“Kau darimana saja?” Aress terkejut mendengar suara itu, matanya langsung tertuju pada Matthew yang tengah duduk di sofa. Padahal ini sudah sangat larut, lebih lagi Matthew pulang ke rumahnya. Bukan ke rumah Astrid, yang bisa dipastikan bahwa mereka akan ada di sana. Dengan cepat Aress menutupi lengannya—menyembunyikan luka di tangannya. Dia melangkah menuju saklar lampu, memberi penerangan pada ruangan yang tadi samar-samar. Aress menatap Matthew yang mulai menatapnya dengan curiga. “Ini bukan tempat umum, Matt.” Menaikkan alisnya, Matthew semakin yakin dengan opinya, bahwa Aress memang tengah melakukan sesuatu hal, yang tidak mereka ketahui. Padahal, Matthew memang tidak ingin berada di ruangan sepi ini, jika bukan karena feelingnya. Bahkan, Matthew sampai berbohong pada Astrid, men

