33 ~ Hantu, tetap Hantu.

1332 Kata
Matthew mengamati jalanan. Tidak satupun yang menunjukkan jika ada jalan yang dilalui oleh Grace. Hal itu semakin membuatnya merasa kesal. “Andree, apa lo gak bisa lacak dimana keberadaan Grace saat ini? Lo bisa menghilang, dan berpindah tempat dengan mudah. Harusnya lo juga bisa nyari keberadaan dia dengan cepat. Bukan begitu?” “Apa yang lo katakan memang benar, Matt. Hantu memang bisa menembus tembok, berpindah tempat dengan mudah, dan juga menghilang. Sayangnya, tidak dengan tempat sialan ini. Andaikan gue bisa melakukan hal itu di sini, gue gak bakal mau berada di sini. Gue pengen bebas dan melihat alam kalian, sebagaimana dulu gue bisa menikmati hal itu!” “Kenapa gak bisa?” “Lihat ini!” Andree menunjukkan beberapa jalan, dan juga tembok. Hantu itu memasukkan tangannya, dimana ada beberapa tembok yang bisa dia tembus. Namun tidak berlaku dengan tembok yang ditumbuhi dengan beberapa lumut berkerak, dan juga berair, singkatnya, yang lebih lembab daripada tembok lain. “Kenapa bisa kayak gitu?” “Ada makhluk lain yang lebih berbahaya terjebak di dalam gedung ini, Matt. Gue rasa lo cukup tahu akan hal itu. Karena lo memang memiliki tujuan itu. Hantu-hantu yang terjebak di dalam gedung ini, tidak pernah bisa menembus tembok-tembok seperti ini. Jadi, bisa dikatakan kalau tembok ini seolah ada sihir yang menjaga!” “Apa maksud dia, lo punya tujuan akan hal itu, Matt?” Pertanyaan Aress membuat Matthew menatapnya lagi. “Dari awal gue udah bilang, kalo kita hanya terjebak di sini. Tolong  jangan terpengaruh dengan  ucapan hantu itu. Mereka itu hantu yang asal bicara, tanpa mempertimbangkan apapun sebelumnya!” Jawab Matthew, namun sama-sekali tidak memberikan dampak apa-apa bagi yang mendengarnya. Termasuk Astrid. Astrid berusaha untuk tetap tenang, dan mengawasi sekitar. Ketimbang berdebat dengan yang lain, lebih baik baginya untuk mencari tahu jalan yang mungkin dilalui oleh Grace. “Trid, itu…” Lia, yang berdiri paling pojok menunjukkan ke arah samping. Sebuah celah kecil yang muat untuk tubuh berukuran kecil terlihat tersamarkan dengan tembok yang lain. Bahkan terkesan tidak ada. Astrid tidak melihat celah di tembok itu sama-sekali, sebelum Lia mengatakannya. Semua perhatian mereka tertuju pada celah kecil di tembok itu. Saling memperhatikan satu sama lain. “Apa…ada volunter yang masuk lihat ke sana dulu gak? Lo gimana, Andree? Lo kan hantu nih, yang pastinya lo itu lebih fleksibel daripada kita. Seharusnya lo mau dong ngorbanin hidup lo demi k….” “Iya, gue bakal numbalin kehidupan gue yang amat sangat istimewa. Lo diam aja ya, kalau nggak, ntar gue robek tuh mulut elo!” Andree nyolot, dan menatap Ben dengan kasar. Plup Tubuh Andree menghilang bersamaan dengan bunyi itu. Semuanya diam, dan saling menunggu apa yang akan di dapatkan oleh Andree. Dan belum genap beberapa menit Andree menghilang, tubuh itu sudah kembali lagi dengan wajah datar. “Kenapa? Lo ada dapat sesuatu gak, entah apa-apa gitu!”Aress bertanya antusias. “Grace terjebak di tengah lorongnya, tubuhnya gemuk, dan gak bisa keluar kata dia. Dia…goblok!” Hampir saja Ben terkekeh geli mendengar hal itu. Namun dia berusaha untuk menahan, agar setidaknya keadaan tidak hancur-hancur sangat. “Dasar g****k, seharusnya lo sadar diri dong!” Andree mengerutkan keningnya. Ini dia salah apa lagi? “Gue salah apa lagi sih Ben sama lo? Harusnya lo tuh sadar diri dikit dong. Gue hantu di sini, singkatnya gue tuh tuan rumah, dan gue udah bantu lo dari kemarin-kemarin. Terus, kenapa lo sewot banget sih sekarang?” “Ya maaf. Habisnya gue udah kehabisan energi, gak bakal bisa bertahan lebih lama lagi!” “Dasar human!” Matthew tidak memperdulikan perdebatan mereka. Tatapan datarnya hanya tertuju lurus pada celah di tembok itu. Beberapa kali mencoba masuk, namun Matthew tidak kunjung bisa menembusnya. Astrid, Matthew, Christopher, dan juga Ben mencoba hal yang sama. Namun, tidak ada satupun dari mereka berhasil melewatinya. “Andre…lo nipu kita?” “Nipu apa?” “Kenapa kami gak ada yang bisa masuk, sedangkan lo bilang Grace bisa masuk. Apa jangan-jangan lo…” “Yaelah, itu aja dibuat ribet. Gue gak nipu lo, cuman, biasanya memang manusia yang gak punya tekad apapun, atau dalam keadaan terdesak, gak bakal bisa masuk celah itu. Mungkin…wait, apa mungkin Grace keadaannya terdesak makanya dia bisa masuk ya?” “Terdesak gimana maksud lo, Ndree?” “Jadi gini. Keadaan yang gue maksud adalah, kemungkinan terbesar Grace dijebak sama iblis, atau sama hantu atau sejenisnya gitu loh. Jadi dia tuh terpaksa masuk ke dalam, buat ngehindar. Tapi gue gak tahu kenapa dia bisa terjebak di tengah jalan. Karena biasanya kalo udah terjebak di sana, kita bakal di arahin sama lorong-lorong yang tetap ada di sepanjang jalan. Dan itu benar-benar bukan pilihan yang mudah, karena memang itu adalah faktanya. Selesai, any Question saudara?” Andree yang baru selesai menjelaskan panjang lebar menatap ke belakang. Namun mulutnya terbuka lebar saat tidak mendapati siapapun di sana. Andree cukup terkejut saat mendapati celah di tembok itu terbuka lebar. Dan semuanya sudah masuk ke dalam. “Dan…mungkin saja iblisnya yang ngejebak kalian di sana?” bisik Andree pelan, dia tersenyum miring, dan menatap ke arah sisi yang berlainan. Dimana 2 sosok kecil yang mengintip di celah tembok sudah memunculkan dirinya. Plub—Andree muncul di belakang kedua makhluk yang terperangkap di tubuh yang kecil itu. “Apa kamu sudah yakin bawa mereka semua ke dalam, Andree?” “Sudah, Lucy, Lana. Lalu, apa kalian sudah bertemu denganNya? Apa yang dia katakan?” “Lord akan segera muncul setelah mereka semua masuk. Apa si bodoh Matthew itu tidak sadar jika itu adalah jebakan?” Andree tersenyum miring. Melihat Matthew, sama saja baginya dengan melihat sebuah kesempatan emas. Lelaki itu adalah satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka dari jeratan itu. “Matthew akan selalu menjadi bodoh, Lucy. Kau tahu jika dia selalu berpura-pura. Dia juga membawa makanan yang lezat, aroma itu bahkan hampir membuat rupa asliku keluar!” Tubuh Andree perlahan melepuh. Kulit wajahnya mengelupas. Menyisakan sisa-sisa daging yang ada. Semua kulit di tubuhnya perlahan mengalami hal yang sama. Semua itu, adalah luka yang Andree dapatkan ketika terjebak dalam ruangan yang terbakar itu. Tangan Andree meneteskan darah. Lalu di lanjut dengan tubuhnya yang lain. “Kenapa kamu ganti wujud? Apa kamu mau mereka tahu wujud asli kamu, Andree?” Lana bertanya dengan nada pelan. Iblis itu berdiri dengan wajah yang jijik saat memandang ke arah wujud asli Andree. Bibir Andree tertarik. Memberikan sebuah senyuman yang terasa seperti sebuah ancaman. “Aku cuman mau mengingat bagaimana dulu aku mati, Lana. Tidak ada maksud untuk membuat kelas atas seperti kalian menjadi jijik. Tidak sama-sekali. Sebab, aku sudah jijik dulu dengan diriku sendiri!” “Baguslah jika kamu sadar lebih dulu. Aku dan Lucy akan terus mengawasimu, jika kerjamu tidak becus, jangan harap jika kamu akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Itu adalah hal yang sangat-sangat mustahil!” sambung Lucy, dia hanya diam saja dan memperhatikan tubuh Andree yang sudah mencapai pada wujudnya semula. Hantu dengan wujud tampan. Yang mungkin, tidak akan pernah ada orang yang menyadari, jika Andree adalah hantu. “Aku harus segera kembali. Pastikan jika kalian mengawasi dari jauh, Astrid, gadis istimewa itu bisa merasakan aura kalian, bahkan dari bermil-mil jauhnya!” Lucy tersenyum sombong. “Kita tidak bisa kehilangan, Astrid. Selain Matthew, si bodoh itu, Lord juga sangat menginginkan Astrid. Aku tidak tahu alasannya, tapi  jika bisa menebak, selain daripada kekuatan dalam tubuhnya, gadis itu mungkin adalah sosok yang berharga!” “Apa mungkin, dia adalah putri yang terbuang? Kau jelas mendengar jika…” “Itu tidak ada. Jangan mengarang-ngarang cerita. Astrid adalah seorang yang memiliki keberuntungan, singkatnya, dia itu…sangat istimewa. Karena novel ini tidak ada hubungannya dengan novel lain, jangan membuat pembaca kita pusing dengan perkataanmu, Andree!” Lana menjelaskan dengan ketus. “Aku tahu.” “Sudahlah. Makhluk levelmu memang tidak pernah bisa menyerupai level kami. Jadi…enyahlah! Sebelum aku menghanguskan tubuhmu itu!” Plub Sebelum kobaran api itu menangkap tubuh Andree, lelaki itu sudah lebih dulu menghilang, dan muncul di depan celah pintu itu. Sekali lagi Andree tersenyum miring, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk memasuki celah itu juga. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN