Alegra berjalan tertatih-tatih sembari dibantu Nirina dengan memapahnya. Gadis itu mengembuskan napas lega ketika dirinya tiba di ranjangnya yang empuk, duduk di sana dan berencana untuk merebahkan tubuhnya sejenak. Rasa sakit akibat racun Acelin yang menyebar di tubuhnya memang sudah hilang, tapi rasa lelah masih begitu kuat dia rasakan. Bibir dan wajahnya masih terlihat begitu pucat bagaikan mayat yang baru saja bangkit dari kematian. “Kau nekat sekali, Alegra. Aku tidak menyangka kau melakukan sampai sejauh ini.” Alegra yang tengah berusaha untuk mengangkat kedua kakinya itu pun menghentikan sejenak gerakannya. Dia memicingkan matanya, menatap pada Nirina yang tengah berdiri di depannya. “Aku sudah bilang akan menghancurkan Acelin hari ini. Bukankah kau juga mendukungku?” “Iya, ha

