Entah berapa lama aku berada di pesawat, menyebalkan juga rasanya. Beginilah bila memiliki orang tua kaya raya, namun otoriter. Sudah sering dad berbuat seperti ini saat masih kecil, begitu bercerai malah tetap berbuat hal yang sama, bahkan lebih parah! keluhku.
"Kita akan pergi ke mana?" tanyaku pada pramugari, yang sedang melintas di depan.
Wanita itu berhenti berjalan, lalu tersenyum. "Maaf, Tuan Steve. Saya tak bisa menjawab, karena sudah perintah dari tuan besar. Saya permisi dulu." Dia langsung pamit, sebelum aku sempat mengatakan apa pun.
Sebenarnya aku mau dibawa ke mana, sih? Paspor juga tak boleh dipegang dan langsung dibawa oleh asisten yang sudah duduk berhadapan. Pergi pun pakai private jet milik dad. Aku tak ingat nama negara tujuan, karena saat diperiksa di bagian imigrasi, sudah lebih dulu merasa asing dengan nama itu sebelumnya. Kira-kira apa kejutan dari dad kali ini? Tahu begini, jangan pulang saja ke mansion miliknya! gumamku, setengah jengkel.
Karena kesal, tangan kanan meraih sebuah majalah bisnis terbaru yang berada di atas meja. Rasanya baru kemarin, aku menikmati kebahagiaan bersama Camilla, tapi pernikahan kami malah kandas karena perselingkuhannya! Mata ini melihat harga saham milik keluarga yang ternyata naik tajam. Saham-saham naik dan turun, beberapa perusahaan banyak yang merugi imbas dari krisis sehingga nyaris diambang pailit.
Tak terasa hari mulai malam, aku yang sudah berganti pakaian jadi kasual melirik ke arah jendela pesawat. Malam yang dingin dan sunyi. Rasa sepi muncul ketika seorang diri. Bayangan masa lalu membuat hati ini nyeri. Entah kapan luka hati ini tersalur.
Seharusnya langsung kembali bekerja saja. Menenggelamkan diri dengan pekerjaan jauh lebih baik. Terpikir untuk menjadi playboy yang one night stand? Rasanya ide itu bagus juga. Aku akan buktikan, meski bercerai, bisa tetap dikelilingi oleh wanita yang memuja untuk menjadi penghangat ranjang, bahkan mengiba untuk ditiduri!
Semua orang hanya tahu aku dari luar saja. Dad selalu menekankan, bahwa anak laki-laki tidak boleh menangis, dilarang menunjukkan emosi di depan orang lain, dan harus terlihat kuat di manapun dan kapanpun. Ia selalu bilang, sebagai pewaris tunggal Jameson Corporation, seorang Steve, terlarang tampak lemah. Musuh kami banyak di mana-mana, jadi harus selalu menampilkan wibawa dan aura membunuh setiap saat.
Sebelum berangkat, aku diberitahukan oleh asisten, Frank August, kalau salah seorang bodyguard telah membereskan Camilla. Lega sekali, saat mendengar hal tersebut. wanita mura*han itu harus mati, karena telah membuat keluarga Jameson malu!
Aku meraih tas, lalu meraih surat lama yang ditulis oleh mom. Sungguh penasaran, karena dad baru memberikan amplop putih ini, ketika hendak lepas landas dengan private jet kesayangan yang selalu dipakai olehnya itu.
"Son, ini ada surat dari mom. Bacalah ketika di dalam pesawat. Jangan baca sekarang. Mom memberikan ini, sesaat sebelum dia meninggal. Dia bilang, kau pasti akan kembali ke mansion. Saat kau kembali, baru berikan surat ini." Dad berkata, seraya memberikan sepucuk surat kepada diriku.
"Surat dari mom? Terima kasih Dad. Aku belum pernah menerima surat dari kalian, jadi ini sangat berarti. Okay, I will read it when I already in private jet." Aku menyahut, lalu tangan kanan menerima surat itu dengan baik.
"Kau menyindirku?" tanya dad dengan curiga.
"Tidak menyindir, itu kenyataan!" jawabku tanpa beban.
"Baiklah, kau baca saat di pesawat. Ingat, saat di pesawat!" perintah Dad, seperti biasa.
"Dad, kau mau membawaku ke negara mana?" tanyaku yang masih berusaha menemukan jawaban.
"Nanti juga kau tahu! Nah, enjoy your holiday!" jawab dad yang masih berahasia denganku.
Karena ingat dengan pesan dari dad, aku segera membuka amplop. Rasanya penasaran kenapa mom menuliskan surat? Hubungan kami tak terlalu buruk. Beliau sering menghubungi dan bertemu di kantor. Dad beda lagi, dia tak mau bertemu sama sekali.
Aku mulai membaca kata demi kata yang tertulis di sana, saat membaca, entah kenapa hati ini tiba-tiba menjadi terharu. Mom tak pernah mengungkapkan isi hati sejelas ini padaku:
Steve, my beloved son, how are you? Ketika kamu membaca surat ini, berarti mom sudah tidak ada lagi di dunia. Aku ingin memberitahukan, bahwa kami tak pernah menyetujui hubunganmu dengan Camilla. Kau mungkin menilai, kalau orang tua begitu kaku, kuno, kolot, dan tak menilai gadis itu sebagaimana penilaianmu yang menganggapnya sempurna.
Trust me, Son. Kami telah melakukan penyelidikan secara intensif tentang siapa dia, apa pekerjaan yang dilakukan sepanjang hidup, bagaimana masa lalu yang ada, tak lupa background pendidikan dan lain sebagainya. Mengapa melakukan semua itu? Tak lain karena rasa sayang dan cinta yang teramat besar.
Kalau dad tak mau datang, bahkan tak mau bicara dan bertemu denganmu, itu bukan karena dia tak sayang. Semua itu dilakukan karena rasa kecewanya yang begitu besar dan dalam. Dia tak sanggup melihatmu dan memilih diam.
Son, kau adalah putra kami satu-satunya. Sebagai orang tua, telah melakukan segala daya, upaya, dan kemampuan untuk menjaga buah hati dari orang-orang yang hanya memanfaatkan dirimu, termasuk harta. Camilla adalah perempuan yang hanya ingin uang saja, oleh karena itu kami berdua menentang keras pernikahan yang kalian lakukan.
Son, kita memang berkecimpung di dunia gelap, meskipun ada juga usaha legal. Musuh klan Jameson ada di mana-mana, oleh karena itu harus ekstra menjaga diri, karena orang tua tak akan ada selamanya di dunia.
Mom yakin, soon or later you would be back to the mansion. Kau adalah putra Lorenzo Jamenson dan Veronica Martinez, kami akan selalu menerimamu sampai kapanpun. Percayalah, we are always care, walau tak pernah dikatakan secara langsung.
Mom akan segera tertidur di dalam tanah, datanglah sesekali bila kau sempat ke makam. Temani dad di hari tua. Bila dia ingin menikah lagi, restu untuk itu sudah turun dan tentu saja pernah mengatakan secara langsung. Dad menolak usul itu, tapi mom sengaja mengatakan, supaya kau pun tahu.
Mom mencintai kalian berdua: dad dan kau. Kalian adalah satu-satunya harta yang paling berharga. Do not leave him alone on the mansion. Kalau kau mau menikah, pastikan bahwa wanita itu sudah memiliki restu dari dad, karena restunya adalah restu mom juga.
Son, mom sudah tak sanggup bertahan. I wish I could hug you now, but I know it is impossible. Maafkan kami yang tak bisa menjadi orang tua sempurna, termasuk kurang waktu untuk menemanimu di saat-saat sulit. Please forgive our mistakes that we have done to you.
Son, sekarang mom ingin memejamkan mata dan beristirahat dalam keabadian. I always love and thinking about you every day. Namamu dan dad selalu mom ucapkan di setiap doa-doa yang dipanjatkan kepada Tuhan.
I love you, Son.
Love,
Mom.
Air mata pun tumpah dari kedua mata. Mom, aku tak pernah menyangka bahwa di antara rasa sakit yang ditimbulkan oleh breast cancer yang menyerang, masih mampu membuat beliau mengingat diri ini, bahkan mendoakan putra tunggalnya.
Mom, aku menyayangimu. Aku janji tidak akan meninggalkan dad, serta menjalankan semua amanat yang kau tulis di surat. Tak lupa, akan mengirimkan doa rosario agar Tuhan memberikan pengampunan bagi jiwamu, bisikku di dalam hati.
Aku mengelap air mata yang ke luar dengan tisu. Mom tak pernah mengeluh sakit seumur hidup. Teringat saat mendengar kabar dari beliau, bahwa akan dilakukan surgery. Saat tiba di rumah sakit untuk menemani, wajah cantik itu selalu tersenyum. Begitupula saat kemoterapi, senyuman tak lepas di sana.
Mom, maafkan aku. Sungguh, maafkan putramu ini. Seharusnya selalu meluangkan waktu lebih banyak lagi dengan kalian berdua, sesalku. Nasi telah menjadi bubur, sehingga yang ada hanyalah penyesalan terdalam.
Aku terus membaca surat itu berulang kali, seolah tak ada bosannya. Rasa rindu yang teramat dalam kepada mom mulai muncul. Sudah bertekad, tak ingin mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kali.
***