25 ~ 'Kami Datang'

2101 Kata
Matthew dan yang lainnya tiba di ujung anak tangga dengan selamat. Setidaknya tidak ada halangan selama mereka di perjalanan menuju ujung tangga.  “Trid, lo ngerasa sesuatu gak?” “Ada. Gue ngerasa arwahnya ada di sini!” “Gue juga ngerasa!” seru Aress yang baru saja tiba.  Ruangan tempat mereka berada saat ini memang terasa jauh lebih dingin daripada sebelumnya. Ketara sekali perbedaaan aura yang ada. Dan itu bukan suatu hal yang baik. Astrid menelan ludah kasar, mengeratkan pelukannya pada Matthew.  “Gak usah takut, Trid. Gue ada buat lo!” “Turunin gue, Matt.” “Lo yakin?” Astrid mengangguk, dan lekas turun dari gendongan Matthew. Netra gadis itu memperhatikan apa yang kini terjadi di depannya. Berjaga-jaga jika ada sesuatu yang nanti tiba-tiba menyerang mereka. Tatapan Astrid memindai apa yang ada di depannya.  “Kita kemana, Trid?” “Gue masih gak tau, tapi mungkin kita mesti nemuin puzzle yang ketiga biar bisa cepat dapat klue lagi. Christ, apa lo masih ingat tanda di tembok tadi?” Anggukan Christopher membuat Astrid jauh merasa lebih legah. Dia memperhatikan sekitar, dan  tatapan tertuju pada tembok yang menjadi penghalang, tepat berada di depannya. Tatapan Astrid hanya tertuju pada tembok itu.  “Christ, lo tulis ulang simbol yang tadi di tembok itu!” “Tapi Trid, kenapa lo yakin banget gue mesti nulis ulang simbolnya?” “Buat aja, biar kita tahu apa yang bakal terjadi!” “Lo kok buat gue jadi parnoan, Trid.” “Udah Christ, buat aja napa sih? Lo kok sedikit membagongkan?” Christ mengambil langkah maju saat Matthew sudah berbicara dengan nada datar, tanpa ekspresi. Lelaki itu menuliskan kembali simbol yang tadi ada di bawah dengan cairan aneh yang ada di ujung tembok. Kaki Christ bergetar hebat saat menuliskan lambang-lambang itu. Perasaannya menjadi sedikit tidak enak, dan selama dia menuliskannya, rasanya ada orang lain yang mengawasi mereka.  “Sudah! Sekarang gue mesti apa?” “Ya menyingkir dari sana lah, bego!” bisik Astrid pelan.  Dengusan nafas Christopher terdengar, lelaki itu lekas mundur dan kembali berdiri di sebelah Aress yang tidak jauh darinya. Christ sadar, jika Aress memang sangat melindungi mereka semua.  Astrid dan Matthew maju, mereka berdua terlihat sedang memperhatikan simbol itu lama. Hanya memperhatikan, tidak ada percakapan yang terdengar sama-sekali.  Membuat Lia, yang merasa lemas sedikit ragu. Tangannya yang menghitam sudah sampai di sekitar persendiannya. Keringat dingin membanjiri kening Lia.  “Are you okay, Lia? Wajah lo pucet banget!”  Tatapan Lia tertuju pada Aress. Dia hanya bisa menggeleng, berusaha untuk terlihat baik-baik saja, terlihat munafik. Namun Lia yang memutuskan hal itu, dia tidak ingin menjadi beban yang terus menerus merepotkan. Setidaknya, dia harus bisa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada tubuhnya.  “Kaki ama tangan lo makin item, apa lo masih bisa bertahan, Lia?” “Gue baik-baik aja kok, dan masih bisa bertahan juga. Anyway, mereka berdua kenapa? Kok dari tadi diem aja, apa jangan-jangan mereka lagi telepati lagi?” “g****k!” kekeh Christoper, ikutan menatap ke arah Astrid dan juga Matthew, “atau, apa mungkin mereka lagi nahan lapar kali ya?” “Jangan berisik, mereka lagi nerjemahin simbol-simbolnya. Lo harus lihat dari tangan Astrid ada keluar cahaya, itu artinya dia lagi butuh konsentrasi tingkat tinggi. Yang jomblo dilarang mengganggu!” Lia tersenyum berkat ucapan receh Aress. Dia benar-benar merasa selalu jauh lebih baik ketika Aress sudah berbicara santai, sekalipun terdengar melantur sesekali.  Mereka bertiga kembali menatap ke depan, dimana Astrid yang kini mengambil sesuatu dari tasnya. Gadis itu terlihat tengah berbisik di daun telinga Matthew, membuat lelaki itu mengangguk.  Lia, Aress, dan juga Christ terkejut saat benda yang tadi Astrid ambil dari tasnya adalah…pisau? Lia hendak berteriak saat Matthew menyayat tangannya, membuat darah itu merembes keluar dari sana. Namun, darah itu tidak sempat untuk menyentuh permukaan lantai.  Astrid mengambil tangan Matthew, dan menampung darahnya. Hal yang sama juga Astrid lakukan, membuat darah mereka tercampur dalam wadah kecil.  Tangan Astrid terlihat lihai untuk menulis di tembok itu. Sebuah kalimat yang membuat bulu kuduk Lia, dan Christopher berdiri.  Kalimat yang sederhana, namun jika dalam keadaan seperti itu, kalimat itu benar-benar terasa mematikan. Dan mereka sadar, jika sesuatu yang besar kemungkinan akan terjadi.  ‘Kami Datang.’  Itu adalah tulisan yang Astrid ukir di tembok itu.  Astrid, juga Matthew melangkah mundur usai menuliskan dua kata itu. Berselang sekitar 1 menit lebih sedikit, tembok itu bergetar, dan membentuk sebuah pintu. Astrid terlihat kembali maju, dan menyentuh tembok itu.  Tangannya diliputi oleh cahaya putih, membuat Lia, dan juga Christopher lagi-lagi berpikir keras, kenapa Astrid bisa mengeluarkan cahaya. Juga, kenapa saat gadis itu menyentuh mereka, rasa sakit yang kian menyerang mereka, sirnah begitu saja.  “Ress…apa lo tau ini?” Namun, sama halnya dengan Aress. Dia tidak tahu sejauh ini, Aress hanya tahu jika Astrid terlahir istimewa. Gadis itu bisa merasakan aura kehidupan dari seorang manusia. Aura manusia bermacam-macam, bahkan memiliki warna.  Jika manusia memiliki dendam yang sangat tidak memungkinankan untuk dilepas, maka aura itu akan berwarna merah menyala. Sementara jika manusia hidup dengan kesenangan, tanpa ada hal yang perlu dikhawatirkan, maka manusia akan memiliki aura berwarna putih.  Sebaliknya, jika manusia tidak memiliki pengharapan dalam kehidupannya, maka aura yang ditunjukkan adalah hitam, atau parahnya, mereka tidak punya warna.  Selain itu, yang Aress tahu, Astrid memiliki pendengaran yang lain. Itu sebabnya Astrid tidak pernah mau berteman dengan orang yang tidak tulus. Gadis itu bisa mendengar apa yang tengah dipikirkan oleh seseorang.  Terlahir seperti itu, mungkin terlihat menyenangkan.  Namun yang Aress tahu, Astrid menderita karena hal itu. Gadis itu terlihat baik-baik saja dengan kata-kata receh yang selalu digunakan dalam sebuah percakapan.  Hingga, tak satupun yang sadar jika kata-kata Astrid itu adalah bentuk bagaimana gadis itu bertahan dari pengkhianatan yang dilakukan sebagian besar manusia.  Karena pada dasarnya, tidak seorangpun dari manusia yang tulus berteman dengan Astrid, kecuali Matthew.  Hanya lelaki itu yang dengan tulus menerima Astrid dengan segala kekurangan, dan kelebihannya.  Tatapan Aress tertuju pada Lia, dan juga Christopher. Aress tidak tahu, apakah kedua temannya saat ini benar-benar tulus untuk bekerja sama dengan Astrid, atau tidak.  Yang pasti, Astrid sudah lebih dulu mengetahuinya.  “Itu bukan sesuatu hal yang penting buat kalian berdua ketahui saat ini. Yang terpenting, Astrid masih mau untuk berkorban buat kita. Setidaknya, lo berdua harus ngehargain dia!” Pintu itu bergeser. Astrid hampir saja terjatuh usai menyelesaikan tulisan yang sama pada tembok yang terakhir. Beruntung, Matthew selalu ada di samping Astrid, bersiap untuk kemungkinan yang terjadi.  Astrid merasakan tubuhnya yang jauh lebih lemas daripada sebelumnya. Menggunakan kemampuan istimewa yang ada di dalam tubuhnya, akan menghabiskan energi yang Astrid punya. Tatapan Astrid tertuju pada Matthew yang memeluknya erat dengan wajah khawatir.  “Matt…” Wajah Matthew semakin khawatir. Dia memperbaiki posisi Astrid di pangkuannya. “Hmm?” “Gue…lapar!” Bibir Matthew tidak bisa menahan lengkungan yang terbentuk di sana. Matthew menghela nafas, mengambil bajunya, dan mengeringkan keringat Astrid.  “Gue bakal masakin lo yang banyak, dan enak, kalo kita udah keluar dari sini. Trid, maaf, gara-gara gue, lo jadi sakit lagi!” “Lo janji bakal masakin yang enak kan, Matt?” “Hmm. Yang penting, lo harus ada tetap di samping gue, jangan tinggalin gue…Trid!” Anggukan Astrid mengakhiri percakapan mereka. Aress melangkah maju, dan membantu Matthew untuk menggendong Astrid.  “Apa lo baik-baik aja, Trid?” Mata satu Astrid menatap Aress. Pertanyaan yang benar-benar menyebalkan. Sudah melihat keadaan Astrid gak baik-baik aja, masih aja di tanya. Klise sekali, membuat Astrid benar-benar ingin menarik kedua bola mata Aress dan menunjukkannya bulat-bulat.  “Kalo lo keluar hidup-hidup, perbanyak makan wortel ya, Ress. Soalnya kan mata lo buta, gak bisa ngeliat dengan jelas!” Aress hanya bisa menyunggingkan senyumnya. Dia legah saat mendengar ucapan Astrid yang seperti itu. Hal itu sudah cukup membuat Aress tahu bagaimana keadaan Astrid.  “Ayo, jangan ada yang ketinggalan di belakang!” Matthew melangkah di depan, membawa Astrid bersamanya.  Lorong yang mereka masuki kali ini memiliki nuansa yang sedikit biru, dan sedikit dimasuki oleh cahaya. Membuat Matthew tidak terlalu kesulitan untuk menatap kedepan.  Sayangnya, jarak pandang mereka hanya mencapai 5 meter kedepan. Setelah itu, gelap akan menenggelamkan penglihatan mereka.  Astrid menguap lebar, gadis itu memperbaiki posisi kepalanya di bahu Matthew, bersiap untuk menuju ke alam mimpinya sebentar.  “Kalo mau tidur, tidur aja ya, Trid. Ntar kalo ada apa-apa, gue bangunin lo!” “Ya!” Dan sekejab, Astrid sudah memasuki alam mimpinya. Nafas Astrid yang mulai teratur membuat Matthew tahu jika gadis itu sudah tertidur di gendongannya.  Mereka terus melangkah memasuki lorong yang semakin terasa dingin. Kali ini tidak ada lumut-lumut yang menumbuhi masing-masing dari sudut tembok. Bahkan bisa dikatakan, jika temboknya terlihat sangat bersih saat sebagian terpapar oleh cahaya.  “Matt…gue mau nanya!” Selagi fokus dengan jalan mereka, Matthew melirik sebentar ke arah Aress.  “Kenapa, tubuh gue jauh lebih rileks, waktu Astrid menggenggam tangan gue waktu iblis itu lewat?” Ah…Matthew ingat saat itu. Ia juga sebenarnya terkejut saat Astrid memilih untuk menyamarkan aura Aress, Lia, dan juga Christoper untuk menghindari keberadaan mereka dari iblis itu.  Satu hal yang tidak pernah Astrid lakukan, kecuali untuknya.  Hal itu, benar-benar jauh dari perkiraan Matthew.  “Dia sengaja nyamarin aura kalian, biar iblis itu gak bisa ngerasa. Jika dia ngelakuin hal itu…” Matthew memperbaiki tubuh Astrid yang sedikit melorot dari pangkuannya, “kalian bakal merasa seperti itu, namun Astrid akan sangat lemas. Tubuhnya kehilangan energi kehidupan yang dia miliki untuk beberapa saat.”  Lia dan Christoper yang hanya menjadi pendengar setia mengangguk, sekalipun tidak terlalu paham, dan tidak terlalu percaya dengan apa yang tadi Matthew katakan sebelumnya.  “Tapi…kenapa dia gak pegang lo juga? Bukannya aura lo juga bisa dideteksi sama mereka ya, Matt?” Matthew hanya menatap Aress, sama-sekali tidak berniat untuk menjawab. Ada hal yang harus diberitahu, dan ada hal yang tidak perlu untuk diberitahu. Salah satunya adalah hal barusan.  Bukannya Matthew tidak ingin memberikan jawaban, tapi dia hanya merasa jika itu bukan suatu hal yang penting untuk saat ini.  “Btw, tangan lo udah nutup, Ress. Kok bisa?” Lia bertanya dengan wajah terkejut.  Gadis itu memang berdiri di sebelah Aress, dan tadi tidak sengaja memalingkan perhatiannya, membuatnya menatap tangan Aress yang ditebas oleh iblis itu. Pertama kali melihat, Lia masih ingat jika luka itu berdarah, dan daging-daging Aress terlihat dengan sangat jelas.  Seperti sayap ayam yang baru dipotong.  Namun, saat ini, daging-daging itu sudah menutup. Seolah luka itu sudah lama, dan sudah di amputasi.  Aress ikutan menatap tangannya, dia juga cukup terkejut saat melihat dagingnya tidak lagi kelihatan, sudah di gantikan dengan kulit yang menutupinya. Bahkan, seseorang yang sudah menjalani perawatan di rumah sakit selama berbulan-bulan, belum tentu berhasil melakukan hal itu.  “Itu…salah satu alasan kenapa tubuh Astrid sangat melemah. Lo gak hanya mengambil energi kehidupannya, tapi juga dengan salah satu keistimewaan yang ada padanya. Ya sekalipun gak semua, tapi itu cukup penting buat Astrid!” Kali ini Aress hanya bisa terdiam. Dia memperhatikan wajah Astrid yang sudah tertidur sangat pulas. Seolah keadaan mereka saat ini hanyalah satu hal yang biasa baginya.  Lorong panjang itu seolah tidak ada akhirnya, dan auranya semakin dingin. Sejauh ini, pencarian mereka masih tidak memberikan hasil apa-apa.  Langkah Matthew berhenti saat mereka tiba di perempatan lorong. Percabangan pertama yang mereka temui setelah berjalan dalam satu lorong selama berjam-jam tanpa henti. Raut wajah lelah terlihat di wajah semuanya, kecuali Matthew yang memang tidak pernah menunjukkan ekspresinya kecuali wajah datar.  “Kita harus memilih lorong yang mana? Berpencar jelas bukan pilihan yang tepat buat saat ini!” Aress menatap masing-masing lorong, “apa kita nunggu Astrid bangun dulu?” Hal itu juga bukan hal yang 100% tepat. Astrid masih tidak bangun, dan jika memilih untuk membangunkannya di saat ini, Matthew sedikit kurang yakin.  Gadis itu bisa marah besar.  Matthew memperhatikan wajah Christopher, dan juga Lia. Kedua terlihat yang paling kelelahan, dan sekalipun mereka tidak mengatakannya demi kebaikan bersama, Matthew sadar jika dia memaksakan sekalipun, mereka tidak akan bisa bertahan lebih lama.  “Kita istirahat bentar!” “Lo yakin?” “Hmm!” Matthew lebih dulu menurunkan Astrid, dan memperbaiki posisi gadis itu setelah dia ikutan duduk. Lia lekas ikut duduk dan meluruskan kakinya yang sejak tadi memang terasa sangat nyeri.  Aress dan Christ saling menatap satu sama lain. Aress memutuskan untuk berjaga lebih dulu, dia hanya bisa membiarkan teman-temannya istirahat lebih dulu.  “Kita mau makan apa? Gue udah gak kuat, rasanya benar-benar lemas banget, Matt!” ujar Lia, untuk pertama kali menyinggung jika mereka tidak pernah makan sejak menginjakkan kaki di dalam gedung yang dipenuhi dengan mistis itu.  Dan pertanyaan itu, adalah hal tidak bisa Matthew jawab juga. Dia juga lapar, lemas, dan bahkan hampir terjatuh saat menggendong Astrid.  “Lo makan tanah aja, mau gak?” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN