidak," ucap Rafael datar.
Chelsea melepas pelukannya kemudian memukul lengan Rafael. "Jadi begitu ya, kalau kau tidak rindu padaku kenapa pulang?" omel Chelsea melototkan matanya dan berkacak pinggang.
"Astaga, jangan galak-galak Sea nanti nggak ada cowok yang mau deketin," sambar Felix.
"Biarlah, kau yang ramah saja tidak ada cewek yang deketin," ejek Chelsea.
Lalu mereka pun tertawa dengan obrolan-obrolan kecil ini.
"Ayo masuk! Papa sudah menunggu di dalam," ajak Kenny.
***
Zahira baru saja keluar dari kamar mandi. Ia memakai kimono berwarna putih dan duduk di meja rias. Zahira sedang mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Zahira menatap dirinya di pantulan kaca. Zahira tersenyum menatap kalung liontin yang Rafael berikan. Ia bahkan tidak menyangka hanya mengantar membeli Rafael kado untuk adiknya, ia dibelikan kalung liontin yang harganya mencapai miliaran.
Ini adalah pemberian termahal yang Zahira terima. Sebelumnya ia tidak mengetahui jika kalung liontin yang diberikan sangat mahal. Tapi Iren lah yang mengatakan jika kalung liontinnya sangat mahal. Bahkan masih sangat langka di Indonesia.
Zahira tersenyum jika mengingat Rafael. Tak menyangka Rafael begitu ramah padanya. Apa Rafael memang tipe cowok yang ramah?
Namun, ia ingat jika Rafael adalah CEO tempat Iren magang. Yang pernah Iren ceritakan jika CEOnya ramah dan tampan.
Malam ini Zahira ada janji dengan Satya. Satya mengajak makan malam di Garden Cafe. Cafe semasa SMA yang sampai saat ini masih sangat familiar.
Zahira bergegas memakai pakaiannya dan berdandan seperti biasa. Zahira memakai make up tipis. Rambutnya dibiarkan terurai seperti biasanya.
Ia berjalan keluar dari apartemen dan menyetop taxi. Zahira tidak mau di jemput Satya karena tidak mau merepotkan. Toh ia juga sudah biasa jika kemana-mana naik taxi.
Beberapa menit kemudian Zahira sampai di Garden Cafe. Ia mendapat pesan jika Satya sudah datang dan menunggu di dalam.
Zahira celingukan mencari keberadaan Satya. Sampai akhirnya Zahira mendapat pesan kembali jika Satya memesan private room.
"Akhirnya kau datang Zahira," sapa Satya ketika Zahira duduk di hadapannya.
"Aku selalu menepati janji," ucap Zahira tersenyum.
"Kau tidak berubah."
"Apanya?" tanya Zahira menatap heran.
"Senyummu."
"Senyumku?" Zahira memastikan.
"Ya, selalu bikin candu."
Zahira hanya menghela nafasnya.
Satya terkekeh. "Kau mau pesan apa?" tawar Satya.
Zahira mengambil buku menu kemudian memilih-milih makanan.
"BBQ, minumnya strawberry lemonade."
"Oke!"
Setelah mencatat pesanan, pelayan segera meninggalkan mereka berdua.
"Kenapa pesan private room?" celetuk Zahira.
"Karena tidak ingin diganggu."
"Issh, siapa juga yang mau ganggu."
"Ya siapa tahu." Satya menatap Zahira sambil terkekeh dan tatapan Satya tertuju ke kalung yang Zahira pakai.
Satya menelan salivanya. Darimana Zahira mendapat kalung mahal tersebut. Bahkan kalungnya saja hampir setara dengan harga mobilnya.
"Zahira, kalungnya bagus beli dimana?" tanya Satya basa-basi.
"Ohh ini, di toko perhiasan xxx."
Benarkan? Toko itu bahkan baru ada satu di Indonesia. Dan kalung yang dipakai Zahira juga sangat langka. Satya tahu jika kalung yang dipakai adalah salah satu brand terkenal di dunia. Ia pernah melihat tantenya yang berada di New York memakai kalung liontin seperti Zahira, dan harganya pun tak main-main.
"Ini di belikan sama Rafael," ucap Zahira tersenyum hangat.
Tanpa bertanya lebih lanjut pun Satya sudah diberitahu jika kalung liontin itu dibelikan Rafael.
Satya tersenyum miris. "Rafael ya?"
Zahira menganggukkan kepalanya. "Bagus kan?"
"Iya, bagus."
"Zahira, aku mau tanya sesuatu," celetuk Satya.
"Sesuatu apa?"
"Rafael itu kekasihmu ya?"
Zahira tercengang mendengar pertanyaan Satya. Dengan cepat Zahira menggelengkan kepalanya. "Bukan, Rafael itu temanku."
"Tidak perlu berbohong Zahira. Aku hanya bertanya saja."
Zahira mengernyitkan dahinya. "Berbohong? Astaga Satya, aku dan Rafael hanya berteman. Kau tahu bahkan Rafael sudah memiliki tunangan."
"Benarkah?" tanya Satya dengan wajah sumringah.
"Ya, dan tunangannya juga sangat cantik. Dia seorang model."
Mendengar hal itu, senyum Satya langsung terbit.
***
Pesta acara ulang tahun Chelsea diadakan di ballroom sebuah hotel bintang lima ternama dan dihadiri ratusan tamu undangan. Pesta ulang tahun ini berkonsep serba ungu dan feminim.
Bak seorang putri Chelsea mengenakan gaun panjang berwarna ungu lavender. Pada bagian bawahnya, gaun tersebut di hiasi manik-manik yang membuat tampilan terlihat mewah.
Tak main-main gaun yang dipakai Chelsea dirancang oleh desainer ternama dan menghabiskan dana ratusan juta.
Rambut panjang Chelsea berwarna light brown disatukan dan dililit. Tatanan rambutnya ala Elsa 'Frozen' dengan headpiece manik-manik yang disematkan.
Chelsea seorang perempuan yang bar-bar kali ini terlihat kalem dengan gaun feminimnya.
"Kak, orang-orang pasti tak menyangka jika Chelsea adalah orang yang galak," celetuk Felix.
Rafael terkekeh. "Ya. Penampilannya sangat menipu."
Rafael dan Felix kemudian sibuk menyapa para tamu dalam acara pesta ulang tahun ini.
Orang tua Rafael, Papa Harsa dan Mama Kenny nampak berbincang dengan beberapa tamu yang sudah datang, sekedar basa-basi dengan kenalannya. Chelsea hanya mengundang beberapa temannya dan yang lainnya mungkin hanya rekan bisnis orang tuanya.
Sampai kemudian acara benar-benar di mulai. Para keluarga Benzema mengucapkan kata sambutan bagi para tamu undangan di acara pesta ulang tahun Chelsea.
Pesta ulang tahun berjalan dengan lancar. Sampai pada saat ini acara Chelsea naik ke atas panggung untuk acara potong kue dan tiup lilin.
Kue ulang tahun bertingkat lima ini sama seperti tema pesta. Bernuansa ungu dan dipercantik dengan bunga-bunga clematis.
Setelah acara potong kue dan berdoa selesai, tamu dipersilahkan menikmati jamuan. Ada juga beberapa tamu yang berdansa karena diiringi musik yang menenangkan.
Rafael mendesah, kemudian meninggalkan pesta menuju ke taman belakang rumah, beristirahat sejenak. Felix yang melihat Rafael ke taman belakang pun mengikutinya.
"Mau wine?" tawar Felix yang tiba-tiba berdiri di depannya. Rafael duduk di sebuah ayunan berwarna coklat yang ada di taman.
Tanpa menjawab Rafael mengambil gelas wine di tangan Felix dan meneguknya.
"Ada masalah?" tanya Felix yang melihat kakaknya sekarang lebih banyak diam.
"Tidak ada masalah," sanggah Rafael.
"Kau lebih banyak diam saat ini!" Kemudian Felix duduk di sebelah Rafael.
Rafael menaikkan satu alisnya. "Perasaanmu saja."
"Kak, aku ini adik kandungmu. Apa salahnya jika bercerita denganku?"
Rafael menghela nafas berat. Benar apa yang dikatakan Felix. Felix adalah saudara kandung yang paling dekat dengannya. Selama ini orang yang selalu membantunya juga Felix. Tak ada salahnya jika ia bercerita tentang masalahnya.
"Menurutmu apa Jelena orang yang tepat untukku?"
Felix mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu kak?"
Rafael diam, lalu memalingkan wajahnya.
"Kalau mau menikah itu memang banyak rintangan kak," ucap Felix.
"Aku rasa Jelena lebih mementingkan karier."
"Jadi karena itu, atau kau sudah memiliki wanita lain?" goda Felix.
Rafael mendengus. "Ngaco!"
Felix terkekeh. "Aku hanya menebak."
"Kau beri kado Chelsea apa?" Rafael mengalihkan pembicaraan.
"Tiket liburan ke Jepang, kalau kau beri kado apa?"
"Kalung liontin."
"Dia lebih cocok pakai rantai daripada kalung."
Rafael tertawa lalu meninju bahu Felix pelan. "Adikmu!"
"Adikmu juga," balas Felix menatap datar.