12 ~ Trid, tolong gue!

1780 Kata
“Jadi gimana?” “Kagak tau!” Astrid menaikkan bahunya tidak peduli, dia melepas tangan Matt dan mengambil sesuatu dari balik sakunya. Coklat. Grace dan Lia speechless, udah keadaannya sedang genting-genting begini, Astrid malah dengan santai memakan sisa coklatnya yang tinggal beberapa bagian lagi. Benar-benar tidak pernah tertebak, begitulah Astrid. “Lo…takut, Lia?” ujar Ben. Itu sudah pasti. Lia mengangguk saat Ben mendekatinya, sekalipun Ben masih sedikit bau pesing. Sumpah, makin ke sini, baunya Ben itu gak tertolong lagi. Tapi hanya Ben yang bersedia menanyainya, jadi, Lia mesti bersyukur. Astrid sudah tidak lagi memusingkannya, dia tengah sibuk mengunyah coklatnya. “Dia…ganggu gak, Ress?” “Mana gue tahu, orang dia cuman ngintip kita dari  tadi aja. Mungkin…kita bisa pergi aja kali ya, dia mungkin gak berbahaya. Trid, coba lo kasih coklat punya lo, keknya dia…lapar?” Memicingkan matanya tajam, Astrid menatap Aress hina. Tatapan matanya benar-benar menusuk, siap untuk menebas leher Aress, jika saja tatapan bisa melakukan hal itu. “Hantu…maksudnya satan, gak makan coklat, kecuali coklat gue terbuat dari…darah!” Semuanya kembali hening. “Dia juga gak bergerak dari tadi, mungkin dia satan yang…kepo kenapa tiba-tiba ada bau pesing di tempatnya. Sebenarnya Ben yang cocok jadi tumbal pertama deh!” “TRID!” Ben ngenes, lagi-lagi Astrid selalu saja membuatnya jadi sasaran empuk. Padahalkan Ben hanya melakukan hal yang lumrah, itu juga udah kering kok. “Ya kan emang—” “Udah, gosah banyak drama lagi, sekarang apa? Gue udah capek, sumpah! Mana kita gak tahu sekarang jam berapa lagi!” Grace menengahi, dia benar-benar sedikit muak dengan hal-hal yang diperdebatkan oleh Astrid dan Ben. Hal kecil saja bisa jadi masalah besar. Kalo masalah besar, bisa jadi sebesar apa lagi? Sebesar boom lagi, gitu? Bisa berabe lagi masalahnya. “Selagi satannya gak minta coklat gue, ya kita lanjut jalan aja. Soalnya, Chris keknya udah tahu arti dari musiknya!” Astrid semakin aktif bicara, “wajah pintarnya kelihatan lebih hebat, dan berseri-seri!” Semua mata kini tertuju pada Christopher. Yang di tatap hanya diam saja, masih memikirkan berbagai macam kemungkinan yang ada di kepalanya saat ini. Begitu juga dengan Matt, dia sepertinya menemukan sesuatu yang menjadi maksud dari bunyi piano tadi. “Bunyi piano itu keknya punya maksud ‘malam dan kesunyiannya’, kalo gue nyambungin ke arti puzzle tadi, keknya dia dibunuh pas malam-malam di sekolah. Ada pendapat lain gak?” Matt setuju, dia juga satu pemikiran dengan Christopher. “Gue gak paham, gue diem!” guman Astrid, “gue gak sepintar kalian!” “Mereka gak butuh suara lo, Trid!” Wajah Astrid kembali suram. Dia menatap Ben hina. “Gue suruh ntar satan itu buat makan lo, Ben. Jadi diam aja sebelum gue ngamok!” Ben kicep. Dia memang masih ingin mengolok-olok Astrid—buat balas dendam, tapi Ben lebih sayang sama nyawa. Jadi lebih baik diam saja, daripada di makan satan? Gak lucu ntar ceritanya. “Gue sependapat sama lo sih, Christ. Gue gak paham amat apa maksud dari music tadi, tapi itu mungkin ada benarnya. Trus, kalo gue nebak lagi, mungkin dia mati saat main piano gitu?” ujar Grace. “Jadi, apa kemungkinan yang mati itu salah satu anak ekskul music juga?” Guman Lia. “Ada kemungkinan gitu, tapi kita masih tidak tahu apa yang mesti kita lakuin. Keknya, kita meski nyari puzzle itu lagi.” Mereka kembali berjalan memasuki lorong. Beruntung tidak ada satan jahat seperti sebelumnya—setidaknya masih sampai saat ini. Aress memimpin di depan, diikuti dengan Lia dan Grace, lalu Matt dan Astrid berjalan paling belakang  juga dengan Christopher. Masing-masing tembok di sekitar mereka ditumbuhi lumut. Hal itu menimbulkan pertanyaan bagi Matt. “Trid, ada gak kemungkinan kita terjebak di dimensi lain?” Menatap Matt yang menggendongnya, Astrid menaikkan bahunya—tidak tahu juga. Bisa jadi itu benar, bisa jadi itu hanya perasaan Matt saja. Astrid menatap hantu-hantu yang ikut dengan Ben, sudah beberapa kali ‘mereka’ mencoba keluar, namun tidak berhasil. Jadi bisa jadi, jika mereka memang terjebak di alam yang berbeda. Karena sebelum memasuki ruangan itu, Astrid memang merasa jika itu bukan pintu masuk ke gedung anak kelas sepuluh biasanya. “Mungkin sih iya!” “Lo…sejak kapan bisa lihat ‘mereka’, Trid?” Christopher mencoba untuk menghilangkan rasa takutnya. Dia memperhatikan wajah Astrid yang tetap biasa saja, bahkan gadis itu sudah menguap lagi. “Gak tau juga, itu mungkin sudah beberapa bulan lalu. Atau beberapa minggu lalu? Gue juga gak ingat kapan pastinya!” “Bukannya lo  tiba-tiba bisa melihat mereka pas ada kasus sama pak Nur ya, Trid?” Matt memperbaiki posisi Astrid, “lo bilang ada yang ngikutin pak Nur gitu!” “Sebelumnya…mungkin lo lupa. Waktu itu gue di kelas sendiri gara-gara nungguin lo siap rapat osis. Gue juga gak sengaja lihat ada guru masuk, dan ngajar gitu di kelas. Aura dia beda, dan dingin. Gue pikir guru beneran, jadi gue gak peduli dan tetap bobok. Tapi, pas lihat ada ulet-ulet di tubuhnya, gue jadi kepikiran kalo dia itu…mayat hidup!” “Bentar!” Matt berhenti sebentar, “apa waktu itu, gue nemuin lo yang nangis di kelas karna gue kelamaan?” “Bener! Gue jadi kesel sama lo, berani-beraninya lo ninggalin gue lama!” “Ya maaf, Trid. Gue waktu itu benar-benar ditahan sama kepsek, karena rapatnya sama guru-guru juga!” “Hmmm!” Kening Christopher mengerut. Mereka mengatakan jika hubungan mereka ‘hanya teman’ sementara jika Chris dengar dari Ben, dia bilang jika hubungan Astrid dan Matt seperti bąbu dan tuannya. Tapi beda lagi kalo melihat percakapan di antara keduanya. Mereka seperti…ayah dan anak! Entah kenapa, tapi perilaku Astrid memang seperti seorang anak kecil yang mengamuk karena ditinggal ayahnya terlalu lama. “Gue bingung, lo kekurangan kasih sayang ayah ya, Trid? Lo kek anak kurang kasih sayang ayah gitu!” kekeh Chris, berniat untuk bergurau. Yang lain tertawa pelan. Kecuali Matt, dan Astrid yang kembali menguap. Jika orang lain pikir itu ada lucunya, namun tidak dengan Matt. Dia tidak suka jika orang-orang menganggapnya sebagai ayah dari Astrid. Dia itu lebih senang dipanggil…majikan Astrid. Majikan rasa pembantu sih lebih tepatnya. “Tolong ya, keknya Matt gak senang loh di panggil gitu, Christ. Kucingnya ntar marah!”kekeh Ben, dia sadar apa arti raut wajah Matt. “Kucing?” beo Christ. “Iya. Astrid itu kucingnya, maksudnya peliharaannya Matt. Jadi…mereka gak cuman ayah anak lagi, tapi…majikan sama peliharaannya.” Tawa Aress dan Ben pecah, benar-benar tidak tahu tempat. “Diam lo berdua, atau gue santet lo ntar kalo kita keluar dari sini!” “Ampun Nona, rakyatmu bersalah!” ujar Ben yang diselingi dengan tawa ringan. Chris menggelengkan kepalanya. Dia awalnya berpikir jika lingkup pertemanan mereka—Astrid CS, itu adalah lingkungan yang toxic. Namun ada hal yang Christ sadari beberapa detik lalu. “Berhenti!” Aress mendadak menghentikan langkah mereka. “Kenapa, Ress? Lo mau nyerahin diri lo jadi tumbal?” seru Astrid, “atau lo dapat sesuatu yang fantastis?” “Benar dan salah. Salah karna gue gak mau numbalin diri sendiri, dan benar karna gue emang dapat sesuatu lagi. Ini…” Astrid lekas turun, dan menatap potongan puzzle yang lain. Berada di tangan Aress. Tapi potongan puzzle itu…berdarah. Aress dan Astrid menatap ke atas, dan sama-sama menelan ludahnya kasar saat menatap apa yang kini ada di atas mereka. Menatap ke arah Astrid dengan seringai mengerikannya, juga…hendak menerkamnya. Namun tangan Astrid lebih dulu di tarik mundur, Matt yang entah kenapa bisa melihat sosok mengerikan itu semakin lemas. Tapi dia tak bisa menahan diri untuk menarik Astrid. Akibat tarikan itu, mereka terbagi menjadi dua. Astrid, Matt dan Christopher berada di sisi lain, dan temannya yang lain berada di depan. Sosok yang jatuh dari atap itu menyeringai. Wajahnya penuh darah, giginya begitu tajam, wajahnya benar-benar buruk rupa. Tapi sedetik kemudian, sosok itu menirukan wajah…Astrid. Semuanya diam, dan ketakutan. “Trid!” guman Christ, dia tidak tahu apa yang membuat mereka terpisah. Tapi udara di sekitar mereka dingin, dan auranya mencekam, seperti ada sesuatu yang berbahaya berdiri tepat di depan mereka. “Sekarang apa?” bisik Matthew semakin pucat. Dia menelan ludahnya kasar saat menatap wajah Astrid yang ada di depan. Sosok itu bisa menirukan wajah, itu bukan sesuatu yang baik. “Kita…kabur! Ress, lari kedepan!” Astrid lekas berlari ke arah belakang, diikuti oleh Matthew dan juga Christopher. Sosok itu mengejar mereka. Berbeda dengan Ben, Lia dan juga Grace yang tidak mengerti kenapa tiba-tiba Astrid melarikan diri dan juga berteriak. “Ress, kenapa mereka ninggalin kita?” “Lari, cepat!” teriak Aress panik saat menatap sosok merah yang tadi berada di awal kini mengejar mereka dari belakang. Wajahnya terlihat ingin memakan mereka. Sementara itu, Astrid terus memimpin jalan untuk berlari memasuki lorong-lorong ruangan. Satan yang menyamar menjadi dirinya yang lain itu terus mengejar mereka. Nafas Astrid ngos-ngosan. Bruk Tubuh Astrid terjatuh saat ada sesuatu yang memegangi kakinya. Menatap ke bawah, wajah Astrid sedikit memucat saat ada sebuah tangan dengan penuh mata di sepanjang kulitnya menahannya. Menarik tubuh Astrid untuk mendekat. “Sialan!” seru Matt. Prang Bunyi tebasan terdengar. Astrid terdiam saat melihat ada pedang yang ada di tangan Matt. Lelaki itu kini menghilang, dan muncul tepat di belakang sosok hantu itu. Juga…ada lubang di kaki Matt. Bruk Tubuh satan itu kini berubah menjadi wujud aslinya, lalu menyerang Matt yang berpindah-pindah tempat dengan mudah. Astrid berpikir jika Matt sudah hampir menang, tapi mendengar jeritan Matt membuat Astrid lekas berdiri dan membuang tangan yang dipenuhi dengan mata itu. Dia berlari dan bruk…membuat tubuh satan itu terjungkal ke belakang. Astrid kembali menarik Matt, dan mereka berlari. “Trid, kemari!” Chris menemukan sebuah ruangan kelas. Mereka lekas memasuki ruangan itu dan menguncinya rapat-rapat. Berusaha untuk menenangkan diri masing-masing di dalam ruangan. Dari dalam, Astrid bisa melihat jika ada langkah yang mendekat. Tapi itu melewati ruangan mereka saat ini. Beralih menatap Christ, Astrid menaikkan sebelah alisnya saat menatap wajah Christ yang sangat pucat, mata melotot dan tertuju ke belakang. “Trid!” “Ssst…jangan berisik, nanti dia dengar kita!” Astrid membekap mulut Christoper yang siap untuk berteriak. Dia ikut menatap ke depan, dimana sebuah tengkorak yang dipenuhi dengan ulat, rambut yang berantakan, dan arah tatapan yang tertuju ke atap tengah berada di depan mereka. Itu mengerikan. Astrid mengakuinya. Mereka merangkak menjauh dari sana, sepelan mungkin. Berusaha agar tidak ada sesuatu yang mereka sentuh. Tubuh Matt tepat saat melihat ada tembok. Kakinya bolong, dan badannya sungguh lemas. “Trid, tolong gue!” Astrid menatap Matt dengan kerutan di keningnya. Dia…ragu, haruskan Astrid menolong Matthew, atau… “Trid, gue mohon!” Astrid tidak bisa menahan dirinya. Dia lekas menggenggam tangan Matt, dan bersamaan dengan rasa dingin yang kini juga menjalar pada tubuh Astrid. Itu dingin, sangat dingin, hingga Astrid ikut merasa lemas.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN