2. Tabrakan

1216 Kata
Reysha baru tahu jika Agnes menjalani operasi usus buntu. Agnes tidak pernah bercerita jika mengalami gangguan pada sistem pencernaannya. Tapi yang Reysha tahu sahabatnya itu memang pecinta makanan pedas. "Tolong jagain Agnes, ya. Saya nggak bisa jaga Agnes terus soalnya saya harus kerja, " Kata sepupu Agnes yang sudah menemani Agnes dari datang ke rumah sakit, operasi, hingga dipindahkan ke ruang rawat inap. "Iya, mas, " Jawab Reysha. "Nanti saya akan datang kesini kalau pekerjaan saya sudah selesai. " "Iya, mas. Mas tenang aja, saya akan jagain Agnes." "Terima kasih. " Reysha dan Agnes mengikuti gerak laki-laki itu yang berjalan keluar dari kamar rawat Agnes. "Gimana rasanya operasi? " Tanya Reysha yang duduk di kursi yang ada disebelah ranjang. "Sakit, lah. Serem juga soalnya di biusnya cuma separuh. " Reysha tampak ngeri dengan cerita sahabatnya. "Makasih, ya, udah mau kesini. Aku nggak bisa ngandelin mas Tito terus. Pekerjaannya banyak dan nggak bisa di tinggal. " "Nggak apa-apa. Santai aja." Agnes yang anak perantauan tidak ingin memberitahu orang tuanya yang ada di luar kota. Kehidupan orang tuanya juga termasuk pas-pasan masih menanggung biaya sekolah adik adiknya. Agnes tidak ingin membebani dan membuat orang tuanya khawatir jadinya sahabatnya itu memilih menyimpan semuanya sendiri. "Gimana tadi pertemuan keluarganya? Masih di tanya soal jodoh." Kikik Agnes. Reysha menghembuskan nafas panjang. "Gitu, lah. Kayaknya nggak ada hal yang menarik selain kepoin jodoh aku dan mau comblangin." Agnes tertawa. "Sekarang usaha dan do'anya di kencengin biar jodohnya cepet dateng." Reysha hanya mengucap Amin. Padahal dalam hati benar-benar berharap jodohnya segera datang agar dia bisa keluar dari rumah. *** "Darimana kamu? " Suara itu terdengar setelah Reysha masuk kedalam rumah. "Ibu, " Kata Reysha saat melihat ibunya duduk di sofa ruang tamu. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ibunya tentu saja masih belum tidur. Dari raut wajahnya, Reysha bisa menebak jika ibunya marah. "Bagus, ya, jam segini baru pulang. Tidak kasih kabar. Tadi juga pergi dari rumah nenek begitu saja tanpa pamit. Pergi begitu saja seperti orang yang tidak punya sopan santun." Omel Yani. "Aku tadi sudah bilang ke Elia, bu." Reysha berusaha menjelaskan. "Aku juga udah bilang ke Irsya buat sampein ke ibu sama ayah." "Seharusnya kamu bilang ke ibu atau ayah langsung. Bukan ke sepupu kamu, apalagi adik kamu yang sibuk ngegame. Kayak ibu sama ayah tidak becus ngajarin kamu sampai berpamitan pun tidak bisa. " Selalu seperti ini. Masalah yang seharusnya bisa dibicarakan dan dijelaskan dengan baik akan menjadi besar. Tadi Reysha sudah memberitahu Elia dan adiknya Irsya jika dia harus pergi. Entah keduanya menyampaikannya atau tidak. Saat di rumah nenek terlalu banyak orang, ditambah lagi ibunya yang sibuk menyiapkan masakan bersama tante-tantenya yang lain. Ditambah lagi ponsel Reysha mati karena batrenya habis. "Ibu tidak suka kamu pergi begitu saja seperti orang yang tidak punya aturan. Jam segini juga kamu baru pulang. Kalau kamu lembur ibu bisa ngerti tapi ini? Kamu pergi kemana ibu tidak tau. Kamu itu perempuan, tidak pantas keluyuran malam-malam. Apa nanti kata orang." Ingin sekali Reysha membantah tapi Reysha selalu ingat pesan ayahnya jika dirinya tidak boleh membantah, harus diam mendengarkan jika ibunya mengomel. "Aku tadi ke rumah sakit, bu. Agnes operasi usus buntu. Dia nggak ada yang jagain. Ini aku pulang mau ambil baju ganti soalnya besok aku mau langsung pergi kerja dari rumah sakit." Reysha mencoba menjelaskan dengan tenang tanpa emosi. Meski aslinya emosinya ia tekan dalam-dalam. "Bisa saja kamu bohong. Itu hanya alasan kamu. Supaya kamu bebas main di luar. Makanya cepat nikah biar kamu nggak keluyuran. Emangnya mau sendiri terus sampai tua, jadi perawan tua." Selalu seperti itu. Ingin membantah tapi Reysha berusaha menahannya. Dari kecil ibunya selalu tidak mempercayainya. Selalu menuduhnya yang tidak jelas. Ditambah lagi sekarang membahas jodoh. Mau marah tapi tidak bisa. Semuanya harus Reysha tahan dan simpan selama ini. Berbeda dengan saudara saudaranya yang selalu dipercaya. Apa mungkin karena mereka laki-laki dan Reysha perempuan. "Ada apa ini? " Tanya ayah Reysha yang muncul dari dalam rumah. "Anak kamu itu, jam segini baru pulang. Tadi pergi begitu saja dari acara kumpul-kumpul keluarga. Mau jadi apa anak perempuan kalau keluyuran. Kalau mau keluyuran malam cepetan nikah. Biar kamu ada yang jagain. Bukannya bikin orang tua khawatir. " "Aku jagain Agnes di rumah sakit, yah. Dia habis operasi usus buntu. Dia nggak ada yang jagain. " Jelas Reysha. "Halah. Itu cuma alasan kamu saja. Kamu pasti main-main diluar sana sama teman-teman kamu. " Reysha benar-benar manahan kesal. "Aku izin nginap di rumah sakit, yah, mau jagain Agnes. " Kalimat itu Reysha tujukan pada ayahnya. "Iya, ayah ijinin. " Pak Rahmat mengizinkan. "Kok di ijinin, sih, yah. Anak kamu itu pasti bohongin kamu biar bisa kelayapan sama teman-temannya." "Kalau ibu nggak percaya, ibu bisa ikut aku ke rumah sakit biar lihat keadaan Agnes." Bibir Reysha gatal kalau hanya diam saja. Dituduh yang tidak-tidak sangatlah menyebalkan. "Seharusnya ayah itu nikahin dia. Cari calon suami buat Reysha biar tidak cap wanita tidak laku. Dia sudah mau dua puluh delapan tahun. Kalau tidak cepat-cepat dinikahi nanti dia bisa jadi perawatan tua. " Reysha benar-benar sakit hati dengan ucapan ibunya. Bagaimana bisa seorang ibu bisa berkata seperti itu, bukannya memberi semangat pada anaknya kalau belum menemukan jodoh. Sejak kecil Reysha selalu dimarahi dan merasa dibedakan dari saudara-saudaranya dan hal itu membuat Reysha hanya bisa diam dan menahan semuanya. Kadang Reysha juga berpikir dia bukan anak kandung orang tuanya. Reysha benar-benar ingin segera bertemu laki-laki yang benar-benar di ciptakan untuknya. Mereka bisa segera menikah dan Reysha bisa pergi dari rumah orang tuanya. Muak dengan ibunya yang terus marah-marah, Reysha pergi ke kamarnya. Mengambil beberapa baju kemudian pergi lagi. *** Gojek yang ditumpangi Reysha menurunkannya tepat didepan gedung rumah sakit. Pikiran yang semrawut membuat Reysha tidak melihat sekeliling. Dia hanya terus berjalan menuju kamar rawat Agnes yang ada di lantai lima. Belum juga sampai didepan lift seseorang tidak sengaja menabrak Reysha. Tote bag yang berisi baju dan plastik berisi titipan Agnes jatuh. Membuat isinya berserakan keluar. "Maaf, " Kata orang itu sambil membantu Reysha memunguti barang-barang. "Nggak apa-apa. " Balas Reysha tanpa memandang orang yang membantunya. Dia hanya fokus memunguti barang-barangnya. Selesai memunguti barang-barangnya yang jatuh Reysha berdiri. "Ini barang kamu." Laki-laki didepan Reysha memberikan dua botol air mineral yang tadi dibeli. "Terima kasih. " Reysha menerima barang itu. "Reysha, kan? " Pertanyaan itu menarik Reysha untuk melihat laki-laki di depannya. Tadi Reysha hanya melihat orang yang menabraknya sekilas. Bagi Reysha wajah laki-laki didepannya tidak asing. Reysha pernah mengenalnya tapi lupa dengan namanya. "Kamu... " Reysha terus mengingat tetapi belum menemukan jawabannya. "Aku Asta." Laki-laki itu mengingatkan. "Astaga... Maaf aku nggak ingat. Iya, kamu Asta." Ya, laki-laki itu bernama Asta. Reysha mengenalnya saat kuliah dulu. Laki-laki itu adalah pacar temannya yang bernama Delia. Reysha dan Asta satu kampus tetapi berbeda jurusan. "Udah lama banget kita nggak ketemu, " Kata Asta. "Iya, udah lama banget." "Siapa yang sakit disini? " "Teman aku yang sakit. Kalau kamu? " "Kakek aku yang sakit. " Reysha baru ingin membuka mulutnya saat terdengar suara ponsel Asta berbunyi. Asta kemudian mengangkat teleponnya. Hanya sebentar kemudian mematikannya. "Senang ketemu sama kamu Reysha, tapi maaf aku harus pergi." "Iya, nggak apa-apa. " "Mungkin lain kali kita bisa ngopi bareng. " "Tentu." Reysha dan Asta tidak yakin akan bertemu kembali. "Aku duluan, ya. " "Iya." Mereka beranjak dari tempat masing-masing. Saling menjauh, menuju arah yang mereka tuju.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN