Nyatanya, Anna berbohong. Ini sudah lebih dari 3 hari, namun wanita paruh baya itu tak kunjung kembali. Dia bilang, akan merayakan tahun baru di luar…dengan teman-temannya.
Matt memandang Astrid dan teman-temannya yang berkumpul di ruang tengah. Mereka memutuskan untuk melewatkan pergantian tahun bersama-sama. Dan rumah yang menjadi korban adalah… rumah mamanya Astrid.
“Lo mikirin apa, Matt? Keknya dari kita semua, yang gak bahagia itu cuman lo deh!” Ben menghampiri Matt yang mendapat bagian memanggang.
Tidak ada jawaban dari Matt. Dia masih sibuk memperhatikan Astrid yang berbaring di pangkuan Ares. Seharian ini gadis itu hanya rebahan, tidur, dan makan. Seperti pada hari-hari sebelumnya.
“Lo mikirin nilai lo yang turun ya? Tenang Matt, lo tetap yang terbaik kok. Gak usah mikir banyak-banyak!”
“Gak sih, lagian gue gak peduli amat masalah nilai. Gue cuman lagi mikirin Astrid. Dia lebih banyak diam sejak tadi pagi, apa mungkin dia sedih karena mamanya gak balek?”
Benar juga. Ben ikut-ikutan menatap Astrid yang tidak b*******h, juga tidak memasang candaannya seperti biasanya. Meskipun Astrid itu malas tingkat dewa, dia tetap masih punya antusias jika sudah berhubungan dengan…makanan.
“Udah, bukannya Astrid memang gak pedulian ya? Sejak kapan kucing lo itu punya…”
“Punya apa, Ben?”
Mendadak udara terasa horror.
Ben berbalik, dan dugaannya benar. Astrid dan juga Aress kini berdiri di belakangnya. Aura Astrid berbeda, gadis itu menatapnya tidak suka. Seolah ingin…memusnahkannya?
“Gak kok, Trid. Gue cuman…”
“Gue heran deh!” potong Astrid, dia sudah kembali mencari tempat untuk merebahkan tubuhnya, dan itu adalah…Matt. Sasaran empuk Astrid setiap kali melihat tempat terbaik.
“Heran kenapa?” beo Ben. Kali ini dia mendadak merasa jika Astrid pasti lagi-lagi akan membuatnya bahan gibahan mereka.
Astrid menatap Ben tidak b*******h. Tatapannya lurus ke arah belakang Ben, membuat lelaki itu merasa merinding. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri, dan udaranya tiba-tiba dingin.
“Lo p*****l ya, Ben?”
“Trid, lo bisa gak sih gak…”
“Masalahnya, bukan cuman hantu tante-tante yang ngikutin lo, Ben. Tapi…ada anak kecil juga! Nempel di leher lo, meluk lo erat…mphhhh””
Astrid berusaha meronta begitu Ben tiba-tiba menyumpal mulutnya dengan jagung bakar yang masih panas. Mulutnya benar-benar seolah terasa terbakar.
“Ben, lo gila ya!”
Matt menatap Ben tidak suka. Dia menarik tangan Ben kasar dan menarik Astrid yang terlihat kesal. Wajah Astrid bahkan sudah memerah.
Suasana di atap rumah Astrid mendadak suram. Mata Astrid berkaca-kaca, dia masih merasakan panas di mulutnya.
Berbeda dengan Ben, dia sudah menempel pada Aress yang juga kesal. Namun, Ben juga merasa bersalah. Tadi itu ia refleks saking takutnya. Bahkan, Ben pipis di celananya.
“Maaf, Trid. Gue tadi refleks banget. Soalnya, lo kenapa sih suka buat gue menderita banget? Lo punya dendam ya sama gue? Lihat nih, celana gue ampe basah!” desis Ben frustasi melihat dirinya sendiri. Dia benar-benar sudah kehilangan citranya di depan Matt, Ares dan juga Astrid.
Astrid masih diam. Dia sudah lebih tenang, dan menatap Ben dengan tatapan membunuh yang ketara.
“Udah, lo ganti celana aja. Di kamar sebelah Astrid, itu kamar gue, lo bisa milih salah satu!”
“Sekalian sama sempaknya bisa gak?”
“Sialan!” kesal Aress yang akhirnya ngakak. Dia sejak tadi sudah menahan ketawa melihat celana coklat Ben yang memang sangat basah.
Sepertinya Ben memang tidak bercanda soal ketakutannya dengan…hantu.
“Boleh, tapi jangan lupa balikin. Gue gak punya banyak persediaan sempak!”
“Beres. Makasih Matt, gue pergi dulu!”
“Ben…”
Astrid tiba-tiba berteriak, dan menatap Ben yang menahan langkahnya di depan pintu.
“Apa?”
“Hantunya ngikutin lo!”
“ASTRIDDDD!”
***
Kembang api yang menghiasi langit menandakan jika tahun sudah berganti. Astrid CS tengah menikmati suasana yang ramai. Acara BBQ mereka sudah selesai, dan kini mereka ber-4 duduk lesehan di atap sembari menikmati langit yang berwarna-warni.
“Gak kerasa, tahun sudah berganti aja ya.” Aress memulai percakapan.
“Dan, bentar lagi kita masuk!” ujar Ben.
Sejak kejadian beberapa jam lalu, Ben benar-benar tidak mau jauh-jauh dari Astrid. Sekalipun takut, tapi Ben juga kepo, kenapa dia bisa ditempeli sama hantu?
Padahal sudah pergantian tahun, apa hantu-hantu juga pada gak negerain kah?
Apa mereka segabut itu buat nempelin anak soleha seperti Ben?
“Eh, ntar setelah masuk tahun ajaran baru, itu kan masih belum fiks belajar ya. Gue ada ide nih dari team pramuka, mungkin lo bisa kasih masukan juga, Matt. Selaku lo kan ketua OSIS gitu, jadi kita juga butuh masukan gitu!”
Matt yang tengah mengelus rambut Astrid yang berbaring di pahanya menatap Aress sejenak.
Lingkar pertemanan mereka memang sangat komplit. Matt adalah ketua OSIS SMA 1 Bintang Nusantara. Sementara Aress sendiri adalah ketua ekskul Pramuka, salah satu ekskul paling favorite di sekolah mereka. Dan Ben adalah seorang ketua ekskul basket.
Hanya Astrid yang tidak pernah mengambil ekskul manapun, namun tercatat sebagai anak OSIS.
“Rencana apaan, Ress?”
“Jadi, gue sama anak-anak pramuka tuh ada ide buat adain acara camp di sekolah. Sebenarnya ada dua rekomendasi sih, pertama di sekolah sama satu lagi di Villanya pak TB. Dekat sama danau kok, tempatnya kan adem gitu. Asik sih disana, kebetulan gue ada kenalan yang kerja di sana!”
“Villa berhantu itu?” Astrid membuka matanya dan menatap Aress dengan tatapan bertanya.
Ben speechless. Benar-benar tidak tahu kenapa Astrid selalu saja membahas hantu, gak sekalian aja sama iblis gitu? Biar komplit gitu kan.
“Gue gak mau bahas iblis, Ben. Soalnya mereka itu…beda level sama hantu. Mereka itu lebih…amazing!”
Ben terdiam—kikuk.
Darimana Astrid tahu jika dia tengah memikirkan iblis coba? Apa sekarang Astrid lagi-lagi bisa baca pikiran? Siapa tahu Astrid terkena syndrome baca pikiran gitu. Kan gak lucu pas Ben lagi mikir ena-ena, Astrid tiba-tiba nongol.
“Gue gak bisa baca pikiran kok, cuman dari wajah buluk lo udah kelihatan lo lagi mikir apa!”
“Buluk? Maksud lo apa sih, Trid. Please deh, kalo lo ada dendam kesumat sama gue, bilang Trid…bilang. Jangan buat gue bingung dan harus mikir sendiri apa kesalahan gue sama lo!”
“Lo gak ada salah apa-apa sih!”
Lagi-lagi Ben speechles. Aress ngakak lebar, benar-benar terhibur dengan percakapan garing Astrid dan Ben.
“Jadi, lo kenapa mendzolimi gue terus?”
“Lo aja yang sensitif, kek cewek. Lagian, wajah lo itu buat udara sesak tau gak? Lo itu harusnya mati aja, Ben!”
Aress tambah ngakak. Dia bahkan memegangi perutnya yang sakit karena tertawa sejak tadi.
Namun tidak dengan Matt, dia menatap wajah pias Ben sejenak. Dan menegur Astrid agar diam.
“Tapi, kalo di pikir-pikir, keknya di sekolah aja deh, Ress. Soalnya, kalo di buat di villa, kita masih mikirin biayanya. Mana uang osis juga belum semua ke kumpul. Jadi dananya masih gak bisa, tapi ntar gue tanya sama, Grace dulu.”
Ares hanya manggut-manggut dan kembali menatap langit yang dipenuhi dengan ledakan-ledakan warna warni. Sedikit menghibur kesendiriannya. Berkumpul bersama dengan Astrid CS memang selalu membuat Aress merasa punya keluarga utuh.
Sekalipun sikap Astrid terkadang absurd, Ben terkadang suka melankolis, dan Matt yang selalu dewasa. Semuanya menjadi satu, bercampur dan saling melengkapi. Jadi…Aress bisa menghilangkan rasa penat yang selalu dia dapatkan jika kembali ke rumah.
“Sekalian ajak Grace aja, Matt. Itu ide yang bagus keknya!”
Astrid kembali buka suara.
“Lo ikut gak?” tanya Matt.
“Lo ikut gak?”
“Gue nanya duluan lo, Trid. Jawab dulu kek!”
Astrid kembali membuka sebagian matanya malas. Dan menatap Matt yang klise. Kenapa harus bertanya di saat dia sudah tahu jawabannya coba?
“Oke…oke, gue gak tahu mesti ikut atau enggak. Masalahnya, jadwal buat semester baru ini tuh sibuk banget!”
“Lo ikut olim ya, sama Christoper juga kan?”
Mendengar jawaban Ben, tiba-tiba Astrid bangkit dari atas paha Matt, menatap lelaki itu dengan tatapan bertanya.
“Lo ikut, Matt?”
Helaan nafas terdengar dari Matt. Dia akhirnya mengangguk, daripada Astrid ntar ngambek. Urusannya makin ribet.
Astrid mengangguk. Dia memang tahu jika seorang Matthew itu adalah orang yang pintar, dan sangat unggul. Sayangnya, hanya karena berteman dengannya, membuat citra itu sedikit buruk.
“Lo…lo gak marah kan, Trid?” cicit Matt.
“Gak lah, ngapain marah. Gue bangga punya teman kayak lo, dan lo juga memang pantas kok. Gue aja yang cuman sampah doang!”
“Loh, kok sampah Trid? Bukannya lo itu…coklat ya?”
Astrid menyipitkan matanya, dan memandang Ben hina.
“Ga Usah ikut campur masalah gue, lebih baik lo urus aja tuh hantu-hantu yang makin banyak nempelin lo!”
“Trid, bisa gak sih lo agak serius dikit? Ini lagi tahun baruan loh, Trid, seenggaknya lo bertobat sikit kek!”
Mungkin Ben tidak percaya dengan apa yang Astrid katakan. Sedikit menggeser kepalanya, Astrid memandang sosok di belakang Ben. Tubuhnya bolong di tengah, mirip leak Bali, sayangnya ini masih sedikit utuh. Juga masih punya badan. Rambutnya panjang, matanya hampir keluar dari tubuhnya. Entah apa yang terjadi padanya, tapi hantu itu benar-benar terlihat bersiap menghisap kehidupan Ben.
Juga dengan anak kecil dengan tampilan mengerikan. Matanya sama-sekali tidak terlihat, di sebelah tangannya ada pisau setajam silet. Rambutnya orange, dan ada luka-luka di wajahnya. Mirip boneka anabel.
Dan yang anehnya, kenapa mereka berdua mengikuti Ben? Apalagi Ben kini tengah berada di rumahnya, itu membuat udara terasa sempit.
Astrid malas dan tidak suka berbagi udara yang sama dengan makhluk yang tidak satu spesies dengannya.
“Trid, lo liatin apa sih? Lo buat gue merinding lagi nih!”
Tidak ada tanggapan. Astrid kembali membaringkan kepalanya, dan Matt langsung mengelusnya dengan otomatis. Membuat seketika Astrid merasa mengantuk. Namun karena suara kembang api yang masih terus-menerus terdengar, membuat Astrid kesal.
“Jadi gimana, Matt? Lo mesti ikut dong, gak seru kalo lo gada!”
“Gue ikut kalo Astrid milih ikut aja!” putus Matt.
“Yeee…terus aja gitu, ntar Astrid mau berak, lo ikutan berak juga!”
“Ya ga masalah juga sih!”
Aress tak lagi menanggapi ucapan Matt yang semakin lama semakin tidak jelas kemana arahnya. Dibilang mau nge ship mereka, rasanya juga kurang klop gitu. Matt itu seperti pengawalnya Astrid, atau bisa juga dibilang pesuruhnya Astrid.
Apa yang Astrid mau, pasti Matt nurutin.
Jika Astrid bilang A, pasti Matt juga bilang A.
Tapi tidak berlaku untuk semua bidang. Jika sedang ujian, Astrid hanya diam saja dan menunggu kertasnya terisi oleh Matt. Dan seisi kelas tahu akan hal itu. Namun semua membiarkannya, karena satu kelas mereka juga tidak ingin citra kelas mereka semakin buruk karena ada satu manusia yang tinggal kelas.
“Gue ikut!”
Menatap Astrid yang masih memejamkan matanya. Matt mengerutkan keningnya, sedikit tidak percaya jika seorang Astrid ingin mengikuti acara begituan.
“Lo yakin, Trid? Kalo lo gak ikut, gue gapapa kok gak ikut juga. Lagian gue bisa belajar sama lo kalo misalnya gak ikut gitu. Gak usah maksain diri!”
“Gue emang mau ikut, Matt. Pengen tau rasanya gimana ikut camp, sama mau ketemu hantu-hantu sekolah gitu.”
“Bisa gak sih lo lebih serius dikit, Trid? Dari tadi perasaan lo cuman bahas hantu aja, muak gue dengernya!” Ben Protes.
“Ya gosah dengar, kan simpel!” kekeh Aress. Membantu Astrid kali ini.
“Lo kok jadi ikut-ikutan Astrid sih, Ress? Nyesek tau gak?”
Aress hanya bisa tertawa lagi. Mereka menghabiskan malam pergantian tahun dengan membahas berbagai macam hal. Sesekali juga menyinggung soal hubungan Astrid dan juga Matt, yang sayangnya tidak memberikan pencerahan pada Aress dan juga Ben.
“Udah ya, Astrid udah tidur. Gue mau bawa ke kamar dia!”
“Kan!”