23 ~ Simbol Di tembok

2100 Kata
Mereka berhenti setelah merasa tidak ada lagi yang mengikuti mereka. Christopher, dan juga Lia menurunkan tubuh Aress di lantai yang lebih kering. Begitu juga dengan Astrid yang sudah diturunkan dari gendongan Matthew. “Ress, Ben dimana?” bisik Astrid pelan. Astrid merasa sudah jauh lebih baik setelah digendong Matthew. Tapi tubuhnya masih tetap terasa lemas, dan tidak sepenuhnya fit. Wajah Aress kembali murung, sama-sekali tidak mampu untuk mengatakan yang sebenarnya. Bahkan, tidak tahu harus berkata apa. Ben dimakan tepat di depannya. Matthew yang tetap berdiri dan mengawasi sekitar menatap Aress yang terlihat tidak ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan wajah itu, cukup untuk untuk menunjukkan bahwa keadaan Ben tidak baik-baik saja.  Bahkan Matthew saat ini takut, jika terjadi sesuatu yang lebih buruk pada Ben. “Ress…jawab, Ben dimana?” Masih tidak ada jawaban. Aress mengepalkan tangannya erat, menahan air mata yang ingin mengalir. Aress benar-benar merasa jika dia adalah makhluk paling tidak berguna yang pernah ada. Sama seperti apa yang Astrid katakan padanya dulu. “Ress…” Nafas Astrid mulai tenang. Tidak seberat tadi. Wajah Astrid datar, menatap lurus pada Aress yang bahkan tidak mau mengalihkan perhatiannya dari lantai di bawahnya. Membuat Astrid ikut menoleh ke lantai, menimbang apa yang membuat lantai itu  lebih menarik daripada dia. “Setidaknya, lo harus speak-up biar kita tahu apa yang lo pikirin, Ress. Kita bukan cenayang yang tahu apa yang lo pikirin!” Christopher ikut buka suara. “Ben…dia…” Mata Aress kembali berkaca-kaca. Rasa sakit yang menyerang hatinya jauh lebih sakit daripada keadaannya saat ini. Bahkan, Aress serasa mati rasa saat ini. Dia benar-benar buntu. “Benedict dimakan sama iblis itu. Dua bocah kecil yang tadi kalian lihat, mereka yang memakan Ben. Dan  tangan gue, ditebas sebelah. Gue bodoh, harusnya gue jauh lebih kuat, gak kayak gini!” air mata Aress sudah berjatuhan. Membasahi wajahnya. Suasana menjadi hening. Baik Astrid yang biasanya akan berbicara receh, kali ini benar-benar tidak lagi bisa berkata apa-apa. Dia kehilangan rasa humornya saat mendengar kalimat yang terucap dari Ben barusan. Tubuh Aress semakin bergetar, dia menangis dan sesekali memukul dadanya. Aress merutuki dirinya, kenapa dia harus kehilangan temannya di hadapannya sendiri? Keadaan Lia juga sama, dia tidak bisa membendung air matanya. Rasanya sakit saat mengetahui hal itu. Lia tidak pernah siap dengan semua hal yang berbaur seperti ini. Sekalipun mereka baru akrab karena insiden ini, tapi setidaknya Lia tidak pernah menginginkan ada yang pergi dari tim mereka. “Kenapa gak lo aja yang dimakan, Ress? Bukannya yang harusnya jadi tumbal pertama itu…lo?” Nada bicara Astrid kian merendah, tanpa ekspresi dan tanpa ada perasaan sama-sekali. Astrid memandangi lorong yang ada di depan mereka. Lorong yang terus gelap, dan tidak terlihat apa-apa. Sama seperti pikiran Astrid saat ini. Dia…tidak bisa memikirkan apa-apa, kecuali Ben. “Gue…gue minta maaf, Trid. Harusnya memang gue yang jadi tumbal pertama, tapi mereka misahin kami berdua. Lana bilang…” “Lana?” alis Astrid naik, perasaan mereka tidak mengenal murid bernama Lana. “Dia iblis yang memakan Benedict, dia bersama dengan Lucy, iblis yang memenggal tanganku.” “Jadi, dia mengatakan apa?” “Lana bilang, kalau aroma kehidupan Ben hampa. Dia tertarik pada hal semacam itu, dan mereka memutuskan untuk memakan Ben lebih dulu!” Pikiran Astrid yang kosong kini dipenuhi dengan amarah yang membakar setiap jengkal darinya. Dia benar-benar sangat marah, hingga Astrid tidak sadar jika dirinya yang marah bukanlah sesuatu yang baik. “Trid, jangan marah. Aura lo terasa banget!” nasehat Matthew, “jangan mancing mereka dulu untuk saat ini!” Helaan nafas Astrid terdengar. Dia menyandarkan badannya di tembok, dan memejamkan matanya sebentar. Astrid butuh waktu untuk menerima keadaan saat ini. Christopher dan Matthew saling menatap sejenak. Christ lekas berdiri, dan berjaga di sekitar. Matthew lekas duduk di sebelah Astrid, membawa gadis itu ke dekapannya, dan memberinya ketenangan. Tidak ada ekspresi yang Matthew berikan, sekalipun dia tahu jika ini memang akan terjadi. Dia sadar, tanpa dia dan Astrid, tidak seorang dari mereka yang bisa keluar. Dan jika harus menyelamatkan mereka semua, Matthew harus mengorbankan dirinya, dan juga Astrid. Hal itu terdengar lebih manusiawi, karena mereka berkorban demi keselamatan teman-temannya. Namun, Matthew tidak pernah ingin kehilangan Astrid. Dia akan mengorbankan apapun demi keselamatan gadis itu. Apapun…termasuk nyawa teman-temannya. Tubuh Astrid sedikit bergetar, membuat Matthew memperbaiki posisi gadis itu, dan mengelus rambutnya. Sesekali Matthew juga memperhatikan Aress yang tetap menunduk, dan syukurnya, dia sudah berhenti menangis. “Lo gak bersihin darah di tangan lo, Ress?” Aress hanya menggeleng. Dia tidak lagi peduli dengan dirinya. Dia hanya bisa mengutuk dirinya sendiri. Karena hal yang paling Aress benci adalah kehilangan teman-temannya. Dan senyuman Ben di akhir sebelum tubuhnya meledak benar-benar merusak Aress. Dia tidak akan bisa hidup lagi dengan baik. Kehidupan pribadi Aress tidak pernah baik-baik saja. “Lo hidup karena Sang Pencipta masih memberikan suatu kesempatan sama lo, Ress!” Itu adalah kata-kata Ben yang selalu Aress ingat. Di balik sikap konyol Ben, lelaki itu masih bisa untuk memberinya ucapan penyemangat. Christopher menatap lorong demi lorong yang cukup sunyi. Saat ini otaknya tengah berpikir keras dengan apa yang baru saja mereka alami. Bunyi piano yang kedua memiliki artian yang sangat sedih. Lalu bunyi piano yang terakhir mereka dengar adalah semangat api yang membara, namun dalam tempo yang singkat. Di era musisi-musisi terkenal abad 50-an dulu, musik yang terakhir mereka terdengar biasanya digunakan saat acara pemenggalan kepala, bagi orang-orang yang dianggap bersalah. Dan itu biasanya digunakan di era-era kerajaan untuk memberikan hukuman bagi bangsawan, ataupun bagi warganya. Tapi pertanyaannya, kenapa bunyi piano itu yang terdengar, dan bertepatan dengan kematian Ben? Christopher memperhitungkan jarak waktu saat mereka mendengar musik itu. Jaraknya sekitar 15 menit, berselang setelah mereka menemukan Aress. Jadi bisa dikatakan, music itu selesai, baru Ben dimakan oleh iblis itu. Christopher masih tidak memahami banyak hal mengenai hal ini. Dan jelas tidak memiliki opini yang dalam mengenai hal yang tengah ia pikirkan. Bahkan sosok yang mati itu, bukan korban yang terjadi 7 tahun lalu. Jika hantu itu bisa melakukan permainan musik kuno yang ada pada zaman romawi kuno itu, mustahil  jika hantu itu sudah mati 7 tahun lalu. Christopher yakin, jika ada sesuatu yang janggal. Dia merasa jika hantu itu, adalah hantu ratusan tahun yang lalu. “Apa yang tengah kau pikirkan, Christ?” Suara dari seberangnya membuat Chris menolah, dan kembali fokus. Dia menatap Matthew yang sudah kembali berdiri dan mengawasi sekitar. Sejujurnya, ada satu hal yang juga menjadi perasaan janggal bagi Christopher. Saat Aress mengatakan jika Benedict sudah dimakan oleh iblis itu, raut wajah Matthew baik-baik saja. Bahkan bisa dikatakan, saat Astrid melemas, Matthew bahkan sangat panik. Wajahnya bersiap untuk membunuh siapapun yang membuat gadis itu melemah. Sangat berbeda dengan ekspresinya barusan. Padahal, jika Matthew normal, harusnya ekspresi yang dia tunjukkan harus melebihi dari ekspresinya saat Astrid lemas. “Matt…makin ke sini, gue maskin merasa janggal banget!” Alis Matthew saling bertaut. Dia memperhatikan Christoper yang memperhatikannya detail. “Bukan cuman lo aja yang merasa janggal, Christ. Tapi kita semua juga merasa janggal. Tidak ada yang perlu dipikirkan, kita harus fokus untuk menyelamatkan diri sendiri, dan memecahkan sebenarnya apa yang dimaksud dari bunyi piano ketiga dan kedua. Bahkan kita kehilangan puzzle yang ada pada Grace!” Christ menggeleng. “Kita tidak kehilangan puzzle kedua. Karena puzzle kedua ada sama gue!” Christ lekas memasukkan tangannya kedalam saku jaket, dan mengambil benda yang ada di sana. “Benda ini ada sama lo?” Christ mengangguk. “Kenapa lo gak bilang dari awal kalo lo punya Puzzle kedua?” “Bukankah itu tidak terlalu penting, Matt? Harusnya kita lebih fokus pada tim kita saat ini. Sekarang Ben sudah tidak ada, apa yang harus kita lakukan? Bahkan Grace juga masih tidak bisa kita temukan. Gue bahkan khawatir jika Grace bernasib sama seperti Ben. Sebenarnya, lo tahu sesuatu kan, Matt?” Suasana di antara mereka berdua sedikit menegang. Matthew mengambil puzzle dari tangan Christophe dengan cepat, dan memasukkannya pada kantong jaketnya. “Kalo gue tahu sesuatu, dari awal mungkin kita gak perlu ada di sini. Lagipula lo udah dengar pembicaraan gue sama Astrid, harusnya lo gak bertanya lagi!” “Bukan…maksud gue, lo pasti tahu sesuatu yang lain, benar begitu, Matt!” “Bulshit banget lo, Chirst. Kita gak punya banyak waktu sekarang, lo harus bisa mecahin apa arti dari bunyi piano itu, dan juga dengan puzzle ini. Waktu kita gak banyak. Satu-satunya jalan untuk mengembalikan mereka semua adalah dengan menyelesaikan misi ini. Tanpa itu, maka kita semua bakal mati di gedung ini!” Christ menghela nafas. Dia tahu jika sekalipun Matthew tahu sesuatu yang lain, mustahil baginya untuk mendapatkan informasi dengan cuma-cuman. “Gue ada merasa janggal.” “Maksud lo?” “Maksud gue, gue pikir kalo pembunuhan itu gak terjadi 7 tahun lalu. Lo pasti mikir, kalo bunyi ketiga itu tidak berselang terlalu jauh waktu kita kehilangan Benedict, bukan begitu?” Aress menaikkan kepalanya. “Bunyi itu terdengar sebelum mereka muncul.” “Gue pikir juga gitu!” bisik Christopher, “dan dari sejarang musik yang pernah gue baca dan dengar informasinya. Musik itu biasanya dipakai pada acara pemancungan atau pemenggalan di zaman romawi kuno gitu. Yang gue haranin, kenapa hantu itu tahu music jaman-jaman itu? Apa mungkin…” “Dia tidak terbunuh 7 tahun lalu?” seru Matthew yang mulai paham kemana arah pembicaraan Christopher. “Nice, gue juga merasa begitu. Tapi, apa yang iblis itu inginkan dari hantu yang sudah mati beratus tahun lalu?” Matthew mengerutkan keningnya. Dia juga tidak tahu kenapa iblis itu menginginkan hal itu. “Gue pikir tebakan itu terlalu jauh, Christ. Bisa saja dia itu memang sengaja memainkan music-music pada jaman dulu atau apapun itu, gue gak paham. Otak gue satu sendok doang soalnya. Jadi…maksud gue, kita gak bisa nyangkutin hal itu. Kita harus fokus dengan informasi yang kita dapat, kalo di sekolah ini dulu pernah ada pembunuhan, dan itu sekitar 7 tahun lalu. Ben juga pernah cerita sama kita soal pembunuhan itu!” Christopher mengangguk. “Gue pikir, imajinasi gue aja yang terlalu kejauhan. Jadi sekarang apa?” “Lo harus nebak dulu, seperti apa cara dia mati. Gue pikir, itu hantu mati dengan cara yang sangat keji, dan sampai saat ini, otak gue masih tetap buntu dan gak paham kenapa dia harus mainin piano. Itu benar-benar tidak adil!” Aress menghela nafas, “dia mungkin sengaja buat semuanya jadi rumit!” “Namanya juga iblis, kalo gak rumit, mereka mana seneng!” Semua perhatian tertuju pada Astrid yang sudah kembali dari tidurnya. Dia berdiri dan memperbaiki posisi celananya yang melorot sikit. Ntar kolornya keliatan lagi, kan Astrid mesti malu. Kalo dia gak malu, ntar Matthew gak malu. “Trid, serius dikit dong, kita gak ada istilah main-main lagi. Lo juga harus sadar kalo Ben pergi karena lo juga!” seru Aress, dia menatap Astrid dengan datar. “Ya. Gue sadar kok, gak usah dibilangin juga gue sadar. Tapi…bahasa lo tolong dikondisikan ya, yang harusnya jadi tumbal itu lo, bukan Ben!” “Trid, lo senang kalo gue yang jadi di posisi Ben?” Astrid menaikkan bahunya. Dia berjalan ke arah Matthew, dan memasuki gendongan lelaki itu. “Ress, tolong jangan buat kesalahan yang sama dengan yang Astrid buat. Dia tahu kalo dia salah, gak lo bilang juga Astrid tahu. Tapi tolong jangan buat Astrid selalu menjadi penyebab masalah, ini juga gara-gara lo. Kita semua di sini punya kesalahan masing-masing! Jadi tolong saling menghargai!” tatapan Matthew sangat datar. Sama-sekali tidak ada ekspresi di sana. Dia tidak suka jika Aress menyalahkan Astrid. Hanya dia yang bisa melakukan hal itu, tidak dengan orang lain. “Bentar, lo berdua diam dulu. Keknya gue nemuin keganjilan yang ada di sini!” “Apa?” “Apa mungkin, setelah mata sebelah kiri sosok itu di tusuk, kepalanya juga dipenggal? Gue yakin kalo…” Christopher berhenti. Dia memperhatikan lurus di depan, dimana tembok yang tadi polos dan tidak ada apa-apa kini dinodai oleh darah. Keadaan semakin mencekam. Lia yang sedikit takut mencengkram tangan Aress sebelah. “Itu simbol apa?” Simbol yang di ukir dengan darah ada di tembok. Matthew membawa Astrid mendekat. Christopher juga ikut dengan mereka. Lia membantu Aress untuk mengetahui apa yang terjadi. Ternyata ada juga bagian yang tidak utuh di dalam tembok, tepat di tengah simbol yang diukir dengan darah. Astrid memiringkan kepalanya. “Matt, masukin Puzzlenya ke lobang itu!” “Lo yakin?” “Gak lah, kan coba-coba doang!” kekeh Astrid. Jawaban Astrid membuat Lia, dan juga Christoper sedikit lebih tenang. Setidaknya Astrid masih bisa berbicara konyol dengan gayanya sendiri. Matthew mengangguk, namun sebelum dia memasukkan puzzle kedua itu ke dalam lobang. Dia menatap Christopher dan Aress lebih dulu. “Ingat simbolnya, mungkin kita butuh simbol ini ntar!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN