Sepulang dari Bali, sikap kami berdua jadi berubah. Khususnya diriku, sedang Ardo bersikap tetap tenang seperti biasanya. Astaga, apakah yang terjadi diantara kami tak mempengaruhinya?! Padahal aku menjadi gelisah dan galau begini karena perbuatannya! Berhadapan dengannya membuatku rikuh, karena spontan aku langsung teringat akan kejadian itu. Membuatku meremang bulu kudukku. Bukan ngeri, tapi malu. Jadi terbayang saat kami b******u liar dan saling meremas .. juga ketika tubuh kami menyatu. Ah, sial! Mengapa aku jadi menginginkannya? Tidak! Ini tak boleh terjadi. Sekali bisa dibilang kami khilaf, tapi lebih dari sekali namanya niat. Wajahku memanas menyadarinya. “Mengapa wajah Nona merah seperti kepiting rebus? Apa Nona sakit?” tanya Ardo yang kebetu

