7. FIRST DATING

991 Kata
Perpustakaan adalah tempat yang paling membosankan, oke garis bawah bosan katakan ini berlebihan namun pada dasarnya lapangan basket lebih menarik bukan di banding melihat deretan buku di rak yang tersusun rapi. Di tambah lagi koleksi buku milik sekolah itu sangat terbatas dimana keluaran tahun ke sekian tak ada yang dua tahun terakhir,maklumilah bukan gramedia. Di tambah biaya yang gratis. Lalu bagaimana jika kini perpustakaan bak sebuah bioskop atau panggung pentas seni yang begitu ramai, suara hiruk pikukpara siswa gelak tawa mereka menggema di setiap sudut ruangan mereka berada. Kelas IPA 3 dan IPA 5 kini berada dalam perpustakaan dengan tugas yang berbeda, kelas Bagas dan Dea sering sekali menggunakan fasilitas sekolah bersamaan, sepertinya takdir memang terus mempertemukan Bagas dan Dea. Kelas Dea sedang mengerjakan tugas satra yang isinya hanya menyalin, menyalin dan menyalin. Tugas mukjizat bagi mereka sang pencinta satra namun tidak untuk teman-teman Dea, pelajaran Biologi lebih menarik di banding tugas yang harus membaca kesuluruhan. Bagas sedang mengerjakan tugas fisika power point, Bu Mega bilang banyak buku di perpustakaan yang bisa membantu proses pembuatan tugas itu. Bukan Bagas namanya jika tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan, cowok itu justru berasik ria memandangi Dea di balik rak buku Kimia. Dea tak menyadari tatapan mata Bagas namun Bimbi menyadarinya, matanya menatap lurus mata Bagas yang harusnya untuk Dea itu. Bimbi yang terus memandangi Bagas tak menyadari jika Dea tahu akan hal itu, Dea pun menoleh ke belakang mencoba mencari tahu apa yang mencuri perhatian Bimbi hingga cowok itu terlihat menahan amarah. Dea membelalakan matanya begitu mengetahui Bagas yang sedang memandangnya lekat dan juga tajam. Pandangan mata mereka berdua bertemu, Bagas salah tingkah Ia pun mengambil buku asal kemudian menutupi wajahnya. Dea tersenyum geli melihat tingkah Bagas kemudian gadis itu beranjak pergi. "Mau kemana Ya?" Tanya Aldy yang melihat Dea merapikan kursinya. " ketemu abang gue." Ucap Dea santai kemudian berjalan menuju Bagas yang terus menutupi wajahnya di balik rak Kimia. Hening di antara Bimbi, Fania dan Aldy seakan waktu berhenti. Mereka terperangah bersamaan dengan Dea sudah berdiri di depan Bagas, tak menyangka jika Bagas adalah kakak Dea. Semua sibuk dengan fikiran masing-masing hanya kata Bagas dan Dea memenuhi otak mereka, sedangkan tugas entah mereka tendang kemana. "Bagas!" Panggil Dea jutek di depan Bagas yang masih setia menutup wajahnya, begitu mendengar suara familiar perlahan cowok itu menurunkan bukunya dari wajahnya.  Pandangan Bagas mengarah ke Dea setelah itu pada sahabat Dea yang mampu membuat Bagas hampir terjungkal melihat ekspresi wajah mereka masing-masing. Persis sepeti orang butuh oksigen. "Mereka kenapa ? mandang kita kayak orang lagi stroke." Tanya Bagas pada Dea menunjuk meja Dea duduk dengan dagunya. " emang lagi jantungan ! Orang gue bilang mau nyamperin abang gue." Ucap Dea santai melipat tangannya di belakang tubuh mungilnya. "Abang?" Ucap Bagas memastikan kemudian menarik pelan daun telinga Dea dengan mata melotot. "Aaa.... sakit b**o!" Ucap Dea kesakitan mencoba melepaskan tangan Bagas yang menarik telingannya seenak jidatnya. "Ya, nanti sore nge date yuk." Ajak Bagas dengan mata bersinar begitu semangat dengan ajakannya, menatap manik mata Dea yang justru membeku mendengar ucapan Bagas. " nge-date? Cie... gak laku lo?apa di tolak sama Icha? Sampe lo mau ngajak gue jalan." Ejek Dea sambil cengiran khas miliknya keluar sambil menunjuk muka Bagas yang melotot dan juga memerah. "Resek banget sih lo! Ya udah gak jadi." Ucap Bagas menggenggam jari telunjuk Dea dengan tangan kirinya, wajahnya datar begitu tahu respon Dea. "Ya udah, Ayo!" Ucap Dea setuju dengan mengulum bibirnya menahan tawa melihat Bagas yang memasang muka datar. "Sini cium gih!" Ucap Bagas memejamkan matanya mencodongkan wajahnya lebih dekat dengan Dea yang justru memundurkan tubuhnya sedikit. "Tabok nih" ucap Dea seraya mengangkat tangan kanannya,sobtak Bagas yang mendengar gertakan Dea yang garang segera menjauhkan wajahnya dengan wajah kesal. *** Dentuman musik pusat pembelajaan begitu kencang, terkadang sampai membuat d**a merasakan getarannya. Sangat ramai suasana di mall lantai tiga ini, banyak pasangan remaja seumuran Bagas dan Dea yang tanpa malu mengumbar kemesraan mereka. Berbeda dengan Bagas dan Dea yang justru memasang wajah bad mood, bukan mereka berdua sebenarnya namun Dea. Gadis itu tampak malas dengan suasana mall yang menurutnya membosankan, Adam ikutan bosan karena melihat Dea dengan raut wajah tak bersahabat itu.  "Ya, senyum dong jangan cemberut mulu." Gerutu Adam mengaduk jus mangga di depannya yang hampir habis itu. "Dam, jangan ke mall dong bosen ih. Ke kebun teh kek kemana kek." Bujuk Dea agar Adam mau mendengarkan perkataannya. "Lo bosen karena lo gak belanja, coba lihat noh koleksi baju atau keluaran terbaru." Tunjuk Adam pada butik butik merek terkenal. "Gue pulang nih." Ucap Dea mengambil tas ranselnya, Adam segera menyusul Dea begitu membayar makanan di kasir. Adam berlari kecil mengejar Dea yang berjalan buru-buru, berusaha menjajarkan langkah keduanya. "Iya deh, Ayo gue ajak ke tempat yang di jamin lo suka." Tawar Adam kemudian menggandeng tangan istrinya itu. Dea sedikit risih dengan tangannya yang tergenggam erat dalam tangan besar Adam, berusaha melepaskannya namun Adam justru mengeratkannya. Sepanjang perjalanan Dea terus tersenyum celoteh celoteh kecil menyusuri perjalanan mereka berdua, tanpa sadar berkali-kali Dea menepuk pelan bahu Adam menunjuk kesana kesini atas kekagumannya. Disinilah kini mereka duduk, di atas tebing di tengah perkebunan teh yang luas, senja mulai terlihat namun Dea seakan tak ingin pulang. Menyusuri tengah-tengah tanaman teh yang berbaris rapi di sampingnya, Adam justru sibuk menikmati raut wajah bahagia Dea. Di atas batu besar Dea duduk di samping Adam menikmati angin sepoi-sepoi,Adam mengeluarkan ponselnya dari sakunya mengambil beberapa fenomena alam yang begitu indah itu. "Ya, foto berdua yuk."' Ajak Adam mengarahkan ponselnya mengalihkan kamera depannya. Dea pun tersenyum manis di samping Adam yang justru memasang muka bad boy. Kemudian Adam mengajak Dea mengambil gambar dengan berdiri, al hasil foto itu tercipta dengan kepala Adam tepat di atas kepala Dea seolah-olah Dea sedang berbaring di atas lengan kekar Adam. Hari mulai petang Adam dan Dea tak ada yang mau mengajak pulang terlebih dahulu. Terkadang Adam bertingkah konyol untuk mengundang gelak tawa Dea yang justru tak pernah Ia tunjukan kecuali pada sahabat dekatnya dan Adam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN