Bi Irma masuk perlahan ke ruangan sambil membawa dua cangkir teh jahe hangat, wajahnya merunduk dan tampak sedikit gemetar.
“Ada apa, Bi?” tanya Iksan, ketika melihat Bi Irma masuk ke ruang kerjanya. Ternyata sejak tadi Bi Irma mengetuk pintu, namun tak ada jawaban, jadi ia berinisiatif membawa masuk dua cangkir teh jahe buatannya yang sangat legendaris itu ke dalam ruang kerja majikannya.
“Ini, Pak, diminum dulu,” jawab Bi Irma dengan gugup. Ia meletakkan dua buah cangkir teh hangat itu di atas meja, kemudian buru-buru pergi. Namun, sebelum pergi ia berjalan mendekat ke arah Iksan sambil menyerahkan secarik kertas.
“Apa ini?” tanya Iksan, setelah kertas itu ada di tangannya. Tapi tanpa mengucapkan sepatah kata pun Bi Irma langsung keluar ruangan.
Iksan terdiam sejenak sambil membaca tulisan yang ada di dalam secarik kertas itu, dahinya sedikit berkerut. Setelah itu melipat kertas yang ada di tangannya dan memasukannya ke dalam saku celana.
Iksan kembali menatap Anton yang sedang terduduk kaku, anak berusia delapan belas tahun, yang tahun ini seharusnya duduk di bangku kuliah, malah harus direhabilitasi di panti rehab akibat penyalahgunaan obat terlarang. Sungguh miris.
“Jawab Papa! Jadi kamu mau apa? Kamu pengen mendekam di jeruji besi itu seperti Si Markus dan Si Ujang?” tanya Iksan dengan geram.
Kedua nama itu bukan nama sebenarnya, tapi Anton dan teman-temannya sering memanggil mereka yang sekarang sedang terbelit kasus hukum obat-obatan terlarang itu dengan panggilan demikian.
Anton menggeleng, wajahnya masih tertunduk. Entah ia menyadari kesalahannya apa, atau justru sebaliknya, tak ada sama sekali rasa penyesalan di dalam hatinya.
“Sekarang kamu masih 'pake'?” tanya Iksan. Anton terdiam. Seharusnya Iksan tak perlu bertanya itu, mana ada orang yang sedang menjalani rehabilitasi di tempat rehab yang ketat bisa curi-curi memakai obat-obatan lagi.
“Terserah! Papa udah cape ngurusin kamu! Besok kamu balik ke tempat rehab itu atau kalau kamu gak mau balik, Papa sendiri yang akan menyerahkan kamu… ke kantor polisi!” ucap Iksan datar.
“Dasar anak gak tahu diuntung, Om Adnan capek-capek ngurusin kamu supaya kamu gak terlibat, tahu gak? Eh, bukannya memanfaatkan kesempatan yang udah dikasih, ini malah seperti meremehkan. Sekarang kamu mau apa? Om Adnan udah gak ada, Papa sendiri gak akan membela kamu mati-matian seperti dia, kalau harus dihukum, ya hukum aja, Papa gak peduli!” kata Iksan, terdengar sangat sarkas.
Anton masih tak bergeming, konon katanya memang sulit berbicara dengan anak remaja, mungkin pengaruh hormon puber yang menyebabkan jalan pikirannya sedikit berbeda dibandingkan orang dewasa, tapi tak bisa juga disamakan dengan anak-anak. Masa-masa yang memang rumit.
Setelah itu Iksan keluar dari ruang kerjanya dengan wajah kesal, ia teringat secarik kertas yang tadi diberikan Bi Irma padanya. Kertas itu bukan benar-benar dari Bi Irma, tapi dari Meli, ditulis tangan olehnya sebelum ia beranjak ke kamarnya untuk tidur, karena besok ia harus kembali bekerja, bosnya hanya mengizinkan Meli cuti selama satu hari, mengingat banyak pekerjaan yang harus ia bereskan.
“Jangan marah-marah aja! Sayangi jantungmu. Sekarang istirahat, besok ke Singapur pake penerbangan pertama, kan? Lagi pula, Anton juga butuh waktu untuk menenangkan diri,” isi yang ditulis di secarik kertas itu.
***
Ayaka menuruni tangga selangkah demi selangkah, ini sudah hampir jam sebelas malam, tapi Ayaka sama sekali belum mengantuk. Mungkin ia seperti Adnan, memiliki kecenderungan Insomnia. Dilihatnya ruangan-ruangan di rumahnya sebagian besar sudah gelap, hanya tersisa beberapa lampu saja yang masih menyala.
Setelah menuruni anak tangga yang terakhir, Ayaka berbelok ke dapur. Lampu lorong dapur yang ia injak menyala otomatis, jika orang yang tidak tahu ada teknologi semacam ini pasti akan menyangka itu perbuatan makhluk halus.
“Mbak… Mbak Eka! Mbak…” ucap Ayaka. Dengan suaranya yang pelan dalam rumah yang sebesar itu, logis jika Eka sama sekali tidak mendengar panggilan Ayaka. Atau bisa jadi juga, Eka sedang tertidur pulas di kamarnya.
Ayaka berbelok ke dapur, ia melihat kulkas, biasanya Aiko tak pernah absen mengisi kulkas dengan makanan-makanan favorit Ayaka, tentu saja dari hasil buatan tangannya. Ayaka sangat antusias saat melihat kulkas, ia buru-buru menghampirinya, seperti menghampiri ibunya.
Dengan wajah yang berbinar ia membuka pintu kulkas, dengan harapan ada sesuatu yang bisa ia makan, makanan favorit buatan Aiko yang dibuat dengan cinta dan hanya untuk Ayaka.
Perlahan pintu kulkas terbuka, cahaya neon dari dalam kulkas menyala terang menembus kegelapan dapur. Ayaka terdiam sesaat melihat isi kulkas, dan beberapa detik kemudian ia tersenyum. Ayaka melihat sepotong cheese cake di atas piring kecil tepat di depan matanya, seolah-olah memang sengaja disiapkan untuk dimakan Ayaka.
“Mama pasti udah pulang,” pikir Ayaka.
Sangat menyedihkan, Ayaka menganggap bahwa Aiko sudah pulang, ia pun berpikir besok pagi ia pasti sudah bisa melihat lagi wajahnya. Meski harapan itu semu, paling tidak bisa membuat Ayaka bergembira walau hanya sejenak.
“Kamu suka, Sayang?”
Ayaka menoleh sambil menyeka mulutnya yang penuh krim keju, ia melihat seseorang sudah berdiri di ambang pintu dapur, Ayaka memicingkan mata. Jangan-jangan itu Aiko, pikir Ayaka optimis. Seseorang yang dilihatnya itu tampak berjalan ke dekat sakelar listrik, lalu lampu pun menyala. Kini Ayaka bisa melihat dengan jelas, Dila berdiri di ambang pintu dapur.
“Tante? Tante mau?” tanya Ayaka dengan polosnya, sambil menawarkan garpu dengan sepotong kue di tangannya.
“Makasih, Aya. Tapi buat kamu aja,” jawab Dila. Ia tak menyangka Ayaka akan sesuka itu dengan kue buatannya.
Tadi siang, saat Ayaka tidur siang, Dila memanggil Eka menemuinya. Ia bertanya semua tentang Ayaka, meski Dila adalah tantenya, tapi sejujurnya ia sama sekali tak tahu banyak soal keponakannya itu. ia teringat perkataan Iksan sebelum Iksan pergi, bahwa Dila untuk sementara harus menjaga Ayaka, hingga urusan bisnis Iksan di luar negeri selesai.
Meski Iksan bilang hanya satu hari saja di Singapura, tapi itu bukan harga pasti bahwa ia akan segera kembali setelah satu hari, urusan bisnis kadang tidak bisa diprediksi waktunya, dan Dila tahu benar soal ini. Karena sedikit banyak—meski hanya di permukaan saja, Dila juga paham soal dunia bisnis.
Dila ingin belajar banyak hal untuk memahami Ayaka, seperti sebeluan belakangan ini, ia terus mengamati bagaimana perilaku Ayaka sehari-hari. Entah mendapat firasat atau sejenisnya, hari ini Dila bertanya soal makanan kesukaan Ayaka yang kerap dibuat Aiko untuknya pada Mbak Eka.
Dila sama sekali tidak menyangka, jika malam ini Ayaka akan pergi ke dapur dan mencari makanan, sebuah kebetulan yang pas. Dila pun membuatkan makanan itu, meski Sofia sempat cemburu karena seolah ibunya itu lebih perhatian pada sepupunya, mungkin ia tidak tahu saja bahwa ada niat tersembunyi yang diinginkan Dila pada keponakannya itu.
“Tante ini enak lho! Pasti Mama yang buat ini untuk aku, sengaja sembunyi-sembunyi, biar kejutan, tapi sayangnya aku selalu tahu!” seru Ayaka dengan senang.
“Oh begitu ya? Syukurlah kalau kamu suka,” respon Dila. Ayaka belum tahu bahwa ia yang membuat kue itu, tak menyangka rasanya akan sama persis dengan yang sering dibuat Aiko.
Dila memperhatikan Ayaka memakan kuenya dengan lahap, tanpa disadari senyuman tersungging di bibir Dila, bahkan putrinya sendiri, Sofia, tak pernah berekspresi sesenang itu ketika memakan kue buatannya.
Setelah kue di atas piringnya habis, Ayaka bergegas kembali ke depan kulkas, ia membuka pintunya, dan terlihat kembali mencari-cari potongan kue sisanya.
“Ini baru sepotong! Pasti ada lagi!” gumamnya dengan bahagia, sambil mencari-cari potongan lainnya.
Seperti biasanya, Ayaka selalu yang paling banyak menghabiskan kue buatan Aiko, karena Adnan tidak terlalu suka makanan manis, begitu juga Aiko, ia hanya suka membuatnya tapi tidak terlalu suka untuk menghabiskannya. Sehingga Ayaka memang benar-benar satu-satunya orang yang akan memakan semua kue di rumah itu.
“Cari apa, Aya?” tanya Dila, ia berjalan menghampiri Ayaka.
“Kuenya gak ada lagi ya?” Ayaka kembali bergumam, alih-alih menjawab pertanyaan Dila. Sambil melirik ke seluruh bagian kulkas, Ayaka terus mencari kue yang ia harap bisa menjadi miliknya.
Akhirnya Dila mulai menyadari hal itu, ia paham bahwa Ayaka tengah mencari kue untuk dimakan lagi. Tapi sayang sekali, Dila hanya menyisakan sepotong kecil saja untuk Ayaka, sisanya, ia suruh supir membawanya saat mengantar Sofia pulang ke rumah. Ia ingat, Edrik pun menyukai kue buatannya.
“Oh, kamu cari kue?” komentar Dila.
“Iya, Tante,” jawab Ayaka.
“Hmm… tadi siang kan di sini banyak orang, jadi Tante pikir kue itu disuguhkan untuk tamu-tamu yang datang,” jawab Dila sekenanya.
“Oh gitu ya, ya udah gak apa-apa, nanti aku minta Mama buat bikin lagi aja,” ucap Ayaka, terlihat jelas dari raut wajahnya ia sedikit kecewa.
“Oke, anak baik, makasih untuk pengertiannya ya!” respon Dila lega.
“Hmm… sekarang gimana kalau Aya kembali tidur? Ini masih malam lho! Oh ya, besok pagi kan Tante Dila janji mau antar Aya kembali ke sekolah, Aya udah kangen sekolah kan?” bujuk Dila.
Sudah berminggu-minggu Ayaka memang tidak bersekolah karena alasan kesehatannya, sekarang setelah berdiskusi panjang lebar antara dirinya, Iksan, dan dokter, akhirnya Ayaka boleh kembali mencoba beraktivitas seperti biasanya sedikit demi sedikit, salah satunya adalah bersekolah.
Lagi pula, kasihan Ayaka yang setiap hari kerjanya hanya bulak balik kamar, tengah rumah, taman, dan kembali ke kamar, begitu terus selama dua bulan belakangan ini. Mendengar Ayaka diperbolehkan pergi sekolah, tentu ia sangat senang. Ia membayangkan akan kembali pergi dan pulang di antar-jemput Aiko, atau sesekali Adnan pun sering melakukannya jika sedang tidak terlalu sibuk di kantor.
“Oh iya, aku lupa, ya udah aku ke kamar lagi, selamat malam, Tante!” respon Ayaka.
“Oke, sini, Tante antar sampai ke kamar ya!” Dila menawarkan diri, lalu menuntun Ayaka menuju ruang tidurnya.
Setelah menemani Ayaka hingga tertidur, Dila pergi meninggalkan kamar Ayaka. Sekilas ia melihat Adnan di sebagian diri Ayaka, yang membuatnya masih sering terserang rasa sedih yang tiba-tiba, ketika mengingat abangnya itu kini hanya tinggal nama.
Rencannya besok juga, setelah mengantar Ayaka ke sekolah, Dila akan mampir ke pemakaman Adnan dan Aiko, sekalian melepas rindu. Kasihan, bahkan putri mereka tak tahu bahwa kini mereka sudah beristirahat selamanya di liang lahat, entah berpulang dengan tenang atau jangan-jangan sebaliknya.
***
Anton diantar Meli kembali ke tempat rehabilitasi, lagi dan lagi Meli kali ini mengajukan cuti, untung saja atasannya sangat memahami kesulitan Meli di keluarganya, Meski Meli sendiri merasa tidak enak pada kantor tempatnya bekerja, karena belakangan ini saat anaknya terlibat kasus, mau tak mau Meli harus membagi fokus, antara kewajibannya mengurus keluarga dan juga tempat bekerja. Sementara Iksan hari ini sudah terbang ke Singapura seperti agendanya, tak ada yang berubah.
“Kamu nanti saat sudah di tempat rehab, Mama mohon untuk mematuhi apa pun yang diperintahkan mentor di tempat itu, kamu ngerti kan?!” ucap Meli pada Anton. Namun putranya itu seperti tidak menggubris.
“Kamu dengar, Mama?” tanya Meli melirik ke arah Anton, yang duduk tepat di sebelahnya.
Meli pun menyadari kini Anton anaknya itu bukan lagi anak balita, ia sudah beranjak dewasa, bahkan sebentar lagi sudah akan meninggalkan masa remajanya. Namun semakin dewasa, Meli merasa bukan semakin baik, terlebih ia pun bercermin pada dirinya dalam mendidik anak, hasilnya Anton malah salah pergaulan dan berakhir seperti ini.
Mendengar Meli banyak bicara, Anton hanya membuang nafas, dan meresponnya dengan sesekali menganggukkan kepala, entah ia mengerti dengan perkataan ibunya itu atau sebaliknya, yang pasti banyak hal yang kini sedang berputar di dalam kepalanya, sehingga ia cenderung menarik diri.