PULANG

1001 Kata
"Besok aku pulang ke rumah," Fu memberitahu setelah hening yang cukup panjang. Saat itu mereka dalam perjalanan pulang dari rumah Mama Kim. Fu membiarkan kaca mobil terbuka, membuat angin menerpa wajah dan memainkan rambutnya. "Mau kuantar? Sekalian aku ketemu Ibu." Kim menawarkan. Fu menoleh sekilas dan tersenyum. Kemudian ia menggeleng. "Ada hal yang ingin kubicarakan dengan Ibu." "Apa ini tentang permintaan Mama tadi?" "Salah satunya." Kim menghela napas. "Kalo kamu keberatan, permintaan Mama tadi nggak perlu kamu lakukan. Aku serius. Biar nanti aku yang jelasin ke Mama." Sekali lagi Fu tersenyum. "Nggak apa-apa. Lagipula yang Mama bilang benar. Kita udah lama menjalin hubungan. Usia kita pun udah jauh dari cukup. Apa lagi yang harus ditunggu?" "Tapi ...." "Aku bicarakan ini dengan Ibu," potong Fu. Lalu keduanya saling menatap. Ada rasa bersalah di mata Kim. "Aku nggak apa-apa. Kamu nggak perlu merasa bersalah," kata Fu akhirnya. Kim mengangguk. Namun, tetap saja rasa bersalah itu tak beranjak pergi. Sebab, dirinya ambil andil membuat Fu terjebak oleh keinginan mamanya. ***** Fu tersentak ketika sensasi dingin menyengat pipi kirinya. Ternyata sekaleng cola dingin. Zeya yang menempelkannya ke pipi Fu. "Mikirin apa? Dari tadi aku panggil nggak nyahut." Bukannya menjawab, Fu malah mengucapkan terimakasih untuk minuman dinginnya. Kebetulan cuaca saat ini panas. Mesin pendingin yang berdengung nyaring di pojok ruangan sama sekali tak membantu. "Ada masalah?" Zeya masih belum menyerah. Fu melirik jam, masih ada satu jam sebelum istirahat siang. "Yang jadi masalah kalo bos nangkap kita lagi ngobrol di jam kerja." Zeya terkekeh pelan seraya mengibaskan tangan. "Tenang aja. Barusan bos keluar. Iya kan, Dit?" Dita, sekretaris bos, yang entah kapan masuk ke ruangan ini, duduk tak jauh dari posisi Zeya dan Fu. Wanita bertubuh langsing dan berperas ayu itu kelihatan sedang kepedasan. "Bah-ru bah-lik nthar shoreh," ucapnya tak terlalu jelas. "Kalo ada bos, mana berani Dita ngerujak ke sini," terang Zeya sambil menarik kursinya hingga duduk di sebelah Fu. "Dari tadi aku perhatiin kamu banyak menung. Sini cerita sama Madam. Gratis. Nggak perlu biaya curhat." "Ujung-ujungnya nanti minta traktir makan siang, pasti." Zeya menyengir lebar. "Sepiring nasi padang pun. Nggak bakal bikin kamu bangkrut. Tunggu, aku ambil camilan dulu." Fu menyandarkan punggungnya. Lalu ia memerhatikan Zeya membuka laci kerjanya yang menyimpan banyak makanan ringan. Ya, Zeya memang suka menimbun camilan di laci meja kerjanya. Zeya kembali mendekati Fu dengan beberapa kantong camilan, diantaranya keripik kentang, kacang kulit, dan roti isi cokelat. "Yakin mau makan ini semua?" tanya Fu ngeri. Sungguh kadang ia tidak habis pikir dengan kebiasaan makan sahabatnya itu. Ajaibnya, Zeya tetap memiliki tumbuh langsung nan sintal meski punya kebiasaan ngemil. Udah kodratnya tubuhku nggak bisa gemuk, begitu kata Zeya waktu Fu bertanya saat mereka baru kenal. "Nah ayo mulai," kata Zeya seraya merobek bungkus keripik kentang. Fu menarik napas, ragu untuk bercerita atau tidak. "Cerita aja. Meski ntar aku nggak bisa kasih saran, setidaknya beban pikiranmu bisa berkurang. Daripada ditimbun, yang ada kepikiran terus, kerjaan juga nggak bakal kelar karena kamu banyak menungnya." Zeya benar. Setidaknya bercerita mampu membuat bebannya terasa berkurang. "Mama Kim minta kami untuk lamaran," Fu langsung masuk ke inti pembicaraan. Tidak perlu basa-basi atau mutar sana-sini. Percuma. Keripik kentang yang dalam perjalanan menuju mulut Zeya terhenti di udara. Zeya menurunkan tangannya, memasukkan kembali keripik kentang tersebut ke bungkusnya. "Masalah serius, nih." Fu mengangguk. "Terus tanggapanmu?" "Aku belum kasih jawaban. Soalnya ini mendadak. Tapi, Mama Kim minta aku untuk mikirin hal ini. Ya seperti yang pernah kamu bilang, hubungan kami udah lama. Udah harus mulai mikirin jenjang berikutnya." "Tapi, kamu ragu?" Zeya menebak dengan tepat. Fu memejamkan mata, menarik napas, lalu mengembuskannya pelan-pelan. Tak hanya ragu, Fu pun mulai merasa takut. Apa hubungannya dengan Kim tidak bisa tetap seperti ini saja? "Kamu nggak bisa selamanya ragu seperti ini. Kasihan Kim. Kasihan juga Mamanya yang pasti menaruh harapan padamu. Mama Kim benar, kamu coba pikirkan ini dulu. Apa pun keputusanmu, aku yakin mereka akan bisa menerimanya." Fu mengangguk. Ya, ia memang memikirkannya. Juga bermaksud meminta pendapat ibunya nanti. "Nanti aku pulang ke rumah. Ketemu Ibu. Mau tanya pendapat beliau." "Ide bagus. Tapi yang terpenting, kamu tanya ke hati kecilmu sendiri. Gimana pun menikah bukan hal sepele. Kamu harus mikirin mateng-mateng." Fu mengangguk. Lalu bibir tipisnya tersenyum. "Thanks udah dengerin masalahku. Ntar kutraktir nasi padang seperti biasa." "Alhamdulillah dapat makan siang gratis," Zeya berseru sambil menguyah kembali keripik kentang miliknya. **** Rumah itu tidak berubah. Masih tetap sepi. Warna catnya yang putih mulai kusam dan memudar. Saat Fu membuka pintu rumah yang tak terkunci, lamat-lamat ia mendengar suara televisi dari ruang tengah. Fu melewati sofa yang kulitnya mulai mengelupas di beberapa bagian di ruang tamu, lalu memasuki ruang keluarga. Di sana ada Wira, adik satu-satunya, beda bapak. "Assalamualaikum," sapa Fu, membuat Wira menoleh dari layar televisi yang sedang menayangkan pertandingan bola. Wira menjawab salam Fu, lalu kembali menonton pertandingan bola dari klub kesukaannya, Arsenal. Fu tidak heran dengan sambutan Wira yang dingin. Hubungan mereka memang tidak terlalu dekat. Terlebih lagi Fu sudah keluar dari rumah saat Wira baru masuk SMA. Perbedaan usia yang terpaut jauh membuat keduanya sulit untuk saling akrab. "Fu ... itu kamu, Nak?" Terdengar suara lembut dari dapur, lalu disusul dengan kemunculan wanita menggunakan daster dengan kerudung panjang. Itu Ibu Fu. Fu menghampiri ibunya, mencium tangan dengan takzim. "Kok nggak ngabarin mau pulang?" tanya Ibu sambil membawa Fu ke dapur dan duduk di meja makan. "Kita di sini saja, ya. Ibu lagi masak." Fu mengangguk. Ia baru saja hendak menbantu, tapi Ibu menolak. "Duduk saja. Bentar lagi juga selesai," kata Ibu kemudian, yang akhirnya Fu turuti. Dulu, saat masih sekolah Fu sering berada di dapur ini, bersama Ibu. Mulai dari menyiapkan sarapan pagi dan juga makan malam. Makanya kemampuan memasak Fu tak perlu diragukan lagi. Dirinya sudah terlatih. Memasak bersama Ibu adalah salah satu momen menyenangkan dan tak terlupakan oleh Fu. Sebab, di saat itulah ia bisa memiliki Ibu seorang diri, tanpa diganggu siapa pun. Tidak bapak, maupun Wira. Fu memerhatikan punggung Ibu. Wanita yang telah melahirkannya itu sudah terlihat makin tua. Fu lalu berdiri, menyelipkan tanggannya di pinggang Ibu. Fu juga menyandarkan kepalanya di bahu Ibu. Tindakan Fu membuat Ibu sadar ada masalah yang sedang menjadi beban putri sulungnya itu. Terlebih tadi ia pulang sendirian, tidak bersama Kim. Ibu mengusap tangan Fu pelan, lalu berbisik. "Nanti kamu bisa cerita semuanya ke Ibu." Fu mengangguk pelan, lalu memejamkan mata seraya menghirup aroma tubuh Ibu yang selalu ia rindukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN