Nafas Aress mulai memburu. Dia menatap secara jelas bagaimana tubuh Ben meledak tepat di depannya. Tubuh Ben ditelan oleh makhluk yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata itu. Wajah Aress dipenuhi dengan darah.
“Ben…lo harusnya lari!” seru Aress, berbisik pada dirinya sendiri.
Beberapa menit yang lalu
“Boo…kejutan!”
Bruak
Tubuh Aress langsung melayang begitu sosok yang juga mengintip di balik pintu itu mengulurkan tangannya dan menarik lehernya. Nafas Aress sesak, dia menatap ngeri ke arah pintu yang sudah hancur, benar-benar tidak terpikirkan sebelumnya.
Ben lekas membantu Aress untuk berdiri. Tidak beda jauh dengan keadaan Aress, Ben juga sama pucatnya. Nafasnya bahkan berhenti saat menatap bagaimana sebuah tangan menembus pintu itu, dan mencekik leher Aress. Bahkan sanggup untuk melemparkan tubuh Aress yang bisa dikatakan cukup berat.
Itu…mengerikan. Sungguh mengerikan, membuat Ben tidak tahu harus berbuat apa dalam sepersekian detik sebelumnya.
Otaknya terasa kaku.
Saat Aress melangkah, terdengar bunyi piano yang dimainkan. Kali ini bunyinya terasa berbeda dari bunyi-bunyi sebelumnya. Ini adalah ketiga kalinya piano itu terdengar, dan tidak dalam keadaan yang tepat.
“Ress. Kita gimana sekarang? Mereka siapa? Keknya mereka bukan anak kecil!”
Menelan ludahnya kasar, Ben memperhatikan 2 bocah kecil yang saat ini tengah mengintip mereka dari balik pintu. Tatapan mereka terlihat lucu, namun Ben sadar jika lucu itu akan berujung maut pada mereka.
Ben bahkan sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk.
“Gini aja, lo kabur duluan, biar gue yang ngadepin mereka. Lo harus nyari dimana keberadaan Astrid dan yang lainnya, karena hanya jika dengan Astrid, lo bisa aman!”
“Tapi lo gimana? Gue gak mungkin…”
“Dengerin gue!” Aress marah, dia meraih kerah baju Ben, “lakuin aja apa yang gue perintahin ke lo, jangan sampe lo mati di tangan mereka. Dua bocah itu bukan manusia, satan dengan wujud sempurna adalah yang paling berbahaya. Gue takut kalo mereka itu jelmaan Lucifer atau satan tingkat tinggi lainnya!”
“Lo kok hafal banget sih? Apa jangan-jangan lo mau ambil sarjana ilmu gaib ya?”
Aress menyipitkan matanya. Sudah tidak tahu harus berkata apa-apa, dia tidak harus menanggapi ocehan Ben yang tujuannya hanya untuk menghibur diri. Sangat terlihat dari wajahnya yang semakin pucat.
Mereka saling menatap untuk beberapa menit.
“Sekarang! LARI!”
Bukannya lari ke arah sebaliknya, Ben malah berlari ke arah dua bocah itu berada. Aress melebarkan matanya menatap tubuh Ben yang ditarik ke belakang. Kepalanya membentur lantai.
“Ben, lo kenapa lari ke sana, bego?”
“Gak tau, gue ditarik!”
Ben mulai panik saat dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Dia benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah.
Lucy yang menatap itu hanya bisa tersenyum miring. Lana hanya menatap dari ambang pintu, dia masih mengantuk dan ingin tidur.
“Lana…kamu lapar?”
Tatapan Lucy tertuju pada adiknya. Wajahnya sudah cukup untuk menunjukkan jika adiknya itu memang kelaparan. Auranya bisa Lucy rasakan, dan kebetulan dia tidak sengaja menemukan manusia dengan aroma tubuh yang unik.
Dan itu adalah lelaki bernama Ben yang kini sudah ada di depannya.
“Aromanya, tidak ada. Kenapa Lucy pengen dia jadi sarapan Lana?”
Benar juga. Ben memang tidak punya aroma kehidupan. Berbeda dengan sosok lelaki yang tadi Lucy lempar. Dia Aress, temannya Matthew, Lucy beberapa kali mendapati mereka jalan bersama. Aress punya dendam, namun anehnya tidak membuat aroma kehidupan Aress berubah.
Tidak ada aroma kebencian yang bisa Lucy cium dari lelaki itu.
Namun berbeda dengan Ben. Selama ini, Lucy tidak pernah mendapatkan manusia yang bahkan tidak punya aura kehidupan. Mereka seolah mati di telan bumi, dan kekosongan yang hinggap. Biasanya, manusia seperti itu memiliki banyak masalah, dan tingkat niat untuk hidup hanya beberapa persen.
Itu sebabnya, Lucy jadi tertarik pada Ben.
Dia tertarik dengan manusia yang berbeda.
Mereka menggiurkan, dan membuat selera makannya meningkat.
“Lo…mau apa hah? Kenapa lo natap gue nafsuan banget? Lo satan, iblis, jikininki, sundel bolong, baju bolong apa kolor bolong? Pilih salah satu, gue kasih beberapa opsi tuh!” seru Ben, dia mendekat pada Lucy dan menatap bocah kecil itu…remeh.
Dan Ben masih tidak sadar, jika bocah di depannya adalah jelmaan salah satu dari 7 tingkatan iblis paling ditakuti.
“Aku bukan kolor bolong tepatnya. Mereka gada!”
“Wah…berani juga ya lo ngejawab gue. Apa lo tahu gue ini mantan pesilat nomor satu di rumah gue? Gada yang bisa nandingin gue, semua penghuni rumah gue tunduk sama gue. Apalagi bocil kayak lo, harusnya lo sama teman lo itu bobok aja di rumah. Gak usah keluyuran malam-malam gini!”
Lucy melongo. Bisa-bisanya dia dibentak seperti ini. Itu benar-benar melukai harga dirinya sebagai bocah paling tampan yang tidak pernah di lawan.
“Lucy, Lana…lapar!”
Aress memijat keningnya. Dia menatap Ben yang malah mendekat, bukannya menjauh. Lelaki itu benar-benar membuatnya pusing.
“Ben…lari, dia mau makan lo, bego!”
Kening Ben saling bertaut, dan memperhatikan dua bocil di depannya. Mau memakannya gimana? Apa bocah itu pikir Ben tidak bisa melawan?
“Lo gak dengar kalo gue itu pesilat nomor satu di rumah gue?”
“Sayangnya, rumah kamu itu hanya diisi kamu doang. Kamu juara 1, di antara 1 doang, itu…kamu!” seru Lucy, tawanya kini mulai berubah menyeramkan.
Tidak ada lagi wajah-wajah bocah kecil seperti tadi. Ben menelan ludahnya kasar, dia mengusap lehernya yang tiba-tiba terasa meremang.
“Ben, lari, gue bilang lari bego!”
Aress berlari dan mendorong tubuh Ben ke tembok. Membuat pedang yang tadi hampir menebas leher Ben itu hanya bisa menyapa angin. Mata Ben melebar, dia terkejut saat Aress mendorongnya, membuat dia membentur tembok.
Tapi melihat kobaran api menyala dari pedang itu membuat Ben harus bersyukur jika dia ternyata masih bisa hidup.
Berkat Aress.
“Sekarang apa?” bisik Ben.
“Pergi…lari, jangan balek ke sini, mereka itu iblis!”
Ben mengangguk. Dia bangkit, meskipun bahunya terasa sakit karena benturan keras itu. Langkah Ben terkocar-kacir, dia sudah jauh dari Aress. Dia berlari terus, tanpa menatap apa yang terjadi di belakang.
Ben tahu jika Aress saat ini tengah kesulitan.
“Lu, dia kabur!”
Lucy hanya menyeringai, dia mengambil pedang yang tidak pantas untuk ukuran tubuhnya. Pedang itu terayun keras, hendak mengenai leher Aress yang pasti akan terlepas jika mengenainya. Beruntung Aress lebih dulu menghindar.
Pedang itu terkena meja.
Nafas Aress memburu, dia menatap meja itu yang terbelah dua, api itu bahkan menghanguskan meja itu dengan sekejap.
Aress bangkit, dia kembali melompat untuk menghindari serangan bertubi-tubi itu. Dia benar-benar mulai kewalahan dengan apa yang dia terima saat ini.
“Pergi, La. Kejar dia, cowok itu lemah, sangat lemah, cocok untuk makan siangmu!”
“Beneran Lana bisa kejar dia, Lu?”
“Iya, kejar aja. Dia itu cowok paling lemah di antara mereka, dia itu hidup juga gak guna!”
“Sialan, pergi kau dasar bajengann!” teriak Aress marah.
Tangannya mengambil kayu dari meja, hendak memukulkannya pada Lucy yang hanya memelototinya santai. Bahkan terkesan tidak mau tahu. Wajah kecil itu sangat tenang, seperti permukaan air.
Plup
Bruk
Aress melebarkan matanya begitu merasakan rusuknya sakit. Tatapan Aress tertuju ke samping, dimana Lucy berdiri dengan posisi melayang, dan menghadap ke arahnya. Sosok itu seolah ingin menghancurkannya.
“Kalo kamu mati, nanti Matthew marah. Dia bakal ngemusuhin aku, jadi…kamu cuman patah tulang rusuk aja.”
Bruak
Aress mendesis keras saat merasakan tulang belakangnya ikutan terantuk ke lantai. Darah mengalir keluar dari tangannya, membuat Aress semakin marah. Dia menatap Lucy dengan tatapan permusuhan, dia benar-benar ingin membunuh iblis satu itu.
Tapi Aress tahu, dia hanya akan menjadi boneka, kemampuannya tidak akan mempan untuk melawan iblis satu itu.
Sementara itu, Ben sudah tidak bisa menahan air matanya. Dia benar-benar ketakutan saat melihat ada sosok kecil yang berjalan di belakangnya.
Dia yakin, jika sosok itu adalah bocah tadi.
Tubuh Ben kembali tidak bisa digerakkan. Dia menahan nafasnya, wajahnya semakin panik dan berusaha untuk menggerakkan kakinya. Berusaha untuk melangkah menjauh. Ben masih tidak ingin mati secepat ini.
Setidaknya dia mesti cebok dengan air bersih dulu.
Konon, katanya, jika ninggoy dengan keadaan kotor tidak akan diterima di sorga. Ben jelas tidak mau hal itu. Dan dia sadar jika dia saat ini sangat kotor.
“Lana lapar, kamu…mau kan jadi makan siang, Lana?”
Ben yang sedang berusaha kabur menatap bocah kecil yang sudah berada tepat di sampingnya itu. Tatapannya terlihat polos, dan benar-benar tidak sama seperti ucapannya. Membuat Ben tidak bisa membalas pertanyaan bodoh itu.
“Kalo ada yang bicara, harusnya kan dijawab. Kenapa ya…manusia itu minim akhlak sekali?”
Lana mulai kesal. Dia memperhatikan Ben yang tingginya 3 kalinya yang tengah berusaha untuk kabur lagi. Padahal Ben harusnya tahu, kalau dia tidak akan bisa kabur.
“Lo yang gada akhlak, dasar anjing. Gada sopan banget sih lo? Lagian kenapa lo harus makan manusia sih? Gak bisa apa lo makan kotoran manusia aja? Kan sama-sama ada manusianya, lo itu gak pantas buat makan kita!”
Wajah Lana berubah menjadi murung. Udara di sekitar semakin terasa dingin, dan seketika Ben menyesali apa yang baru saja keluar dari mulutnya.
“Lo ngamuk? Idih…gitu aja bapak, lo kok baperan banget sih? Harusnya lo itu…sadar diri. Udah hidup numpang di bumi, sok-sokan lagi, mau lo apa sih?”
Wajah Lana mulai memerah. Tangannya mengeluarkan pedang bermata dua, dengan api menyala yang ada pada ujungnya. Dan apinya berwarna biru lagi, Ben tahu jika api itu pasti akan sangat panas jika mengenai permukaan kulitnya.
Menelan ludahnya kasar, Ben menatap ke belakang, dimana tubuh yang lebih besar kini tengah merangkak ke arahnya.
“Lari, Ben. Ngapain lo masih di sana, lari bego!”
Itu Aress. Ben sedikit berbinar saat melihat keberadaan Aress, setidaknya dia tidak sendiri.
Namun, melihat sosok lain yang berdiri di belakang Aress dengan langkah tegapnya membuat Ben kehilangan kata-kata. Aress semakin dekat, dan tampilan Aress benar-benar membuat Ben tidak bisa percaya dengan matanya.
Aress kehilangan sebelah tangannya.
Wajahnya dipenuhi dengan darah dan luka, bahkan sebelah matanya tertutupi oleh darah berwarna hitam menyala. Ben…kaku.
“Lo, kenapa?”
“Lari…lari bego, lo harus selamat!” Aress semakin berteriak panik, tubuhnya sudah sangat sakit.
Lucy benar-benar marah, iblis itu memenggal tangannya, merobek wajahnya, dan bahkan mencongkel matanya sebelah kanan. Rasa perih itu terasa hingga saat ini. Aress lebih baik merasakan jika dia mati saja daripada harus merasakan siksaan iblis seperti ini.
“Gue…gue gak bisa lari, kaki gue kek tadi. Gimana, gue panik!” teriak Ben.
“La, kamu makan dia saja. Bocah ini tidak kuat ternyata, dia hanya kuman saja!”
“Okay, Lana makan sekarang!”
Tubuh Ben berjalan mundur. Sebuah tangan menangkap kakinya, Ben mengalihkan perhatian dan melebarkan matanya saat menatap tubuh Lana yang terbelah-belah menjadi beberapa bagian, namun masih dalam satu kesatuan.
Dari kepala Lana, keluar sebuah mulut yang besar, dengan taring yang siap untuk merobek setiap inci tubuh Ben. Nafas semakin memburu saat merasakan sebelah kakinya yang lepas menyentuh sesuatu yang dingin.
Ben kembali menatap ke arah tangan yang memajang itu.
“ARGH!”
Ben berteriak kesakitan saat merasakan kakinya di tusuk dengan tangan itu. Darahnya merembes keluar, Ben mulai panik saat tubuhnya juga mulai tidak bisa digunakan.
Kaki Lana juga menjalar, bocah kecil itu mendekatinya. Bentuknya benar-benar mengerikan, membuat Ben hampir saja memuntahkan isi perutnya jika tidak ingat bahwa saat ini dia adalah korbannya.
Tubuh Ben melayang, dia diangkat ke atas.
Bruk
Tidak berselang lama, tubuh Ben dijatuhkan ke lantai dengan benturan yang sangat keras. Seketika Ben berhenti bergerak merasakan jika sesuatu di dalam otaknya retak.
Nafas Ben semakin memburu, ditambah dengan rasa sakit yang menerjang semua permukaan tubuhnya. Dia berteriak kesakitan saat kakinya dimasukkan kedalam mulut besar itu.
Ben berusaha untuk meronta. Dia mengambil apapun di sekitarnya dengan tangannya, berusaha untuk melepaskan kakinya yang sudah hampir seluruhnya di masukkan ke dalam mulut itu.
Nafas Ben semakin memburu. Usahanya sia-sia, dia tidak bisa melawan iblis, dia tidak sekuat itu.
Aress berteriak sejadi-jadinya, dia berusaha untuk bangkit, namun tubuhnya kembali di tekan, lukanya di taburi garam, membuat Aress juga berteriak kesakitan. Dia benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit dari garam yang ditaburi oleh Lucy.
Bocah gila itu benar-benar iblis paling keji yang pernah Aress temui.
Tubuh Ben mulai hanyut dalam mulut besar itu. Dadanya sangat sesak, dia menatap Aress yang berusaha untuk menolongnya. Perlawanan Ben berhenti saat dia hanya melihat Aress dengan satu matanya. Tubuhnya benar-benar di telan habis.
Ben tersenyum menatap Aress. Dia tahu jika Aress selalu berusaha untuk melindunginya.
Dan Ben juga sadar, jika mungkin dia lebih baik. Toh juga hidupnya tidak akan berguna. Ben…tidak pernah merasakan jika apa yang dia jalani saat ini benar-benar berguna.
Kehidupan dan masa lalunya, tidak ada satupun yang penting.
Ben…senang jika bisa mati.
Duar
Aress berhenti meraung kesakitan saat menatap tubuh Ben yang meledak di dalam perut iblis itu. Hal itu terlihat jelas. Air mata keluar dari mata Aress, dia benar-benar bodoh. Dia menatap Lana yang sudah kembali pada wujud semulanya.
Semua bagian tubuhnya yang tadi melebar sudah kembali menyatu dalam tubuhnya.
“Kalian…iblis, kalian benar-benar iblis, aku…aku pasti akan membunuh kalian berdua!”
Lucy menatap Aress tidak peduli. Dia berjalan mendekati Lana yang sudah kenyang. Bunyi gemuruh terdengar, dan beberapa saat kemudian.
Lana mengeluarkan tulang belulang dari mulutnya yang besar, juga rambut dan pakaian yang tidak bisa di olahnya.
“Lana kenyang, Lu. Kita pergi cari Matthew sekarang!”
“Ayo!”