Aress memilih untuk tetap berada di perpustakaan, dan membantu Astrid beserta Matthew mencari buku yang Astrid maksud. Sudah sekitar 30 menit berlalu, namun mereka tak kunjung menemukan buku itu. Aress merengganggan badannya yang sedikit terasas sakit. “Lo nemu gak, Trid?” “Gak, kenapa bukunya tidak ada ya? Apa mungkin buku itu sengaja disembunyikan jauh-jauh?” Bisa jadi pendapat Astrid benar. Sebab, sudah hampir semua rak buku mereka cari, namun tak satupun yang memberikan petunjuk mengenai keberadaan buku itu. Astrid mulai tidak sabar, dia menatap Matthew yang tetap seperti biasa. “Trid, mungkin kia lanjut nyari besok aja, kita harus tidur, jika tidak…lo jelas tahu kalau kita tidak berada dalam keadaan yang bisa tidur kapan saja.” Tangan Astrid yang sejak tadi berusaha untuk meraba-

