Boneka Panda

1913 Kata
Iksan menuruni anak tangga setelah melihat Ayaka di kamarnya, dan memastikan keponakan tersayangnya itu baik-baik saja. “Dari kamar Aya?” tanya Dila ketika melihat Iksan. Iksan mengangguk. “Dia masih pengen menyendiri?” tanya Dila lagi. “Nggak kok, dari tadi juga main sama Mbak Eka,” jawab Iksan. “Lho, soalnya tadi Sofia bilang Aya ngusir dia dari kamarnya, katanya Aya gak mau diganggu,” jawab Dila heran. “Bilang begitu? Ah, dasar anak-anak,” komentar Iksan datar. Kemudian ia beranjak ke ruang keluarga dan mengemas barang-barangnya. “Abang pulang dulu, besok pagi harus balik ke Singapur, ada sesuatu yang harus diurus dengan klien, tapi sesudah selesai urusan aku akan langsung kembali. Titip Ayaka!” ucap Iksan. “Tapi, Bang...” jawab Dila seperti enggan. “Untuk sehari saja, lagi pula Aya udah ada yang ngurus, Mbak Eka udah paham apa yang harus dikerjakannya, kamu hanya tinggal memantau saja, paling sesekali memeriksa Aya di kamarnya dan mengingatkan Mbak Eka kali-kali ia lupa memberikan obat pada Aya,” jawab Iksan. “Oh, baik kalau gitu,” jawab Dila pelan. Saat sedang mengobrol, tiba-tiba telepon genggam Iksan berbunyi. “Ya, halo,” jawab Ikhsan santai, sambil meletakkan handphonenya di dekat daun telinga. “Apa?!” teriaknya kemudian dengan mata yang terbelalak. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan urusan Iksan. “Kenapa, Bang?” tanya Dila tak mengerti. “Abang pergi sekarang, titip Aya ya!” jawab Iksan buru-buru sambil meraih secepat kilat kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja. Kemudian pergi. *** Ayaka masih merapikan balok-balok di kamarnya dibantu Mbak Eka. Ia masih belum kuat bermain terlalu lama, kepalanya suka tiba-tiba terasa sakit. “Kepalanya sakit lagi, Non?” tanya Eka. “Nggak, Mbak. Aku sedikit lelah aja,” jawab Ayaka, padahal jelas-jelas dari wajahnya terlihat sangat pucat dan tak nyaman. “Ya udah, Non Aya istirahat aja, Mbak antar ke tempat tidur ya?” kata Mbak Eka sambil berusaha memapah anak majikannya itu. Ayaka mengangguk, kemudian dengan sigap Eka memegang pundak Ayaka dan membantunya berjalan. Ayaka berjalan terhuyung-huyung. Sesampainya di atas tempat tidur berbalut seprai berwarna merah muda dengan motif unicorn itu, Eka merebahkan Ayaka dengan sangat lembut, layaknya seorang ibu pada anaknya. Memang seperti itu lah Mbak Eka sekarang, meski sejatinya ia belum pernah punya anak, bahkan menikah saja belum, tapi rasa keibuannya seketika tumbuh saat bekerja di rumah Adnan. Sejak mendiang masih hidup, Eka sudah diamanahi menemani Ayaka, meski dulu pekerjaannya tidak seberat sekarang, karena Aiko lebih banyak terlibat dalam urusan Ayaka. Namun, sedikit banyak dari sana chemstry Ayaka dan Eka terbangun sangat kuat. layaknya seorang teman sekaligus kakak untuk Ayaka, apa lagi Ayaka itu anak tunggal, tak memiliki saudara kandung. Eka terenyuh dan teringat majikannya setiap melihat wajah Ayaka, ia benar-benar mirip dengan ibunya. Sedangkan perangainya yang lembut dan sangat ramah itu seperti ayahnya. Ia tak pernah memiliki anak majikan sebaik Ayaka sebelumnya. Sebelum ini Eka pernah bekerja pada sebuah keluarga yang anaknya sama sekali tak menghargai “Mbak” di rumah. Meski Eka mungkin statusnya hanya pembantu rumah tangga, tapi tetap saja dalam posisinya sebagai manusia, ia berhak diperlakukan dengan hormat dan penuh penghargaan. Sudah bukan zamannya lagi p********n. Jadi, Eka merasa beruntung bekerja di tempatnya sekarang. “Mbak, bisa tolong ambilkan boneka Panda itu?” kata Ayaka meminta bantuan Eka untuk mengambilkan boneka favoritnya yang Aiko simpan di atas lemari sebelum mereka bertolak ke Jepang untuk berlibur. Tadinya, jika kehidupan ini sesuai rencana manusia, boneka itu akan disumbangkan ke panti asuhan anak sepulang mereka dari berlibur. Tapi takdir Tuhan ternyata berkehendak lain. “Yang mana, Non?” tanya Eka sambil memperhatikan jari telunjuk Ayaka. “Yang itu, yang sebelah boneka Tedy!” kata Ayaka. “Oh, yang hadiah dari Papa itu ya?” Eka menegaskan, sambil berjalan menuju lemari yang tak jauh dari tempat tidur Ayaka. Ayaka mengangguk, kemudian memperhatikan Eka yang tengah berusaha mengambil boneka itu dari atas lemari, lemari yang ukurannya lebih tinggi dari tubuhnya. “Ah, dapat!” seru Eka senang. Kemudian buru-buru mendatangi Ayaka. “Ini, Non!” ucapnya sambil menyerahkan boneka itu ke tangan Ayaka. Ayaka tersenyum, meski setelah itu kembali menampakkan ekspresi wajah yang dingin. Ayaka memeluk boneka itu, yang mengisyaratkan ia pun sangat merindukan pemberinya, siapa lagi kalau bukan Adnan, Sang Ayah. Sambil mengusap-usap kepala boneka Panda yang berhias pita berwarna merah muda itu, Ayaka kembali teringat beberapa bulan lalu, saat Adnan memberikan boneka ini sepulang sekolah—boneka limited edition oleh-oleh perjalanan bisnis Adnan dari China. “Aya!” seru Adnan ketika itu dengan wajah yang berseri-seri. Sengaja menjemput Ayaka di sekolahnya sebagai kejutan. “Papa!” balas Ayaka berteriak sambil melambaikan tangannya dengan gembira, berlari ke luar gerbang sekolah. “Papa gak ke kantor?” tanya Ayaka, saat ia tepat berdiri di depan ayahnya yang tengah berjongkok sambil memeluk tubuhnya. “Nggak, Papa dari bandara, pulang ke rumah sebentar, langsung ke sini!" "Beneran?" "Serius, Papa udah bilang sama Om Dodi, hari ini Papa mau seharian meet up sama klien paling istimewa, jadi semua agenda sengaja Papa batalin!” jawabnya dengan nada yang ceria. Ayaka sudah tahu yang dimaksud dengan klien istimewa itu adalah dirinya. “Asikkkk!!! Aku sayang sama Papa!” respon Ayaka dengan senang, kemudian kembali memeluk Adnan. “Masuk mobil yuk!” ajak Adnan, setelah itu membawa Ayaka masuk mobil dan mendudukkan anaknya di bangku penumpang. “Betulan Om Dodi gak marah, Pa?” tanya Ayaka. Dodi adalah sekretaris pribadi Adnan di perusahaan, dia yang biasanya mengurusi jadwal kerja Adnan dan semua kebutuhan Adnan yang ada kaitannya dengan urusan bisnis, terkadang ia pun sering diminta untuk mengurusi jadwal liburan keluarga bosnya, atau urusan lain di luar urusan bisnis. Secara garis besar Dodi itu adalah tangan kanan Adnan dan orang yang paling ia percayai. “Om Dodi pasti marah! Marah besar sama Aya, gara-gara Aya berani-beraninya menculik bos di jam kerja!” jawab Adnan bercanda. “Betulan? Ya udah kalau gitu kita pulang aja, Pa!” respon Ayaka panik dengan ekspresi wajahnya yang polos. “Tapi bohong!” sambung Adnan sambil tertawa. Tampak deretan gigi Adnan yang putih dan tertata rapi terlihat di kaca spion depan mobilnya. “Ih, Papa!” gerutu Ayaka sebal. “Ya udah, Papa minta maaf, gimana kalau sekarang kita makan es krim dulu?” ajak Adnan. Tanpa perlu menjawab sebenarnya ia sudah tahu, Ayaka tak akan bisa menolak es krim. Apa lagi es krim dengan rasa coklat pisang kesukaannya. “Eh, Ay, Papa punya sesuatu lho!” kata Adnan tiba-tiba. “Wah? Papa punya apa? Papa punya hadiah buat Aya?” tanya Ayaka penasaran. “Hmm… punya gak ya?” gumam Adnan menggoda Ayaka, membuat Ayaka semakin penasaran. “Ih, jangan bilang Papa bohong lagi!” Ayaka merespon dengan kesal. “Emang Ayaka gak sadar kalau di bangku belakang ada yang duduk?” ucap Adnan. mendengar itu Ayaka langsung menoleh ke bangku paling belakang mobil, yang jarang di duduki siapa pun karena biasanya mobil itu seringnya hanya mengangkut dirinya dan ibunya saja. Ibunya pasti duduk di samping ayahnya, dan dirinya seorang diri duduk di bangku tengah. “Makasih, Papa!” teriak Ayaka spontan saat ia menoleh ke belakang dan melihat sebuah boneka Panda besar yang terlihat seolah tengah duduk santai di jok belakang. Boneka itu dihias pita berwarna pink dan dibalut kantong plastik transparan yang biasanya digunakan untuk mempercantik sebuah parcel hantaran di hari Lebaran. Tadi sebelum berangkat menjemput Ayaka ke sekolah, Adnan meminta bantuan Aiko untuk membungkus boneka Panda besar itu. Tentu saja Aiko sudah sangat paham selera anaknya, ia sengaja menghias benda itu dengan pita warna pink kesukaan Ayaka. “Sama-sama!” jawab Adnan. “Papa, ini kan belum ada di Indonesia!” seru Ayaka senang, teman-teman satu sekolahnya di sebuah sekolah internasional terkemuka di kota itu memang sedang heboh membicarakan mengenai boneka Panda yang ada di tangan Ayaka sekarang, setelah beberapa minggu sebelumnya sebuah film anak dengan karakter boneka tersebut diluncurkan serentak di bioskop. Dan Ayaka bersama kedua orang tuanya tak melewatkan agenda premier film tersebut. Selalu. “Wah, ternyata kamu tahu juga? Kirain cuma Papa aja yang update sendiri di sini,” ucap Adnan. “Justru Papa yang gak update, harusnya Papa juga kasih aku boneka Panda yang versi Indonesianya,” ucap Ayaka, tak menyangka anak SD yang sebentar lagi genap berusia 7 tahun itu paling tahu soal perkembangan trend di kalangan anak-anak. “Memang ada?” tanya Adnan sambil melirik ke kaca spion, melihat Ayaka yang tengah sibuk membuka plastik pembungkus bonekanya. “Kata Kara ada kok! Kemarin dia lihat di Mall,” jawab Ayaka. “Ah, yang bener, mungkin Kara salah lihat?” respon Adnan sambil tertawa. Seperti kata Ayaka, boneka panda ini memang belum dirilis di Indonesia dan meski filmnya sudah dirilis di mana-mana, tapi tidak dengan boneka edisi terbatas ini. Harganya pun, dibandingkan dengan mainan yang sejenis, jauh berkali-kali lipat. Dan yang terpenting, mungkin Ayaka adalah satu-satunya anak di sekolahnya yang sudah memiliki boneka "langka" tersebut, karena ini langsung dibeli dari negara di mana menjadi latar belakang film itu. Suasana di dalam mobil hening sejenak, Ayaka sedang anteng dengan boneka barunya, sementara Adnan sedang berkonsentrasi mengendarai mobil ke sebuah kedai es krim yang jaraknya tak jauh lagi dari tempat mobilnya tengah melaju sekarang. “Papa!!!” teriak Ayaka tiba-tiba dengan histeris. “Ada apa, Ay? Ada apa?” tanya Adnan panik, kemudian menepikan mobilnya ke dekat trotoar jalan dan berhenti, untuk mengecek jika ada sesuatu yang terjadi dengan putrinya, karena tiba-tiba saja ia berteriak. “Papa, ini asli! Lihat ada tanda hologramnya di bawah kakinya! Lihat nih!” seru Ayaka histeris, sambil menunjukan tanda hologram itu, yang didalamnya juga terdapat nomor seri yang menandakan boneka Panda itu edisi terbatas dan tentunya asli. Ayaka terpesona, disambung dengan pancaran mata yang berbinar-binar tanda ia senang. Adnan menghela nafas, ia pikir ada sesuatu yang terjadi. Ternyata Ayaka hanya ingin mengekspresikan rasa senangnya. “Kamu bikin kaget Papa aja,” gumam Adnan pelan. Kemudian kembali menyalakan mesin mobil. Begitulah bagaimana Ayaka akhirnya mendapatkan boneka Panda itu, namun seperti kebanyakan anak-anak lainnya, boneka itu hanya bertahan selama sebulan, setelah itu Ayaka tak memainkannya lagi, seiring berdatangannya mainan baru. Namun sekarang, tiba-tiba saja Ayaka kembali teringat lagi boneka itu, setelah beberapa minggu ia tak bertemu Adnan. Ia tampak sangat merindukannya. Eka yang duduk di tepi ranjang pun terlihat ikut berkaca-kaca. Ia bisa merasakan kesedihan yang tak terungkap dari gestur tubuh Ayaka. “Mbak, nanti bilang sama Mama, Boneka ini gak jadi aku sumbangin ke panti asuhan ya!” ucap Ayaka lirih. Eka yang mendengar itu jadi ingin menangis, namun ia tahan sebisa mungkin agar tak menangis di depan Ayaka, karena anak itu pasti akan penasaran dan menanyakan kenapa mbaknya tiba-tiba menangis. “Iya, Non,” jawab Eka singkat, sambil mengangguk. *** Iksan berjalan cepat di ikuti Meli di sebelahnya, mereka menembus lorong unit rehabilitasi narkotika yang relatif ramai siang itu, setelah mendapatkan telepon dari pihak unit rehabilitasi, mengabarkan sesuatu terjadi pada anak remajanya. Mereka menelepon Iksan, bahwa untuk yang kesekian kalinya Anton mencoba untuk kabur dari tempat rehab tersebut, namun untungnya kali ini pun berhasil digagalkan, setelah salah satu petugas keamanan memergokinya berusaha memanjat benteng belakang pusat rehabilitasi itu. Sesampainya di ruang kepala unit, tanpa menunggu berlama-lama Iksan mengetuk pintu, lalu melangkah masuk ketika seseorang dari dalam memperbolehkannya untuk masuk. “Selamat siang, Bapak Iksan,” sapa kepala unit yang usianya sudah tidak muda lagi, dan tampaknya sebentar lagi akan memasuki masa pensiun. “Selamat siang, Pak!” jawab Ikhsan. Meli terlihat hanya mengangguk, menyapa kepala unit itu. “Apa yang sebenarnya terjadi, Pak?” tanya Iksan tak sabar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN